RSS

Arsip Kategori: Uncategorized

Mereka ada

Mereka Ada…

“Jauh Tertinggal di Tapal Masa Lalu”

Aku tatap sebuah keagungan di sana, sebuah tempat menapak nasib. Di sebuah ruang sempit yang telah puluhan tahun lebih bersanding dengan alam. Berdinding dedaunan yang terus menerus ditambal, walau masih terlihat lubang kecil kala matahari menerpa. Sebuah pohon kering berdiri gontai mengarah patah sebab tak terurus. Mungkin sudah lama pohon itu disana bersama seorang laki-laki tua kurus, renta berbalut kulit legam bersiluet rusuk. Ada sebidang ilalang mengeliling ruang reot itu. Dari kejauhan aku dengar suara kampak mengalun kokoh. Mengalihkan perhatianku padanya yang berambut putih tepat dibawah pohon itu.

Kala itu bunyi rerumputan begitu sedih menimang mataku yang hampir menangis menyaksikan sisi lain dunia ini dan dunianya termasuk duniaku. Aku menemuinya bukan tanpa alasan, sebab sebelumnya aku sudah mencari berita tentangnya. Awalnya aku ingin membuktikan sebuah realita yang tak kupercaya sungguh memalukan, tentang seorang yang disebut pahlawan.

Aku ingin tahu saja seperti apa bangsa ini menurut pahlawan itu. Aku begitu segan menyapanya kala itu. Aku takut akan mengganggu kerjanya yang terlihat sudah berpeluh keringat. Hari tu memang semakin siang dan begitu sepi di sekelilingnya. Tak kusadari ketika dia sudah menatapku dan aku berubah heran sekaligus takjub. Betapa tidak, di usia yang menurut kedewasaanku sudah renta ternyata memberiku sorot mata yang begitu hening dan sangat tulus. Di kejauhan ia menyapaku, “Ada apa nak, sedari tadi bapak perhatikan hanya berdiri melamun?”, tanyanya. Aku belum bergeming sampai akhirnya aku melemparkan senyum padanya. “Maaf kek, aku mengganggu”, jawabku.

Ketika kuhampiri, tiba-tiba ia mengulurkan tangannya yang kuperhatikan begitu kekar dengan urat-urat yang hampir keluar. Kulayangkan tanganku berjabat dan terasa begitu kasar namun hangat. Kujelaskan perihal kedatanganku untuk berbagi cerita tentang kisahnya dulu sebagai pejuang kemerdekaan sampai pada keadaannya sekarang.

Kumulai pertanyaanku pada kisahnya dulu. Aku kaget dengan pernyataan yang keluar dari mulutnya, “Nama Kakek Soedirja Tibelani, panggil saja Pak Dirja”, tandasnya. Sekejap saja aku malu, dan merasa tak punya sopan santun. “Maaf Kek, Aku Justian Cokro”, balasku cepat. Tanpa canggung, awal cerita kami mulai dengan tawa. Sebab kakek itu menceritakan salah satu perjuangannya yang konyol. Ia bercerita kala itu KNIL (Tentara Hindia Belanda) sedang mengadakan pemeriksaan terhadap semua warga pribumi. Waktu itu tempatnya di Wonosobo, saat itu semua warga begitu panik terburu-buru mendengar tembakan dari luar rumah. Sontak saja semua berhamburan dan segera berbaris di lapangan tak terkecuali sang kakek. Ternyata saat itu sang kakek hanya menggunakan sarung yang robek di bagian belakangnya. Lubangnya cukup besar, sebesar kepala. Tidak tahu kenapa komandan KNIL menyuruhnya maju dan diperintah untuk menyiapkan barisan. Namun keseriusan sang Komandan Tentara KNIL berubah jadi tawa yang keras. Tentu saja penyebabnya adalah sarung bolong milik sang kakek yang tepat mengahadap sang komandan.

Melanjutkan cerita, kumulai lagi dengan bertanya tentang seberapa penting bangsa ini bagi pejuang sepertinya. Dengan agak malas ia menuturkan, sebuah negara yang sudah memiliki cukup umur dan dewasa seharusnya dapat menjadi tempat mengadu rakyatnya. “Negara itu seperti bapak dan kita anak-anaknya. Ketika Ibu Pertiwi kita disakiti kepada ayah seharusnya kita mengadu. Ketika aduan kita ditanggapi dengan tak berperasan oleh ayah kita, kekecewaan yang akan kita terima”, katanya. “Aku tak mengerti Kek…..”, tanyaku.

