Surat Edaran Marx dan Engels

Marx's Gravestone in Highgate, LondonLudwig Feuerbach dan Akhir Filsafat Klasik Jerman

Friedrich Engels (1886)


Ditulis oleh Engels untuk edisi tersendiri bukunya Ludwig Feuerbach dan akhir filsafat klasik Jerman, yang terbit di Stuttgart dalam tahun 1886. Diterbitkan menurut teks buku itu.

Diedit oleh Ted Sprague (June 2007)


I: Hegel

II: Materialisme dan Idealisme

III: Feuerbach

IV: Dialektika Materials


Kata pengantar

Dalam kata pendahuluan pada Sumbangan kepada Kritik terhadap Ekonomi Politik, yang diterbitkan di Berlin dalam tahun 1859, Karl Marx menceriterakan bagaimana dalam tahun 1845 di Brussels, kami berdua mulai “menyusun bersama pendirian kami” – konsepsi materialis tentang sejarah yang diolah secara mendetail terutama oleh Marx – “yang akan dipertentangkan dengan pendirian ideologi filsafat Jerman, sesungguhnya, untuk mengadakan perhitungan dengan hati nurani filsafat kami yang dahulu. Maksud itu dilakukan lewat bentuk kritik terhadap filsafat sesudah-filsafat-Hegelian. Manuskripnya, dua jilid besar ukuran oktavo, telah lama sampai di tempat penerbitannya di Westfalen ketika kami menerima berita bahwa keadaan yang berubah tidak memungkinkan penerbitannya. Kami dengan lebih rela menyerahkan manuskrip itu kepada kritik tikus, yang memakan manuskrip itu, karena kami telah mencapai tujuan kami yang utama – penjelasan-sendiri.”

Sejak itu lebih daripada 40 tahun telah berlalu dan Marx meninggal dunia sebelum salah satu di antara kami mempunyai kesempatan kembali pada persoalan itu. Kami telah menyatakan pendirian kami di berbagai tempat mengenai hubungan kami dengan Hegel, tetapi di tempat manapun tidak pernah dalam penguraian yang lengkap dan bersambung. Kembali ke Feuerbach, yang bagaimanapun dalam banyak hal merupakan mata rantai penghubung antara filsafat Hegel dengan konsepsi kami, kami tidak pernah.

Sementara itu, pandangan dunia Marxis telah mendapatkan wakil-wakilnya jauh di luar perbatasan Jerman dan Eropa serta di dalam semua bahasa literer di dunia ini. Di pihak lain, filsafat klasik Jerman sedang mengalami semacam kelahiran kembali di luar negeri, terutama di Inggris dan Skandinavia, dan di Jerman sendiripun orang mulai merasa bosan dengan makanan eklektisisme yang pantas hanya bagi pengemis, yang dijejalkan di dalam universitas-universitas di negeri itu dengan nama filsafat.

Dalam keadaan yang seperti itu, suatu penguraian singkat, bersambung tentang hubungan kami dengan filsafat Hegel, tentang bagaimana kami bertolak daripadanya serta bagaimana kami berpisah dengannya, bagi saya terlihat semakin diperlukan. Begitu pula, pengakuan sepenuhnya terhadap pengaruh Feuerbach, lebih daripada ahli filsafat lainnya sesudah-filsafat-Hegelian, pada kami selama periode yang penuh dengan badai dan tekanan, bagi saya terlihat sebagai hutang kehormatan yang belum dilunasi. Maka itu, saya dengan senang hati menggunakan kesempatan ketika redaktur Neue Zeit meminta kepada saya suatu tinjauan kritis terhadap buku Starcke tentang Feuerbach. Sumbangan saya itu diterbitkan di dalam nomor 4 dan 5 tahun 1886 majalah itu dan sekarang terbit sebagai penerbitan tersendiri dalam bentuk yang sudah diperbaiki.

Sebelum tulisan ini dikirimkan ke percetakan saya sekali lagi mengadakan penyelidikan yang seksama dan melihat-lihat manuskrip lama tahun 1845-1846. Bagian yang berhubungan dengan Feuerbach belum diselesaikan. Bagian yang sudah selesai mencakup penguraian mengenai konsepsi materialis tentang sejarah yang hanya membuktikan betapa masih tidak lengkapnya pengetahuan kami tentang sejarah ekonomi pada saat itu. Ia tidak mengandung kritik tentang ajaran Feuerbach itu sendiri; maka itu, untuk maksud sekarang ini, ia tidak dapat digunakan. Di pihak lain, di dalam buku catatan lama Marx saya telah menemukan sebelas tesis tentang Feuerbach yang dalam penerbitan ini dimuat sebagai lampiran. Tesis itu adalah catatan-catatan yang secara tergesa-gesa dicoretkan untuk kemudian diolah, dan untuk diterbitkan, tetapi pertama yang di dalamnya terkandung benih-benih yang brilyan dari pandangan dunia baru.

