Mereka Ada…
“Jauh Tertinggal di Tapal Masa Lalu”
Aku tatap sebuah keagungan di sana, sebuah tempat menapak nasib. Di sebuah ruang sempit yang telah puluhan tahun lebih bersanding dengan alam. Berdinding dedaunan yang terus menerus ditambal, walau masih terlihat lubang kecil kala matahari menerpa. Sebuah pohon kering berdiri gontai mengarah patah sebab tak terurus. Mungkin sudah lama pohon itu disana bersama seorang laki-laki tua kurus, renta berbalut kulit legam bersiluet rusuk. Ada sebidang ilalang mengeliling ruang reot itu. Dari kejauhan aku dengar suara kampak mengalun kokoh. Mengalihkan perhatianku padanya yang berambut putih tepat dibawah pohon itu.
Kala itu bunyi rerumputan begitu sedih menimang mataku yang hampir menangis menyaksikan sisi lain dunia ini dan dunianya termasuk duniaku. Aku menemuinya bukan tanpa alasan, sebab sebelumnya aku sudah mencari berita tentangnya. Awalnya aku ingin membuktikan sebuah realita yang tak kupercaya sungguh memalukan, tentang seorang yang disebut pahlawan.
Aku ingin tahu saja seperti apa bangsa ini menurut pahlawan itu. Aku begitu segan menyapanya kala itu. Aku takut akan mengganggu kerjanya yang terlihat sudah berpeluh keringat. Hari tu memang semakin siang dan begitu sepi di sekelilingnya. Tak kusadari ketika dia sudah menatapku dan aku berubah heran sekaligus takjub. Betapa tidak, di usia yang menurut kedewasaanku sudah renta ternyata memberiku sorot mata yang begitu hening dan sangat tulus. Di kejauhan ia menyapaku, “Ada apa nak, sedari tadi bapak perhatikan hanya berdiri melamun?”, tanyanya. Aku belum bergeming sampai akhirnya aku melemparkan senyum padanya. “Maaf kek, aku mengganggu”, jawabku.
Ketika kuhampiri, tiba-tiba ia mengulurkan tangannya yang kuperhatikan begitu kekar dengan urat-urat yang hampir keluar. Kulayangkan tanganku berjabat dan terasa begitu kasar namun hangat. Kujelaskan perihal kedatanganku untuk berbagi cerita tentang kisahnya dulu sebagai pejuang kemerdekaan sampai pada keadaannya sekarang.
Kumulai pertanyaanku pada kisahnya dulu. Aku kaget dengan pernyataan yang keluar dari mulutnya, “Nama Kakek Soedirja Tibelani, panggil saja Pak Dirja”, tandasnya. Sekejap saja aku malu, dan merasa tak punya sopan santun. “Maaf Kek, Aku Justian Cokro”, balasku cepat. Tanpa canggung, awal cerita kami mulai dengan tawa. Sebab kakek itu menceritakan salah satu perjuangannya yang konyol. Ia bercerita kala itu KNIL (Tentara Hindia Belanda) sedang mengadakan pemeriksaan terhadap semua warga pribumi. Waktu itu tempatnya di Wonosobo, saat itu semua warga begitu panik terburu-buru mendengar tembakan dari luar rumah. Sontak saja semua berhamburan dan segera berbaris di lapangan tak terkecuali sang kakek. Ternyata saat itu sang kakek hanya menggunakan sarung yang robek di bagian belakangnya. Lubangnya cukup besar, sebesar kepala. Tidak tahu kenapa komandan KNIL menyuruhnya maju dan diperintah untuk menyiapkan barisan. Namun keseriusan sang Komandan Tentara KNIL berubah jadi tawa yang keras. Tentu saja penyebabnya adalah sarung bolong milik sang kakek yang tepat mengahadap sang komandan.
Melanjutkan cerita, kumulai lagi dengan bertanya tentang seberapa penting bangsa ini bagi pejuang sepertinya. Dengan agak malas ia menuturkan, sebuah negara yang sudah memiliki cukup umur dan dewasa seharusnya dapat menjadi tempat mengadu rakyatnya. “Negara itu seperti bapak dan kita anak-anaknya. Ketika Ibu Pertiwi kita disakiti kepada ayah seharusnya kita mengadu. Ketika aduan kita ditanggapi dengan tak berperasan oleh ayah kita, kekecewaan yang akan kita terima”, katanya. “Aku tak mengerti Kek…..”, tanyaku.
*****
“Begini, jauh sebelum kita beroleh nama Indonesia, wilayah negara ini sudah jadi rebutan, itu sejak jaman kerajaan dulu, karena alamnya. Semakin maju seharusnya sebuah bangsa semakin bijak dan besar. Namun setelah merdeka dengan nama Republik Indonesia, mengapa justru jauh dari kemajuan dan kebesaran sebuah bangsa? Berbagai pergolakan yang timbul justru lebih banyak hadir dari dalam bangsa sendiri yang akhirnya diperalat oleh bangsa lain yang cerdas melihat keadaan. Luasnya hutan hijau kita kini tertebas uang pemodal asing dan menelantarkan masyarakat di dalamnya. Birunya lautan dengan ratusan jenis binatang langka di dalamnya telah menjadi komoditi perdagangan bangsa lain yang dihasilkan dengan membodohi kita. Tanah yang kita pijak yang diberikan pendahulu kita dulu kini harus kita bayar dengan aturan yang sangat keras, budaya semakin terdesak hingga akhirnya punah akibat kecanggihan teknologi luar negeri yang terus kita konsumsi, dan terang saja kita sampai detik ini tak punya kebudayaan nasional yang ada hanya kebudayaan daerah masing-masing yang lebih senang beradu domba ketimbang menciptakan perpaduan dua kebudayaan”, jelasnya.