*****

“Begini, jauh sebelum kita beroleh nama Indonesia, wilayah negara ini sudah jadi rebutan, itu sejak jaman kerajaan dulu, karena alamnya. Semakin maju seharusnya sebuah bangsa semakin bijak dan besar. Namun setelah merdeka dengan nama Republik Indonesia, mengapa justru jauh dari kemajuan dan kebesaran sebuah bangsa? Berbagai pergolakan yang timbul justru lebih banyak hadir dari dalam bangsa sendiri yang akhirnya diperalat oleh bangsa lain yang cerdas melihat keadaan. Luasnya hutan hijau kita kini tertebas uang pemodal asing dan menelantarkan masyarakat di dalamnya. Birunya lautan dengan ratusan jenis binatang langka di dalamnya telah menjadi komoditi perdagangan bangsa lain yang dihasilkan dengan membodohi kita. Tanah yang kita pijak yang diberikan pendahulu kita dulu kini harus kita bayar dengan aturan yang sangat keras, budaya semakin terdesak hingga akhirnya punah akibat kecanggihan teknologi luar negeri yang terus kita konsumsi, dan terang saja kita sampai detik ini tak punya kebudayaan nasional yang ada hanya kebudayaan daerah masing-masing yang lebih senang beradu domba ketimbang menciptakan perpaduan dua kebudayaan”, jelasnya.

Sampai disitu kakek melanjutkan ceritanya tentang bangsa ini, menurutnya bangsa ini adalah bangsa yang besar bahkan sangat besar di dunia. Sebuah kodrat yang seharusnya membahagiakan dengan alam yang melimpah. Hanya saja kemiskinan yang diciptakan mereka yang berkuasa kini, sungguh tak terlawan. Sesekali aku ke kota dan menyaksikan akibatnya, betapa sisi lain masyarakat kita kini terkikis semangat kemanusiaannya yang saling pengertian dan membutuhkan.

Mendengarnya, terbersit dalam pikiranku bahwa di sini (di negeri ini) hadir kehidupan yang seperti tak berjalan dan membuat kita hanya menatap pada kelelahan batin sambil berpikir payah sebuah kebanggaan terhadap negeri yang miskin sekaligus rakus.

Ketika kutanyakan apa itu pahlawan, dia berubah serius dan tegang. Dengan suara keras agak serak ia mengatakan, “Untuk melambangkan apa pahlawan itu dalam cerita-cerita sejarah? Siapa yang punya pandangan tentang hal ini? Sekarang jika kamu sebut saya pahlawan, apa artinya buatku? Sampai detik ini saya hanya bisa memandang keseluruhan dari cerita dongeng ini. Semua pejuang yang disebut pahlawan itu hanya memberi kita wawasan menuju pencarian sejarah. Intinya Pahlawan bagi kami yang tak pernah muncul untuk diakui, hanya sebagai simbol kelengkapan negara ini. Bahwa negara ini pernah berjuang untuk kemerdekaannya”.

Kembali wajah sang kakek dengan senyum berbingkai kerut wajahnya membuatku tenang, menghiasi suaranya yang sudah parau. Dia bilang sewaktu kecil, kita pun sering mendengar tentang sejarah hidup seorang pahlawan yang diceritakan sampai pada akhir perjuangannya. Tapi tak pernah ada yang bertanya, kini mereka kemana dan dimana serta bagaimana hidupnya dipenghujung hayatnya.

Kami terdiam seperti masuk ke dalam dunia yang sama tapi kosong. Sejenak kualihkan pandanganku melongok ke dalam gubuknya, tak kulihat sesuatu yang berharga. “Aku tak pernah berharap untuk dikenal, juga untuk dikasihani, tapi lihatlah mereka kini yang melenggak angkuh berpakaian rapih dan jumawa, sejenak saja melihat kami disini, memberi salam dan memberi kami pengakuan. Aku tak berpikir lagi akan hari esok dan bangsa ini, sebab aku hanya butuh makan disini untuk hari ini”, ucapnya memecah lamunanku.

Setelahnya dia menjelaskan yang sedang kupikirkan tentang generasiku kini, yang tak perlu angkat senjata dan berteriak-teriak anti penjajah dan anti kolonial. Semua telah aman dari penjajahan antar bangsa. Dengan semangat yang tiba-tiba dia bertutur tentang generasi. Dia menuturkan generasi tak hanya simbol atau sekedar sebutan dan status, ia adalah roda yang bersistem jika dijalankan dengan baik dan konsisten pada arah dan cita-cita kehormatan bangsa. Generasi bukan untuk dijual dan dibungkam, bukan juga untuk di paksa jadi pengkhianat. Ia juga bukan lingkar ekslusif yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan jangka panjang penguasa yang minim pengetahuan dan wawasan tentang bangsanya. Ia adalah jangkar dan tonggak perubahan yang diarahkan pada berubahnya sebuah tatanan dunia baru bagi bangsa dan rakyatnya. Lahir menjadi pahlawan-pahlawan baru sesuai jamannya dengan lebih lantang dan berani. “Sungguh cerdas kakek ini”, gumamku dalam hati.