Friedrich Engels
London, 21 Februari 1888.


I. Hegel
Karya-karya Marx + Engels | Séksi Bahasa Indonesia M.I.A. | Cross-language Index

Ludwig Feuerbach dan Achir Filsafat Klasik Jerman

IV – Dialektika Materials

Strauss, Bauer, Stitner, Feuerbach – sedjauh mereka tidak meninggalkan lapangan filsafat – adalah tjabang2 filsafat Hegelian. Strauss, sesudah tulisannja Kehidupan Jesus dan Dogmatika, menghasflkan hanja studi2 literer dalam filsafat dan sedjarah kegeredjaan á la Renan. Bauer hanja mentjapai sesuatu dilapangan sedjarah asal-usul agama Kristen, meskipun apa jang dia lakukan disini adalah penting. Stirner tetap seorang jang aneh, meskipun sesudah Bakunin mentjampur dia dengan Proudhon dan memasang merek “anarkisme” pada tjampuran itu. Feuerbach sendirdah jang mempunjai artipenting -sebagai seorang ahlifilsafat. Tetapi bagi dia filsafat – jang dinjatakan membubung tinggi diatas segala ilmu chusus dan mendjadi ilmunja ilmu jang menghubungkan mereka – tetap merlupakan bukan hanja suatu rintangan jang tak dapat ditembus, benda sutji jang tak dapat diganggugugat, tetapi sebagai seorang ahlifilsafatpun dia berhenti ditengah djalan, seorano materialis dibawah dan seorang idealis diatas. Dia tidak sanggup membuang Hegel lewat kritik; dia begitu sadia melemparkannja kesamping sebagai tak berguna, sedang dia sendiri, dibandung dengan kekajaan ensiklopedis sistim Hegelian, tidaklah mentjapai sesuatu jang positif ketjuali agama jang uluk2 tentang tjinta dan moral jang kerdil, jang tak berdaja.

Akan tetapi, dari tertjerai-berainja mazhab Hegelian berkemba-nglah satu aliran lain lagi, satu2nja aliran jang telah menghasilkan buah jang njata. Dan aliran itu pada hakekatnja. berhubungan dengan nama Marx. [4-1]

Pernisahan dari filsafat Hegelian disini adalah djuga akibat kembali kependirian materialis. Artinja diputuskan tintuk rneniahami dunia njata – alam dan sedjarah – persis seperti ia memperlihatkan diri kepada Eetiap orang jang mendekatinja, jang bebas, dari rekaan-rekaan bulus idealis jang sudah ditetapkan sebelumnja. Diputuskan untuk dengan tak kenal belaskasihan mengorbankan setiap rekaan2 bulus, idealis jang tak dapat disetaraskan dengan fakta2 jang dikenal dalam saling-huhungannja sendiri dan bukan dalam saling-hubtingan jang fantastik. Dan inaterialisme berarti tidak lebih daripacta itu. Tetapi, disini untuk pertama kali pandangan-dunia diterima benar2 setjara sleritis dan dilaksanakan setjara konsekwen – sekurang2nja dalam tjiri2 dasarnja – disemua bidang pengetahuan jang bersangktitan.