Sampai disitu kakek melanjutkan ceritanya tentang bangsa ini, menurutnya bangsa ini adalah bangsa yang besar bahkan sangat besar di dunia. Sebuah kodrat yang seharusnya membahagiakan dengan alam yang melimpah. Hanya saja kemiskinan yang diciptakan mereka yang berkuasa kini, sungguh tak terlawan. Sesekali aku ke kota dan menyaksikan akibatnya, betapa sisi lain masyarakat kita kini terkikis semangat kemanusiaannya yang saling pengertian dan membutuhkan.
Mendengarnya, terbersit dalam pikiranku bahwa di sini (di negeri ini) hadir kehidupan yang seperti tak berjalan dan membuat kita hanya menatap pada kelelahan batin sambil berpikir payah sebuah kebanggaan terhadap negeri yang miskin sekaligus rakus.
Ketika kutanyakan apa itu pahlawan, dia berubah serius dan tegang. Dengan suara keras agak serak ia mengatakan, “Untuk melambangkan apa pahlawan itu dalam cerita-cerita sejarah? Siapa yang punya pandangan tentang hal ini? Sekarang jika kamu sebut saya pahlawan, apa artinya buatku? Sampai detik ini saya hanya bisa memandang keseluruhan dari cerita dongeng ini. Semua pejuang yang disebut pahlawan itu hanya memberi kita wawasan menuju pencarian sejarah. Intinya Pahlawan bagi kami yang tak pernah muncul untuk diakui, hanya sebagai simbol kelengkapan negara ini. Bahwa negara ini pernah berjuang untuk kemerdekaannya”.
Kembali wajah sang kakek dengan senyum berbingkai kerut wajahnya membuatku tenang, menghiasi suaranya yang sudah parau. Dia bilang sewaktu kecil, kita pun sering mendengar tentang sejarah hidup seorang pahlawan yang diceritakan sampai pada akhir perjuangannya. Tapi tak pernah ada yang bertanya, kini mereka kemana dan dimana serta bagaimana hidupnya dipenghujung hayatnya.
Kami terdiam seperti masuk ke dalam dunia yang sama tapi kosong. Sejenak kualihkan pandanganku melongok ke dalam gubuknya, tak kulihat sesuatu yang berharga. “Aku tak pernah berharap untuk dikenal, juga untuk dikasihani, tapi lihatlah mereka kini yang melenggak angkuh berpakaian rapih dan jumawa, sejenak saja melihat kami disini, memberi salam dan memberi kami pengakuan. Aku tak berpikir lagi akan hari esok dan bangsa ini, sebab aku hanya butuh makan disini untuk hari ini”, ucapnya memecah lamunanku.
Setelahnya dia menjelaskan yang sedang kupikirkan tentang generasiku kini, yang tak perlu angkat senjata dan berteriak-teriak anti penjajah dan anti kolonial. Semua telah aman dari penjajahan antar bangsa. Dengan semangat yang tiba-tiba dia bertutur tentang generasi. Dia menuturkan generasi tak hanya simbol atau sekedar sebutan dan status, ia adalah roda yang bersistem jika dijalankan dengan baik dan konsisten pada arah dan cita-cita kehormatan bangsa. Generasi bukan untuk dijual dan dibungkam, bukan juga untuk di paksa jadi pengkhianat. Ia juga bukan lingkar ekslusif yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan jangka panjang penguasa yang minim pengetahuan dan wawasan tentang bangsanya. Ia adalah jangkar dan tonggak perubahan yang diarahkan pada berubahnya sebuah tatanan dunia baru bagi bangsa dan rakyatnya. Lahir menjadi pahlawan-pahlawan baru sesuai jamannya dengan lebih lantang dan berani. “Sungguh cerdas kakek ini”, gumamku dalam hati.
Dengan lemas dan berat hati kusimpulkan kisahnya adalah tembang saksi hidup dari kebisuan masa lalu. Pengakuan sang kakek menyadarkan aku akan pemberian yang menurutku adalah gerbang pembebasan bagi kita -pada zamannya sampai pada zaman kita sekarang-.
Satu lagi, ungkapan Democritos (470 – 370 SM) yang pernah kubaca mungkin cocok dengan bangsa ini, “Halus dan kasar, dingin dan panas, warna-warna, semua itu hanya ada dalam persepsi manusia dan bukan dalam realitas. Yang nyata ada adalah partikel-partikel yang tak berubah, atom-atom dan gerakan-gerakannya dalam ruang hampa”. Kita yang mungkin sudah berjuta-juta kali menyebut kata “pahlawan” seringkali lupa makna dan salah kaprah. Sebab yang mungkin nyata adalah kita lebih mengenal pahlawan dalam cerita-cerita atau film-film impor ketimbang pejuang kita yang serba sederhana dan tradisional. Selain itu kita lebih senang dan bangga menggunakan wajah-wajah pahlawan bangsa lain ketimbang pendiri-pendiri bangsa kita.
Sebuah kesesatan yang dibelenggu oleh zaman dan terus diperalat dunia global terhadap satu bangsa, namanya Indonesia yang tak kunjung mengerti dan menghargai nasib dan keberadaan PAHLAWANNYA.
*****