Dengan lemas dan berat hati kusimpulkan kisahnya adalah tembang saksi hidup dari kebisuan masa lalu. Pengakuan sang kakek menyadarkan aku akan pemberian yang menurutku adalah gerbang pembebasan bagi kita -pada zamannya sampai pada zaman kita sekarang-.

Satu lagi, ungkapan Democritos (470 – 370 SM) yang pernah kubaca mungkin cocok dengan bangsa ini, “Halus dan kasar, dingin dan panas, warna-warna, semua itu hanya ada dalam persepsi manusia dan bukan dalam realitas. Yang nyata ada adalah partikel-partikel yang tak berubah, atom-atom dan gerakan-gerakannya dalam ruang hampa”. Kita yang mungkin sudah berjuta-juta kali menyebut kata “pahlawan” seringkali lupa makna dan salah kaprah. Sebab yang mungkin nyata adalah kita lebih mengenal pahlawan dalam cerita-cerita atau film-film impor ketimbang pejuang kita yang serba sederhana dan tradisional. Selain itu kita lebih senang dan bangga menggunakan wajah-wajah pahlawan bangsa lain ketimbang pendiri-pendiri bangsa kita.

Sebuah kesesatan yang dibelenggu oleh zaman dan terus diperalat dunia global terhadap satu bangsa, namanya Indonesia yang tak kunjung mengerti dan menghargai nasib dan keberadaan PAHLAWANNYA.

    *****

 
Leave a comment

Posted by pada November 25, 2008 in Uncategorized

 

Albert Einstein

Albert Einstein

Mengapa Sosialisme?


Versi Online: Situs Indo-Marxist—Situs Kaum Marxist Indonesia, Februari 2002
Kontributor: Soeripto
Versi Inggris: Why Socialism?–by Albert Einstein


Apakah pantas bagi seseorang yang bukan merupakan pakar di bidang persoalan sosial dan ekonomi mengemukakan pandangannya berkaitan dengan sosialisme? Karena berbagai alasan, saya yakin hal itu pantas saja dilakukan.

Pertama-tama marilah kita menganalisa pertanyaannya dari sudut pandang ilmu pengetahuan ilmiah. Terlihat memang tidak ada perbedaan metodologi yang esensial antara astronomi dan ekonomi: ilmuwan dari kedua disiplin ilmu itu mencoba untuk menemukan hukum-hukum umum yang dapat diterima sebagai sekelompok alasan yang dapat menjelaskan suatu fenomena dalam rangka untuk menghubungkan fenomena-fenomena tersebut dengan sejelas-jelasnya. Tapi pada kenyataannya beberapa perbedaan metodologi memang ada. Penemuan hukum-hukum umum dalam bidang ekonomi disulitkan oleh keadaan dimana pengamatan gejala-gejala ekonomi sering dipengaruhi oleh banyak faktor yang juga sangat sukar untuk dievaluasi secara terpisah. Selain itu, pengalaman yang telah terakumulasi sejak awal masa yang dikenal dengan periode ‘peradaban dari sejarah umat manusia’ telah banyak dipengaruhi dan dibatasi oleh sebab-sebab yang tidak bertujuan ekonomi semata. Contohnya, sebagian negara-negara besar dalam sejarah menunjukkan eksistensinya dengan menjajah. Para penjajah tersebut mengokohkan dirinya, baik secara hukum dan ekonomi, sebagai kelas yang istimewa pada negara yang dijajahnya. Mereka menetapkan secara sepihak monopoli kepemilikan tanah dan menunjuk seorang pemuka agama dari golongan mereka sendiri. Dalam mengatur pendidikan, pemuka agama telah membuat pembagian kelas dalam masyarakat menjadi institusi permanen, dan menciptakan sebuah sistem nilai yang mana masyarakat mulai –secara tidak sadar dalam banyak hal– diatur tingkah laku sosialnya.

Tetapi apakah dalam sejarah kita benar-benar telah dapat mengatasi apa yang Thorstein Veblen katakan sebagai “fase pemangsa” dalam perkembangan manusia. Fakta ekonomi yang dapat diamati dan juga merupakan bagian dari fase tersebut, bahkan hukum-hukum yang diperoleh dari fase itu tidak dapat diterapkan untuk fase-fase lain. Karena tujuan utama dari sosialisme tepatnya adalah untuk mengatasi dan jauh melampaui “fase pemangsa” dalam perkembangan manusia, ilmu ekonomi dalam perkembangannya kini dapat memberikan sedikit penerangan bagi masyarakat sosialis di masa mendatang.