Hegel tidak dikesampingkan begitu sadja. Sebaliknia. orang memulai dari segi revolusionernja, seperti jang diuraikan diatas., dari metode dialektik. Tetapi dalam bentuk Hegeliannja metode itu tidak dapat dipakai. Menurut Hegel, dialektika adalah perkembangan-sendiri dari konsepsi. Konsepsi absolut tidak hania ada – diempat jang tidak diketahui – untuk selamalamanja, ia merupakan pula djiwa hidup jang sebenarnja dari seluruh dunia jang ada. Ia berkembang mendjadi dirinja sendiri melalui semua tingkat pendahuluan jang dengan pandjang-lebar dibitjarakan dalam Logika dan jang semuania termuat didalamnja. Kemudian ia “mendjelmakan” dirinja dengan berubah mendiadi alam. dimalia, tanpa memiliki kesedaran akan diri sendiri, menjamar sebagai kehartisan alam, ia mengalami perkembangan barti dan achirnja kembali lagi kekesedaratidiri pada manusia. Kesedaran-diri itu lalu mengei-nbangkan dirinja lagi dalani sedjarah dari bentuk jang kasar samoai achirnja konsepsi absolut kembali lagi kedirinja-sendiri selengkapnja dalam filsafat Hegel. Karena itu, menurtit Hegel, perkembangan dialektik jang nimpak dalam alam dan sedjarah, jaitu, salinghubungan sebab-akibat dari gerak progresif dari jang rendah ke jang lebih tinggi, jang menjatakan diri melalai segala gerak jang ber-iliku2 dan kemunduran 2 mentara, hanjalah merupakan suatu salinan (Abklatsch) dari gerak-sendiri dari konsepsi jang berlangsung untuk selama-lamanja, tak seiorangpun jang tahu dimana, tetapi bagaimanaptin djuga bebas dari sesuatu otak manusia jang berfikir. Pemutarbalikan ideologi ini mesti dilenjapkan. Kita mengartikan konsepsi2 didalam kepala kita sekali lagi setjara materialis – sebagai baiangan (Abbilder) halichwal njata, bukannja memandang halichwal njata sebagai bajangan tingkat ini atau tingkat itu dari konsepsi absolut. Dengan begitu dialektika membatasi dirinja sebagai ilmu tentang hukum2 umum gerak baik dari dunia luar maupun dari fikiran manusia – dua stel hukum jang identik dalam isi pokoknja, tetapi beda dalam pernjataannja karena fikiran manusia bisa mentrapkannja setjara sedar, sedangkan dalam alam dan djuc.Ta sarnpai sekarang untuk sebagian besar dalam sedjarah manusia, hukum2 itu menjatakan diri setjara tak sedar, dalam bentuk keharusan luar, di-tengah2 rentetan jang tak ada achirnja dari kedjadian 2 jang seolah2 kebetulan. Dengan demikian dialektika konsepsi itu sendiri mendjadi pentjerminan jang sedar belaka dari gerak dialektik dunia njata dan dengan begitu dialektika Hegel ditempatkan dikepalanja.; atau lebih baik, dari kepalanja, tempat ia berdiri, didjiungkirbalikkan dan diletakkan dikaikinja. Dan dialektika materials ini, jang ber-tahun2 telah mendjadi alat kerdja kita jang terbaik dan sendjata kita. jang paling tadjam, anehnja, ditemukan btikan hanja oleh kita tetapi djuga, tak tergantung pada kita,dan bahkan pada Hegel, oleh seorang buruh Djerman, Joseph Dietzgen. [4-2]

Akan tetapi, dengan begini segi revolusioner filsafat Hegelian dipungut kembali dan bersamaan itu kan dari tambahan 2 idealis jang pada Hegel telah merintangi pelaksanaannja setjara konsekwen. Fikirain fundamental jang besar bahwa dunia semestinja tidak difahami sebagai suatu kumpulan rumit dari halichwal jang sudah djadi, tapi sebagai stiatu kumpulan rumit dari proses2 mana halichwal kelihatannja tidak kurang stabilnja daripada bajangannja dalam fikiran didalam kepala kita, jaitu konsepsi2, mengalami pertibahan2 mendjadi dan inelenjap jang tak putus2nja, dalam perubahan inana, kendatipun terdapat segala jang tampaknja kebetulan dan segala keintindtiran sementara. namun perkembangan progresif menjatakan diri pada achirnia – fikiran fundamental jang besar ini, terutama sedjak zaman Hegel, telah setjara begitu menjeluruh menjerapi kesedaran biasa sehingga idalam arti kelumuman itu sekarang ia hampir tidak dibantah. Tetapi, mengakui fikiran fundamental ini dalam kata2 dan mentrapkannja dalam kenjataan setjara detail pada tiap2 bidang penjelidikan adalah dua hal jang berlainan. Akan totapi, djika penjelidikan selalu bertolak dari pendirian itu, maka tuntutan akan penjelesaian2 jang terachir dan kebenaran2 abadi berhenti untuk se-lama2nja; orang selalu sedar akan keterbatasan jang sudah semestinja dari semua pengetahuan jang telah diperoloh, sedar akan kenjataan bahwa pengetahuanditenbukanoleh keadaanp dimana ia diperdleh. Difihak lain, orang tidak lagi membiarkan dirinja diperdaia oleh antitese2, jang ta teratasi oleh metafisika lama jang masih umum, jaitu antara benar dan palsu, baik dan buruk, kesamaan dan perbedaan, keharusandan kebetulan. Orang tabu baihwa berlakunja antitese2 ini hanja setjara relzitif sadja; bahwa apa jang sekarang diakui sebagai benar djuga mempunjai segi palsunja jang latent jang kemudian akan memperlihatkan diri, persis seperti apa jang sekarang, dipandang sebagai palsu mempunjai segi benarnji pula jang oleh karenanja sebelumnja ia bisa dipandang sebagai benar. Orang tahu bahwa apa jang dipertahankan sebagai keharusan terdiri dari kedjadian2 kebetulan bedaka dan bahwa apa jang dinamakan kebetulan adalah bentuk jang ddbelakangnja bersembunji kaharusan dan demikian seterusnja.

