Perenungan Alam Sadar
Thimur Putra Negara kian hari kian merasakan sesaknya kerusakan terhadap kebebasan. Awalnya pemuda belia ini mengiyakan bahwa kebebasan adalah anugerah yang harus dilandasi tanggung jawab. Asa dan keinginannya untuk membalikkan kekecewaannya terhadap kebebasan belum terpenuhi.
Pertanyaan besar yang sering muncul dalam kedinginan nuraninya adalah bahwa kebebasan ini adalah kelangkaan yang mempengaruhi pola pikir dan idealismenya. Kontradiksi Ketuhanannya kini harus beradu dengan idealisme yang selalu ia bela. Asumsi yang besar pengaruhnya adalah filsafat hidup kesehariannya.
Semakin lama, ia semakin yakin bahwa kebebasan hanya dalil untuk menyingkirkan norma dan aturan formil. Ia merasa relasi manusia dan masyarakatnya merupakan bagian penghilangan tradisionalisme budaya menuju “barat-isme” secara berkesinambungan.. Pengaruh gaya hidup, individualis dan perilaku kapitalis dalam ikatan liberalisme membuatnya ikut berpaling.meninggalkan “prosesi nuansa ketimuran” yang kian lama bertambah kuno. Kuno karena perilaku bangsanya sendiri
Kebebasan baginya adalah kesempatan dari kesalahan institusi yang dilahirkan oleh birokrasi buatan yang sifatnya permanen, institusi yang tidak lagi mengacu pada etika dan aturan yang proporsional. Kekecewaannya lagi muncul ketika perasaannya dikoyak oleh kebebasan terhadap penghargan materi dan persekawanan. Dengan materi (harta), dunia ini seolah dapat diatur yang sebenarnya tak dapat “bicara”.
Kini kebebasan yang tertinggal hanya kebebasan mengikuti globalisasi metropolis. Tak ada norma, tak ada batasan, hanya keyakinan intuisi keuntungan individu terhadap asumsi benar atau salah. Di dalam otaknya, untaian kebebasan sebenarnya hanya jeritan keprihatinan yang telah mendarah daging.
Kepercayaannya terhadap nilai-nilai keagamaan, membuat kepercayaannya luntur, karena kata religius kini hanya bagian pembenaran dari kepentingan dan keuntungan politis. Dalam hati ia terus bertanya, apa jadinya jika setiap aspek politis harus terkait dengan nilai keagamaan, begitu juga dengan aspek sosial, ekonomis dan segala tetek bengeknya?.
Pembenaran yang dapat ia andalkan hanyalah keuntungan bagi dirinya sendiri, sama halnya dengan pikiran orang lain. Kebebasan adalah hak asasi yang seharusnya mempunyai batasan. Analogi seperti itu yang selalu ingin ia ungkapkan. Dalam hal ini ia rela membenarkan situasi aliran anarkisme, dimana kebebasan begitu terasa karena lahir dari kesepakatan diantara masyarakat yang tanpa pemimpin, namun semuanya berjalan melalui penghargaan yang tinggi terhadap kebebasan dan persamaan.
Putra Negara kini menjadi orang yang paling apatis terhadap kebebasan, karena menurutnya kebebasan kini telah menjadi bagian dari kelalaian tanggung jawab. Ia sering menempatkan bahwa kebebasan lebih layak diberikan kepada binatang. Binatang yang walau tak di beri akal pikiran tetap mampu menjaga simbiosis dan kelangsungan habitatnya. Dalam realita, saat kebebasan ada, penguasa membatasi, padahal sebenarnya batasan diberlakukan karena adu domba berbagai kepentingan. Contoh konkrit menurutnya adalah separatisme dalam negara, terlihat sekali olehnya bahwa ini adalah pertentangan kepentingan pro dan kontra. Besar kemungkinan penguasa yang ada juga kesalahan dari kebebasan yang ambigu.
Selimut menuju kebebasan adalah lahirnya persamaan. Saat seseorang tak punya sesuatu, dengan cepat kebebasannya di “kebiri”, namun seseorang dengan materi selalu menghasilkan negoisasi yang berujung pada pelanggaran terhadap kebebasan lagi. Lontaran kritik terhadap kebebasan yang tak lagi ingin ia tanyakan adalah jika benar kebebasan adalah hak setiap insan lalu dimanakah letak kebebasan itu sebenarnya?
Putra Negara dalam petualangan yang menurutnya adalah dunia yang tak utuh lebih memilih diam dalam kelelahan hati yang terus berontak, jantung yang terus berdegup hingga memunculkan phobia. Ia pun sadar bahwa wujud kepengecutannya ini merupakan isyarat ketidakberdayaannya menghadapi kenyataan yang paling pahit. Dalam rasa kekecewaan bercampur keputusasaan yang begitu mendalam, ia akan terus memendam kesesakan itu hingga keberanian dan api yang terus menyala dalam hatinya berkobar di saat yang tepat. Tentunya harapan ini bukan lagi dilaksanakan olehnya melainkan orang-orang yang tersadar dan teringat bahwa kegelisahan ini juga bagian dari diri mereka (juga kita).
Inilah kalimat terakhirnya, sebelum ia mati, “ Andai sangkar tertutup tak berlubang, tentu tak akan terlihat kemunafikan dunia dan andai yang dilempar dapat kembali tentu itu hanya bingkai sejarah”..
Kebebasan adalah kebusukan kepentingan individu dan kelompok yang melahirkan degradasi kemanusiaan.
Sadari, renungkan dan bergeraklah agar aku pun bahagia dan tenang disana.
*****