Kedua, sosialisme diarahkan untuk mencapai etika-sosial (social-ethical) sebagai tujuan akhir. Walau bagaimanapun ilmu pengetahuan tidak dapat membuat tujuan akhir, dan bahkan, hanya dapat digunakan manusia secara bertahap: ilmu pengetahuan, utamanya, dapat memberikan cara bagaimana mencapai tujuan akhir tertentu. Tetapi tujuan akhir itu sendiri berada dalam pikiran seseorang yang memiliki etika idealis tinggi dan –jika tujuan akhir ini belum dikembangkan lebih jauh, akan tetapi penting dan kuat– diadopsi dan dikembangkan oleh banyak manusia yang, setengah sadar, menentukan evolusi masyarakat secara lambat.

Dengan alasan tersebut, kita harus tetap waspada untuk tidak terlalu berharap lebih pada ilmu pengetahuan dan metode ilmiah manakala pertanyaan tersebut berkaitan dengan persoalan manusia: dan kitapun seharusnya tidak menganggap para pakar sebagai satu-satunya yang berhak untuk mengemukakan tentang pertanyaan seputar organisasi sosial dalam masyarakat.

Banyak suara yang menyatakan beberapa saat ini bahwa masyarakat sedang melalui krisis, dimana stabilitasnya secara serius telah terganggu. Ini merupakan karakteristik dari suatu situasi dimana seseorang merasa tidak peduli atau bahkan menjadi tidak ramah apabila berada di dalam grup, besar atau kecil, dimana mereka bergabung. Dalam rangka untuk menggambarkan maksud saya, maka saya berikan pengalam pribadi saya. Baru-baru ini saya berdiskusi dengan seorang pria yang sangat pandai dan ramah, tentang ancaman adanya perang, yang menurut saya akan sangat membahayakan keberadaan umat manusia, juga saya tegaskan bahwa hanya sebuah organisasi supra-nasional yang dapat memberikan perlindungan dari bahaya tersebut. Kemudian rekan saya itu menjawab dengan santai dan tenang, bahwa: “mengapa kamu begitu menentang pemusnahan umat manusia?” Saya yakin bahwa berabad-abad yang lampau tidak ada seorangpun yang akan membuat pernyataan semacam ini. Ini merupakan pernyataan dari seseorang yang telah berjuang keras namun sia-sia untuk memperoleh keseimbangan dalam dirinya sendiri dan kurang lebih menjadi putus asa. Ini mrupakan ekspresi dari kesendirian yang menyedihkan dan terasing dari masyarakat banyak yang saat ini sedang menderita. Apa sebabnya? Adakah jalan keluarnya?

Memang mudah untuk memunculkan pertanyaan semacam itu, tetapi sulit untuk menjawabnya dengan jaminan apapun. Saya harus mencoba, biar bagaimanapun, semampu saya, walaupun saya sadar akan fakta bahwa perasaan dan kemampuan kita kadangkala bertentang dan tidak mudah dipahami, hal tersebut tidak dapat diungkapkan dengan cara yang singkat dan mudah.

Manusia, pada satu keadaan dan waktu yang sama, adalah seorang mahluk penyendiri dan mahluk sosial. Sebagai mahluk penyendiri ia berusaha untuk melindungi keberadaannya dan yang terpenting untuknya adalah memuaskan keinginan pribadinya, dan untuk mengembangkan bakatnya. Sebagai mahluk sosial, ia berusaha untuk memperoleh pengakuan dan dicintai oleh sesama manusia, untuk membagi kebahagiaan, untuk membuat nyaman mereka di kala sedih, dan untuk meningkatkan taraf hidup. Hanya saja eksistensi dari hal-hal tersebut sangat bergantung, kadang bertentangan, bergantung pada karakter pribadi manusia tersebut dan kombinasi khusus tersebut menentukan sampai sejauh mana seseorang dapat mencapai keseimbangan pribadi dan dapat memberikan sumbangan bagi kehidupan masyarakat. Sangat dimungkinkan bahwa kedua kekuatan ini, terutama digabungkan karena memang melekat padanya. Akan tetapi kepribadian yang pada akhirnya muncul sebagian besar terbentuk: oleh pengaruh lingkungan dimana manusia tersebut mengalaminya sendiri selama proses perkembangannya, oleh struktur masyarakat dimana ia dibesarkan, oleh budaya dari masyarakat, dan oleh penghargaan yang diperolehnya atas tingkah laku tertentunya. Konsepsi abstrak “masyarakat” bagi manusia perseorangan adalah keseluruhan hubungan langsung maupun tidak langsung atas masyarakat yang hidup pada masa yang sama atau pada masa sebelumnya. Individu tertentu dapat berpikir, merasakan, berjuang dan bekerja bagi dirinya sendiri, akan tetapi ia sebenarnya bergantung pula pada masyarakat –baik secara fisik, intelektual, dan emosional– sehingga sangat mustahil memikirkannya atau memahaminya di luar kerangka masyarakat. Adalah masyarakat yang menyediakan manusia dengan makanan, pakaian, rumah, perkakas, bahasa, pola pikir dan hampir sebagian isi dari pemikirannya: hidupnya menjadi nyata setelah bekerja dan berhasil sukses sejak jutaan tahun lampau dan hingga kini dimana semua hal tersebut tersembunyi di balik sebuah kata “masyarakat”.