Metode penjelidikan dan pemikiran lama jang oleh Hegel dinamakan “metafisik”, jang lebih suka meneliti halichwal sebagai jang gudah ditentukan, tetap dan stabil, suatu metode jang sisa2nja masih keras menggoda fikiran orang, mempunjai banjak pembenaran sedjaraft pada zamannja. Adalah perlu untuk lebih dulu meneliti hadichwal sebelum orang mungkin meneliti proses2nja. Orang iharus lebih dulu mengetahui apa suatu hal chusus itu sebelum orang dapat mengamati perubahan2 jang dialaminja. Dan demikianlah halnja dengan ilmu2 alam. Metafisika lama, jang menerima halichwal sebagai benda-benda jang selesai, timbul -dari ilmu2 agam jang menjelidiki haliohwal mati dan hidup sebagai benda2 jang selesai. Tetapi ketika penjeli,dikan ini telah madju begitu djauh sehingga mendjadi miungkin untuk mengambil langkah madju jang menentukan, jaitu, beralih pada penjelidikan jang sistimeitis mengenai perubahan2 jang dialami oleh hadichwal2 itu – didalam alam itu sendiri, maka djam terachir dari metafisika lama berbunji dilapangan filsafat djuga. Dan sebenamja, sementara ilmu2 alam hingga achir abad jang lalu lebih banjak merupakan ilmu jang menghimpun, suatu ilmu dari halichwal2 jang selesai, pada abad kita ini ia pada hakekatnja merupakan ilmu jang mensistimatiskan, suatu ilmu tentang proses2, tentang asalusul dan perkembangan halichwal2 itu dan tentang saling-hueoungan jang mengikat semua proses alam itu mendjadi suatu keseluruhan jang besar. Fisiologi, jang menjelidiki proses2 ang terdjadi didalam tumbuh-tumbuhan dan organisme2 binatang; embriologi, jang berurusan dengan perkembangan sa:tu2 organisms dari benih sampai tua; geologi, jang menjelidiki pembentukan permukaan bumi setjara ber-angsur2 – kesemuanja ini adalah anak zaman kita.

Tetapi, diatas segala-galanja, ada tiga penemuan besar jang telah memungkin pengetahuan kita tentang saling-hubungan diantara proses2 alam madju dengan sangat pesatnja : pertama, penemuan sel sebagai unit jang dari pergandaannja dan diferensiasinfa seluruh tubuh tumbuh2an binatang berkembang, sehingga bukan hanja perkembangan dan pertumbuhan semua organisme jang lebih tinggi diakui berlangsung menurut satu hukum umum, tetapi djuga, dalam kapasitet sel untuk berubah, ditundjukkanlah djalan dengan mana organisme2 bisa mengubah djenis2nja dan dengan begitu mengalami perkembangan jang lebih daripada perkembangan individuilnja. Kedua, perubahan energi, jang telah mendemonstrasikan kepada kita bahwa semua jang dinarnakan kekuatan jang bekerdja per-tama2 dadam alam anorganis – tenaga mekanik dan pelengkapnja, apa jang dinamakan energi potensiil, panas, radiasi (sinar, atau panas sinar), listrik, magnetisme dan tenaga kimia – adalah bentuk2 lain darb manifestasi gerak universil, jang pindah dari jang satu ke jang lain dalam proporsi2 tertentu sehingga sebagai ganti kwantitet tertentu dari jang satu jang melenjap, muntjullah kwantitet tertentu -dari jang lain dan dengan begdtu seluruh gerak gam didjadikan proses transformasi jang tia,da putus2nja dati bentuk jang satu mendjadi bentuk jang lain. Achirnja, bukti jang mula2 dikembangkan oleh Darwin dalam bentuk jang berangkaian bahwa prodtuk2 organik dari alam jang mengelilingi kita jang ada hingga kind, termasuk umatmanusia, adalah hasil proses evolusi jang lama dari ketiambah2 jang semula bersel-satu jang sedikit djumlahnja dan bahwa ketjambah2 itupun lahir dari protoplasma atau eiwit, jang terwudjud lewat tjara2 kimiawi.

Berkat tiga penemuan besar itulah dan berkat kemadjuan2 lainnja jang sangat besar dibddang ilmu2 alam, maka kita sekarang telah mentjapai titik dimana kita dapat mempertundjukkan saling-hubungan diantara proses2 dalam alam bukan hanja di-lapangan2 ohusus sadja tapi djuga saling-hubungan diantara lapangan2 chusus itu keseluruhannja, dan makaitu dengan barituan fakta2 jang diberikan oleh ilmu2 alam empirisis itu sendiri dapat mengemukakan dalam bentuk jang kuranglebih sisumatis suatu pandangan jang luas tentang salinghubungan dildalam alam. Dulu, adalah bugas dari apa jang dinamakan filsafat alam memberikan pandangan jang luas itu. Ia dapat melakukan hal itu hanja dengan menempatkan saling-hubungan2 jang idiil, jang dichajalkan, sebagai ganti saliing-hubungan2 jang njata tapi jang masih belum diketahui- dengan mengisi fakta2 jang kurang dengan rekaan2 fikiran sadja dan mendjembatani djurang2 jang sesungguhnja hanja dalam angan2. Dalam prosedur tini ia telah mentjiptakan banjak ide jang bri lian dan membajangkan banjak penemuan kemudiannja, tetapi ia djuga menghasilkan omongkosong jang djumlahnja amat banjak, jang memang tidak bisa lain. Kini, ketika orang perlu memahami hasil2 penjelidikan ilmu2 alam hania setjara dialektik, jaitu, dalam arti saling-hungannja sendiri, agar supaja sampai pada suatu “sistim alam” jang mentjukupi bagi zaman kita; ketika watak dialektik dari saling-hubungan itu mendesakkan diri bertentangan dengan kemauan mereka bahkan kedalam fikiran2 para sardjana alam jang terlatih sctjara metafisik, kini setjara pasti filsafat alam disisihkan. Setiap pertjobaan untuk menghidupkannja kembili bukan sadja akan mubasir tapi djuga akan mertupakan suatu langkah mundur.

Tetapi apa jang berlaku bagi alam, jang dengan begitu diakui pula sebaigai proses sedjarah dari perkembangan, berlaku djuga bagi sedjarah masjarakat dalam semua tjabangnja, dan bagi keseluruhan semua ilmu jang bekerdja dibidang halichwal insani (dan ketuhanan). Disinipun, filsafat sedjarah, hukum, agama, dll., dimasa lampau terdiri dari penggantian sainghubungan jang njata jang harus diperlihatkan didalam kedjadian2 dengan saling-hubungan jang di-karang2 didalam fikiran ahlifilsafat; terdiri dari pemahaman sedjarah sebagai keseluruhan maupun dalam bagian2nja jang tersendiri2, sebagai perwudjudan ide2 setjara berangsur2 – dan tentu sadja selamanja hanja ide2 kesajangan ahlifilsafat itu senddri. Menlurut ini, sedjarah bekerdja setjara tak sedar tapi menurut koharusan menudju suatu tudjuan idiil tertentu jang sudah ditetapkan sebelumnja – seperti, misalnja, menurut Hegel, menudju terwudjudnja ide absolutnja – -dan arah jang tak dapat ber-ubah2 menudju ide absolut itu merupakan saling-hubungan intern dalam kedjadian2 sedjarah. Suatu pandangan kedepan baru jang penuh kerahasiaan – jang taksedar atau setjara ber-angsur2 berubah mendjadi kesedaran dengan begitu menggantikan saling-hubungan jang njata, jang masih belum dikenal. Karena itu disini, persis seperti,dilapangan alam djuga, perlu meniadakan salinghubungan2 reka-rekaan, bikin-bikinan, dengan menemukan saling-hubtungan2 jang njata – suatu itugas jang achirnja sama dengan menemukan hukum2 umum gerak jang menampilkan diri sebagai jang berkuasa dalam sedjarah masjarakat manusia.

Akan tetapi, dalam salu hal, sedjarah perkembangan masjarakat ternjata pada hakekatnja berbeda dengan perkembangan alam. Dalam alam – sedjauh kita mengesampingkan reaksi manusia tedhadap alam – hanjalah terdapat kekuatan2 buta tanpa kesedaran jang ber-tindak satusamalain, dan dari saling-bertindak,itu mulailah berlaku hukum umum itu. Dari segala jang terdjadi – baik mengenai kedjadian2 jang kelihatannja kebetulan jang tak terhitung djumlahnja, jang dapat terlihat pada permukaannja, maupun mengenai hasil2 terachir jang membenarkan keteraturan jang terkandung didalam kebetulan2 ini – tidak satupun jang terdjadi sebagai tudjuan jang diinginkan setjara sedar. Sebaliknia, dalam sedjarah masjarakat pelaku2 kesemuanja dianugerahi dengan kesedaran, adalah orang2 jang beritindak dengan pertimbangan atau nafsu, jang bekerdja kearah tudjuan2 tertentu; tak ada jang terdjadi itanpa makstid jang sedar, tanpa suatu tudjuan jang dikehendaki. Tetapi perbedaan ini, sekalipun penting bagi penjelidikan sedjarah terutama penjelidikan mengenai suatu zaman dan kedjadian2, tidak dapat mengubah fakta bahwa djalannja sedjarah dikuasai oleh hukum2 intern jang umum. Karena disini djuga, pada umumnja, kendatipun terdapat vudjuan2 semua perseorangan jang setjara sedar diinginkan, nimun lahiriah kebetulan kelihatinnja menguasa. Apa jang dikehendaki terdjadi tapi djarang; dalam kebanjakan hal tudjuan2 jang diinginkan jang baniak djumlahnja itu menghalangi dan berbentrok satusamalain, atau tudjuan2 itu sendiri sedjak awalnja takdapat dilaksanakan atau alat2 untuk mentjapainja taktjukup. Dengan begitu bentrokan2 diantara kemauan2 individuil dan tindakan2 individual jang tak terhitung banjaknja itu dibidang sedjarah menghasilkan keadaan jang sepenuhnja sama dengan keadaan jang berlaku dilapangan alam jang taksedar. Tudjuan2 tindakan2 itu dikehendaki, tetapi hasil2 jang benar2 lahir dari tindakan2 itu tidak dikehendaki; atau apabila hasil2 itu betul2 tampak sesuai dengan tudjuan jang dikehendaki, hasil2 itu achirnja inempunjai akibat2 jang lain samasekali dengan jang dimaksudkan. Dengan demikian pada umumnja nampak bahwa kedjadian2 sedjarah dikuasai djuga coleh kebetulan. Tetapi dimana lahiriah kebetulan berkuasa, sebenarnja disitu selamanja berkuasa hukum2 intern jang tersembunji dan soalnja hanjalah menemukan hukum2 itu.