Itu adalah bukti, karenanya, ketergantungan seseorang terhadap masyarakat adalah fakta alamiah yang tidak dapat dihilangkan–sama seperti kasus semut dan kumbang. Walau demikian, ketika seluruh proses kehidupan semut dan kumbang telah ditetapkan hingga sampai detil terkecil secara kaku, pola masyarakat dan hubungan satu sama lain dari umat manusia sangat beragam dan sangat mungkin berubah. Ingatan, kapasitas untuk membuat kombinasi baru, suatu anugrah berupa kemampuan komunikasi oral telah memungkinkan suatu perkembangan umat manusia dimana hal ini tidak ditentukan oleh kebutuhan biologis. Beberapa perkembangan ditunjukkan dalam tradisi, institusi dan organisasi, dalam literatur, keberhasilan penelitian dan rekayasa, dalam hasil-hasil kesenian. Ini menunjukkan bagaimana hal tersebut dapat terjadi bahwa, dalam keadaan tertentu, manusia dapat dipengaruhi hidupnya oleh tingkah lakunya sendiri, dan dimana dalam proses ini kesadaran berpikir dan keinginannya dapat pula ikut berperan.

Manusia sejak lahir memiliki, melalui keturunan, suatu struktur biologis yang mana harus kita pandang sebagai hak yang melekat dan tidak dapat dicabut, termasuk kebutuhan alamiah sebagaimana layaknya manusia pada umumnya. Selain itu, selama hidupnya, ia memiliki suatu struktur kebudayaan yang ia peroleh dari masyarakat melalui komunikasi dan melalui pengaruh-pengaruh dalam bentuk-bentuk lain. Struktur kebudayaan ini, seiring dengan perjalanan waktu, dapat berubah dan sangat ditentukan oleh hubungan antara seseorang dengan masyarakatnya. Antropologi modern, mengajarkan kita, melalui penelitian perbandingan atas kebudayaan primitif, bahwa tingkah laku sosial manusia dapat dibedakan, tergantung pada pola-pola budaya yang berlaku pada umumnya dan bentuk-bentuk organisasi yang mendominasi di masyarakat. Berdasarkan hal ini maka mereka berupaya untuk membantu bahwa banyak manusia yang mendasarkan harapannya: bahwa karena struktur biologisnya, manusia tidaklah bersalah, untuk membinasakan sesamanya atau berada di bawah kekejaman kekuasaan, adalah merupakan keyakinan pribadinya.

Bila kita bertanya pada diri kita sendiri bagaimana struktur masyarakat dan tingkah laku budaya manusia seharusnya diubah untuk membuat kehidupan manusia lebih memuaskan, kita harus selalu sadar bahwa terdapat kondisi-kondisi tertentu yang tidak dapat kita ubah. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sifat alamiah manusia adalah, untuk kepentingan praktis, tidak dapat dirubah. Selain itu, teknologi dan perkembangan demografi pada beberapa abad terakhir telah menciptakan kondisi-kondisi yang saat ini telah ada. Pada dasarnya perbandingan kepadatan populasi yang menetap dengan jumlah barang yang tidak dapat digantikan guna kelangsungan hidupnya, jumlah pembagian distribusi tenaga kerja dan tingginya jumlah aparat yang produktif adalah suatu keharusan. Saat –dimana pada masa lalu tampaknya begitu damai– telah hilang untuk selamanya ketika individu atau kelompok-kelompok kecil dapat sepenuhnya mandiri. Ini hanya sedikit membesar-besarkan bahwa umat manusia membentuk suatu komunitas kehidupan dari produksi dan konsumsi.