Manusia membuat sedjarahnja sendiri, apapun djuga hasilnja, karena masing2 orang mengedjar tudjuannja sendiri jang setjara sedar diinginkan, dan djustru resultan dari banjak kemauan ini jang beroperasi dalam djurusan jang ber-beda serta pengaruhnja jang bermatjam 2 terhadap dunia luar jang merupakan sedjarah. Dengan begitu soalnja adalah pula soal apa jang diinginkan oleh banjak individu. Kemauan ditentukan oleh ilafsu atau pertimbangan. Tetapi pengaruh2 jang segera menentukan nafsu atau pertimbangan sangat bermatjammatjam. Sebagian dari pengaruh2 itu mungkin beberapa objek2 luar, sebagian motif2 idiil, ambisi, “kegairahan akan kebenaran dan keadilan”, kebentjian pribadi aitaupun segaila matjam tingkah-olah perseorangan se-mata 2. Tetapi, disatu fihak, telah kita lihat bahwa kemauan2 individuil jang banjak itu jang aktif dalam sedjarah sebagian besar membawa hasil2 jang lain sekali dengan jang dimaksudkan – seringkali samasekali kebalikannja; bahwa, karena itu, motif2 mereka, dalam hubungan dengan hasil seluruhnja, djuga mempunjai arti sekunder sadja. Difihak lain, pertanjaan selandjutnja jang timbul Kekuatan2 pendorong apakah jang pada gilirannja berdiri. dibelakang motif2 itu ? Sebab2 sedjarah apakah jang mengubah dirinja mendiadi motif2 itu didalam otak para pelaku?

Materialisme lama tak pernah mengadjukan pertanjaan itu kepada dirinja. Karena itu, konsepsinja tentang sedjarah, djikapun ia mempunjai satu konsepsi, pada hakekatnja adalah pragmatik; ia mempertimbangkan segalasesuatunja menurut motif2 sesuatu tindakan; ia membagi orang2 jang bertin,dak didalam sedjarah, kedalam jang mulia dan jang hina dan kemudian berbendapat bahwa biasanja jang mulia ditipu dan jang hina menang. Dari itu, kesimptaan materialisme lama jalah bahwa tak ada jang bermanfaat betul jang akan diperoleh dari mempeladjari sedjarah, dan bagi kita jalah bahwa dilapangan sedjarah materialisme lama mendjadi tak setia pada dirinja sendiri sebab ia mengambil ke-kuatan2 pendorong idiil jang berlaku disitu sebagai sebab2 terachir, bukannja meneliti apa jang dibelakang kekuatan2 itu, apa jang mendjadi kekuatan2 pendorong dari kekuatan2 pendorong itu. Ketidakkonsekwenan itu tidak terletak dalam kenjataan bahwa kekuatan2 pendorong idiil itu diakui, tetapi ctdlam hal bahwa penje lidikan i-tu tidak dilakukan djauh kebelakang kekuatan2 pendorong ididl itu, jaitu sampai kepada sebab2 jang mendjadi motifnja. Difithak lain, filsafat sedjarah terutama seperti jang diwakili oleh Hegel, mengakui bahwa motif2 jang tersurat dan djuga jang sungguh2 berlaku dari orang2 jang bertindak dalam sedjarah bukanlah sekali2 sebab2 terachir dari kedjadian2 sedjarah; bahwa dibelakang motif2 itu ada kekuatan2 penggerak lainnja jang harus ditemukan. Tetapi ia biak mentjari kekuatan-kekuatan itu didalam sedjarah itu sendiri, dia lebih suka mengimpornja dari luar, dari ideologi filsafat, kedalam sedjarah. Hegel, misalnja, bukannja menerangkan sedjarah Junani kuno dari saling-hubungan2 internja sendiri, tetapi dengan begitu sadja meniatakan -bahwa sedjarah itu tidaklah lebih daripada pengolahan “bentuk2 kepribadian jang indah”, perwudjudan “karja seni” jang seperti itu. Dalam hubungan ini dia bitjara tentang hal2 jang baik dan mendalam mengenai orang2 Junani kuno, tetapi hal2 itu tidak mentjegah kita kini menolak tintuk dikatjaukan oleh keterangan sedemikian itu, keterangan jang merupakan, suatu gaja bitjara belaka.

Karena itu, apabila soalnja adalah soal menjelediki kekuatan2 pendorong jang – setjara sedar atau taksedar, dan memang sering sekali setjara taksedar – terletak dibelakang motif2 orang2 jang bertindak dalam sedjarah dan jang mertupakan kekuatan2 pendorong terachir jang njata dari sedjarah, maka soalnja bukadlah sebegitu banjak soal motif2 satu2 orang, betapapun terkemukanja dia, itapi soalnja adalah soal motif2 jangmenggerakkan massa luas, seluruh bangsa2, dan pula, seluruh klas2 dikalangan Rakjat masing2; dan inipun bukan untuk seketika sadja, bukan njala api-djerami jang tak abadi dan jang tjepat padam, tetapi tindakan jang lestari jang mengakibatkan perubahan sedjarah jang besar. Menetapkan sebab-sebab pendorong jang, disini didalam fikiran massa jang bertindak beserta pemimpin2 mereka – apa jang dinamakan orang2 besar – ditjerminkan sebagai motif2 sedar, setjara terang atau takterang, setjara langsung atau dalam bentuk ideologi, bahkan dalam bentuk jang diagungkan – inilah satu2nja djalan jang dapat membawa kita kepada djedjak hukum2 jang berkuasa baik dalam sedjarah pada keseluruhannja maupun pada periode2 chusus dan di-negeri2 chusus. Segalasesuatu jang menggerakkan manusia mesti melalui fikiran mereka; tetapi bentuk apa jang akan diambilnja didalam fikiran itu akan sangat banjak tergantung pada keadaan2 . Kaum buruh samasekali tidak mendjadi berdamai dengan industri mesin kapitalis, walaupun mereka tidak lagi begitu sadja menghantjurkan mesin-mesin seperti jang masih mereka lakukan dalam 1849 di Rhein.

Tetapi sementara dalam semua periode jang terdahulu penjelidikan tentang sebab2 pendorong sedjarah itu hampir tak mungkin – karena saling-hubungan 2 jang rumit den tersembunji antara sebab2 itu dengan akibat2n periode kita jang sekarang ini sebegitu djauh telah menjederhanakan saling-hubungan2 itu sehingga, teka-teki itu dapat didjawab. Sedjak industri besar2an dibangun, jaitu, se-kurang2nja sedjak perdamaian Eropa 1815, sudah tidak merupakan rahasia lagi bagi, siapapun di Inggris bahwa seluruh perdjuangan politik di sana berpu,tar disekitar tuntutan2 atas kekuasaan dari dua klas : kaum ningrat jang bertanah dan burdiuasi (klas tengah). Di Perantjis, dengan kembalinja keluarga Bourbons, fakta ja,ng sama terli-hat; para ahlisedjarah dari periode Restorasi, mulai dari Thierry sampai pada Guizot, Mignet dan Thiers, di-mana2 berbitjara tentang ini sebagai kuntji un,tuk memahami seluruh sedjarah Perantjis sedjak Zaman Tengah. Dan sedjak 1830 klas buruh, proletariat, telah diakui dikedua negeri itu sebagai saingan ketiga bagi kekuasaan. Keadaan2 telah me ndjadi begitiu disederhanakan sehingga orang mesti dengan sengadja menutup mata untuk tidak melihat kekuatan pendorong dari sedjarah modern didalam perdjuangan diantara ketiga klas besar itu dan didalam bentrokan. kepentingan2 mereka – se-kurang2nja didua negeri jang paling madju itu.