Saat ini saya telah mencapai suatu titik dimana dapat saya indikasikan secara jelas bagi saya apa yang menjadi esensi dari krisis saat ini. Hal itu berkaitan dengan hubungan antara indivisu dengan masyarakat. Individu menjadi lebih sadar daripada sebelumnya akan ketergantungan kepada masyarakat. Tetapi ia tidak menyadari bahwa ketergantungan ini sebagai suatu aset berharga, suatu ikatan organik, suatu tenaga pelindung, tetapi lebih cenderung sebagai ancaman terhadap hal-hal alamiahnya, atau bahkan atas kondisi ekonominya. Lebih jauh, posisinya dalam masyarakat lebih ditekankan terus-menerus dalam bentuknya dimana lebih ditentukan oleh sifat egoisnya, ketimbang ditentukan oleh alur sosialnya, yang mana secara alamiah memang lebih lemah, yang terus menerus mengalami pembusukan. Seluruh umat manusia, apapun posisinya di masyarakat, mengalami penderitaan dalam proses pembusukan. Tanpa disadari mereka terpenjara dalam egoismenya sendiri, perasaan takut, kesendirian dan secara naif takut kehilangan, sederhana dan tidak rumit menjalani hidup. Menusia dapat menemukan arti dalam kehidupan, pendek dan berisiko sebagaimana layaknya, hanya melalui pengabdian dirinya dalam masyarakat.

Anarki ekonomi dari masyarakat kapitalis sebagaimana yang terjadi saat ini, menurut pendapat saya adalah sumber utama dari kejahatan. Kita lihat sebelumnya terdapat komunitas besar dari suatu produsen suatu anggota yang terus berupaya agar dapat memperoleh buah dari hasil kerja samanya, tanpa adanya paksaan, tetapi secara keseluruhan berada dalam jaminan hukum yang berlaku. Dalam kaitan ini, penting untuk disadari bahwa tujuan produksi -sebagaimana disebut, seluruh kemampuan produktif yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang kebutuhan utama sebagaimana pentingnya pula membuat barang-barang penting lainnya- menurut pendapat saya adalah kepemilikan pribadi dari para individu.

Untuk memudahkan, dalam diskusi selanjutnya saya akan menyebut “pekerja” kepada semua yang tidak ikut memiliki apa yang menjadi tujuan-tujuan produksi walaupun hal ini tidak cukup berhubungan dengan pengertian dalam bentuk umum. Pemilik dari tujuan-tujuan produksi berada dalam posisi untuk membeli tenaga kerja dari para pekerja. Dengan menggunakan tujuan-tujuan produksi, para pekerja menciptakan barang-barang baru yang menjadi milik para kapitalis. Hal utama dari proses ini adalah hubungan antara apa yang pekerja telah hasilkan dengan apa yang telah ia peroleh (upah), dua hal ini menjadi ukuran dalam kaitannya dengan nilai sesungguhnya. Sepanjang kontrak kerja adalah ‘bebas’, apa yang diperoleh pekerja tidak ditentukan oleh nilai sesungguhnya dari barang-barang yang dihasilkannya, tetapi oleh kebutuhan minimum dan oleh kebutuhan kapitalis akan tenaga kerja dalam kaitannya dengan jumlah pekerja yang bersaing untuk bekerja. Hal ini penting untuk dipahami bahwa walaupun pada tataran teori pembayaran para pekerja tidak ditentukan oleh nilai dari hasil produksinya.

Modal swasta cenderung untuk terus terkonsentrasi pada beberapa tangan, terutama karena kompetisi di antara para kapitalis, dan terutama karena perkembangan teknologi dan pertumbuhan pembagian kerja menumbuhkan formasi unit-unit yang lebih besar dengan pengeluaran semakin kecil. Hasil dari perkembangan-perkembangan ini adalah oligarki dari modal swasta sebagai kekuatan besar yang tidak dapat diawasi secara efektif walau oleh mayarakat politik yang terorganisir secara demokratis sekalipun. Hal ini benar, sebab anggota dari badan-badan legislatif merupakan pilihan dari partai-partai politik, yang sebagian dibiayai atau paling tidak dipengaruhi oleh kapitalis swasta yang mana, untuk kepentingannya, memisahkan antara pemilih dengan yang dipilih. Konsekuensinya adalah wakil rakyat tersebut kenyataannya tidak sepenuhnya melindungi kepentingan kelompok populasi yang tidak diistimewakan. Lebih jauh, sejalan dengan kondisi saat ini, kapitalis swasta tidak dapat dihindari mulai mengontrol, baik langsung maupun tidak, sumber-sumber utama dari informasi (pers, radio, pendidikan). Hal ini tentunya menjadi sangat sulit, dan bahkan dalam banyak kasus menjadi mustahil, bagi seseorang warga negara untuk dapat memperoleh kesimpulan yang obyektif dan dapat secara cermat menggunakan hak-hak politiknya.

Situasi yang terjadi dalam dunia ekonomi yang berbasiskan kepemilikan modal swasta memiliki karakteristik yang terdiri dari dua prinsip utama: Pertama, tujuan-tujuan produksi (modal) yang dimiliki oleh swasta dan pemiliknya menempatkannya sejauh ia memandang hal itu pantas. Kedua, kontrak kerja itu bebas. Tentu saja, tidak ada sesuatu yang merupakan masyarakat kapitalis murni dalam hal ini. Dalam hal tertentu, patut pula diperhatikan bahwa pekerja, melalui perjuangan politik yang panjang dan pahit, telah sukses dalam mengamankan apa yang disebut perbaikan bentuk atas “kontrak kerja bebas” bagi kategori pekerja tertentu. Tetapi secara keseluruhan, saat ini ekonomi tidak ada bedanya dengan kapitalis “murni”.

Produksi ditujukan untuk memperoleh keuntungan, bukan untuk dipakai. Tidak ada suatu ketentuan bahwa semua yang mampu dan mau bekerja dapat selalu berada di posisi untuk memperoleh pekerjaan; sebuah ‘pasukan pengangguran’ selalu saja ada. Pekerja berada dalam keadaan cemas takut kehilangan pekerjaannya. Karena pengangguran dan upah buruh yang rendah tidak dapat menyediakan pangsa pasar yang menguntungkan, produksi barang-barang konsumsi dibatasi, dan penderitaan besar adalah konsekuensinya. Perkembangan teknologi seringkali menyebabkan lebih banyak pengangguran daripada meringankan beban pekerjaan. Motif untuk keuntungan, dalam kaitannya dengan kompetisi di antara kapitalis, bertanggung jawab atas ketidakstabilan dalam akumulasi dan penggunaan modal yang pada akhirnya meningkatkan beban depresi yang parah. Kompetisi tanpa batas menjadikan penyia-nyiaan pekerjaan dan menyebabkan kepincangan kesadaran sosial individu sebagaimana telah saya uraikan sebelumnya.

Kepincangan individu ini saya anggap sebagai kejahatan terburuk dari kapitalisme. Seluruh sistem pendidikan kita menderita karena setan ini. Suatu sikap kompetisi yang berlebihan tertanam dalam benak setiap pelajar, yang diajarkan semata-mata untuk memperoleh kesuksesan sebagai persiapan untuk masa depannya. Saya yakin hanya ada satu jalan untuk menghilangkan setan jahat ini, yaitu dengan menciptakan suatu ekonomi sosialis, disertai dengan sistem pendidikan yang dapat diorientasikan untuk mencapai tujuan sosial. Dalam bentuk ekonomi, tujuan-tujuan produksi dimiliki oleh masyarakat itu sendiri dan digunakan dengan terencana. Suatu ekonomi terencana, yang menyesuaikan produksi sesuai kebutuhan masyarakat, akan membagi pekerjaan untuk diselesaikan oleh semua yang mampu bekerja dan dapat menjamin tujuan hidup seluruh manusia, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak. Pendidikan dari setiap individu, dalam rangka menambah kemampuan lahiriahnya, akan mencoba untuk mengembangkan dalam dirinya rasa tanggung jawab atas sesama umat manusia di tempat yang lebih baik dan sukses dalam masyarakat kita saat ini.

Walau demikian, ada suatu hal penting untuk diingat bahwa ekonomi yang terencana belumlah langsung menjadi sosialisme. Suatu ekonomi terencana dapat disertai dengan perbudakan individu secara lengkap. Pencapaian sosialisme membutuhkan solusi yang sangat sulit atas beberapa problem sosial politik: Bagaimana mungkin, dalam pandangan kekuatan politik dan ekonomi terpusat yang sangat berpengaruh, untuk mencegah para birokrat menjadi terlalu berkuasa dan terlalu percaya diri? Bagaimana hak-hak individu dapat dilindungi dan dengan demikian keseimbangan demokratis dengan kekuasaan birokrasi dapat dijamin?

Kejelasan akan tujuan dan permasalahan sosialisme adalah sangat signifikan dalam masa peralihan ini. Sejak, dalam kondisi saat ini, diskusi yang bebas dan tidak terbendung mengenai masalah-masalah ini telah menjadi suatu hal yang sangat tabu, saya berpendapat landasan dari majalah ini akan sangat penting bagi kepentingan publik.


 
Leave a comment

Posted by pada September 4, 2008 in Uncategorized

 

Soal Negeri

SOAL NEGERI
Negeriku dalam sengsara dan hujat
Laut penderitaan dan sungai darah
Kekuasaan semu tanpa kiblat
Di tengah rakyat penuh nanah hampir musnah

Penguasa acuh dalam tumpukan materi
Siapa peduli pada sesama?
Demokrasi dan reformasi lebih baik sudahi
Daripada terapung hidup dalam fatamorgana

 
Leave a comment

Posted by pada Juli 14, 2008 in Uncategorized

 

Tinggal Cerita

TINGGAL CERITA

Bagiku negeri ini tak lagi indah
Semua kemolekan ibu pertiwi
Telah ditutupi keserakahan
Kemunafikan dan dusta

Dan…
Bagiku penguasa tak lain adalah penjajah
Yang tak pernah menangis melihat tanah ini
Di antara perang, kemiskinan, dan kebodohan
Dan kupercaya janji – janji itu memang laknat

Apa dan siapa kini jelas kulihat
Kebobrokan negeri oleh penguasa lama
Yang enggan tertunduk untuk keadilan
Yang selalu berjuang untuk kata – kata
Dan khianat pada akhirnya

 
Leave a comment

Posted by pada Juli 14, 2008 in Uncategorized

 

Jejak

hari ini hari yang melelahkan bagiku
terkadang ku merasa menyerah
selalu terjerumus dalam ketakutanku
lari jauh dari semua ini

sampai kapan ini berlanjut
tak ada siapa-siapa lagi dalam hidupku
aku ingin mengenal dunia lain
tak mungkin aku lari dan terperanjat

kala rembulan hilang selalu ku merenung
menghayati semua perjalanan terdahulu
semua kudapatkan dari hidupku
ini bukan pilihanku

tak mungkin aku tersesat
malam seakan bersatu dengan pandanganku
siapa yang akan ku percaya?
selalu kutunggu masa-masa yang dalam khayalanku
terima kasih malam kelabu

 
Leave a comment

Posted by pada Juli 12, 2008 in Uncategorized

 

belum ada judul

temukanlah sebuah karya yang mampu menjernihkan hidup ini
hidup yang penuh dengan dusta dan penghianatan
yang dipercaya telah berhianat
yang berjanji sering ingkar

tak ada manusia yang ada dan perlu dipercaya
yang lama kini kian jelas
tentang apa dan siapa kini telah jelas
kapitalis kini bebas merampas dan menindas

segan akan pemerintah
tidak… lebih baik jadi apatis
kepala akan pecah dan menjadi gila
kalau berpikir

semua pembuat kecewa bagi jiwa dan pikiran
walau perlu untuk takut akan maut
janji yang terbersit dalam dada
semua telah hilang oleh materi pengangkat derajat dan penyempurna kekuasaan

derita yang kita terima selama hidup
kesakitan dan air mata yang kita tuntut ini
adalah yang dulu pernah kita berikan dengan tawa dan kegembiraan
demi kesenangan sesaat semua yang kita pertahankan telah kita gadaikan

senyum itu tak akan ada lagi seperti yang di ucapkan bapak Marx
yang dituduh komunis tapi karyanya tetap di puji
bukankah itu lebih baik

kita semua telah di bohongi oleh para pendusta penghuni segala zaman
untuk apa menuntut dan bertanya karena kita pun sama seperti mereka
yang tetap mencari materi dengan iri hati dan kebencian
tak setuju akan keberhasilan orang lain
tak pernah puas akan apa yang telah dimilikinya

segala yang kita tahu simpan saja sambil menunggu ajal ini
karena itulah yang terbaik bagi semua
hilang dan musnah
biar tuhan yang menentukan siapa yang akan tetap hidup dalam dunia dan negara ini

tapi jangan kita lagi….

 
Leave a comment

Posted by pada Juli 12, 2008 in Uncategorized

 

PeEsKa

Malam kembali hanyut ke pelukan gelap
Sisi kelam jiwa teduhkan air mata
Tak kala kembali ke peraduan nista

Dingin malam menjadi saksi abadi
Anak Hawa di tikungan jalan penjaja birahi
Menunggu iba para hidung belang
Sekedar penyambung hidup menjalang

Tak ada laut tuk berbagi rasa dan cerita
Berlalu meneruskan esok tanpa rasa
Kemudaan usia tinggal sayatan kehidupan
Menunggu datang jamuan pembebasan

Inilah sebuah ruang kesunyian
Yang tak pernah siap dihadapi
Aku mengerti Tuhan
Tak ada yang layak ditangisi

 
Leave a comment

Posted by pada Juli 12, 2008 in Uncategorized

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
1 Comment

Posted by pada Desember 11, 2007 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.