Tetapi bagaima-fialxah lahirnja klas2 ini ? Djika sepintaslalu masih mungkin menjatakan bahnwa milik tanah feodal besar jang terdabulu – se-kurang2nja pada awal mulanja – berasal dari sebab2 politik, dari pemilikan dengan kekerasan, maka hal itu tak dapat dinjatakan mengenai burdjuasi dan proletariat. Disinti asal dan perkembangan dua klas besar itu nampak dengan djelas dan njata terletak pada sebab2 ekonomi semata2. Dan adalah djustru sama djelasnja bahwa dalam perdjuangan antara milik tanah dengan burdjuasi, tidak kurang daripada dalam perdjuangan antara burdjuasi dengan proletariat, soalnja adalah, pettama dan teru,tama, soal kepeiltingan2 ekonomi, jang dimaksudkan untuk dipakat sebag,n alat semata dalam memadjukannia kekuasaan politik. Burdjuasi dan proletariat kedua-duanja lahir sebagai akibat perubahan sjarat2 ekonomi, lebih itepat, perubahan tjara produksi. Peralihan, peictama, dari pertukangan2tangan gilda kemanufaktur, dan kemudian dari nianufaktur ke industri besar2an, dengan tenaga uap dan mesin, telah menjebabkan perkembangan kedua klas itu. Pada suatu tingkat tertentu tenaga2 produkitif baru jang digerakkan oleh burdjuasi – pertama-tama pembagian kerdja dan penggabungan banjak buruh-bagian (Teilarbeiter) didalam satu industri umum – dan sjarat2 serta kebutuhan2 pertukaran, jang berkembang melalui tenaga-tenaga produktif itu, mendjadi bertentangan dengan sistim produksi jang ada jang diwariskan oleh sedjarah dan disutjikan oleh hukum, artinja, bertentangan dengan hakistimewa2 gilda dan banjak hakistimewa, pribadi serta setempat lainnja (jang hanjailah merupakan belenggu jang begitu banjak bagi pangkat2 jang tak berhakistimewa) dari sistim masjarakat feodal. Te naga2 produktif jang diwakili oleh burdjuasi memberontak melawan sistim produksi jang diwakili oleh tuantanah2 feodal dan tuangiilda2. Kesudahannja sudah diketahui : belenggu2 feodal dihantjurkan, di Inggris berangsur2, di Perantjis dengan sekali pukul, Di Djerman proses itu belum selesai. Tetapi persis seperti manufaktur, pada tingkat tertentu perkembangannja, berbentroken dengan sistim produksi feodal, maka sekarangpun industri besar2an sudah berbentrokan dengan sistim prodtiksi burdjuis jang dibangan sebagai gantinja. Terikat pada sistim itu, pada batas2 tjara produksi kapitalis jang sempit, industri, disatu fihak, menimbulkan proletarisasi jang senantiasa meningkat dikalangan massa Rakjat luas, dan difihak lain, timbunan baranghasil2 jang tak dapat didjual jang senantiasa bertambah besar. Kelebihan-produksi dan kesengsaraan massal, jang satti menjadi sebab jang lain – itulah kontradiksi gala jang mendjadi akibatnia, dan jang menurut keharusan menuntut pembebasan tenaga2 produktif dengan mengadakan pepubahan dalam tjara produksi.

Karena itu, didalam sedjarah modern se-kurang2nja terbukti bahwa semua perdjuangan politik adalah perdjuangan klas, dan semua perdjuangan klas untuk pembebasan, kendatipun bentuk keharusannja adalah bentuk politik – karena setiap perdjuangan klas adalah perdjuatigan politik – achirnja berputar disekitar soal pembebasan ekonomi. Makaitu, se-kurang2nja disini, negara – sistim politik – adalah jang dibawashkan, dan masjarakat sivil – bidang. hubungan2 ekonomi unsur jang menentukan, Konsepsi tradisionil, jang dihormat djuga oleh Hegel, melihat negara sebagai unsur jang menentukan, dan masjarakat sivil sebagai unsur jang menentukan olehnja. Permuntjulan2 adalah sesuai dengan itu. Karena semua kekuatan pendorong dari tindakan2 perorangan manapun mesti melalui otaknja, dan mengubah diri mendjadi motif-motif kemauannja siupaja menggerakkannja untuk bertindak, maka demikian djuga semua kebutuhan masjarakat sivil – tak peduli klas mana jang kebetulan mendjadi klas jang berkuasa mesti megalui, kemau an negara untuk mendapatkan keabsahan umum,dalam bentuk undang2. Inilah segi formil dari persoalannja – segi jang sudah -dengan sendirinja. Akan tetapi timbullah soal, apakah isi dari kematuan jang se-mata2 formil itu – baik dari individu maupun dari negara – dan dari malia asalnja isi itu ? Mengapa djustru ini jang diingiinkan dan bukan sesuatu lainnja ? -Djilka kita selidiki ihal ini maka kita temukan bahwa dalam sedjiarah modern kemauan negara, dalam keseguruhannja, ditentukan oleh kebutuhan2 jang ber-ubah2 dari masjarakat sivil, oleh kekuasaan dari klas ini atau klas itu, pada tingkat terachir, oleh perkembangan tenaga2 produktif dan hubungan2 pertukaran.

Tetapi djika dalam zaman modern kita inipun, dengan alat2 produksi dan komunikasinja jang raksasa, negara bukanlah suatu bidang jang berdiri-sendiri dengan perkembangan jang berdiri-sendiri, melainkan bidang jang -baik adanja maupun perkembangannja harus didjelaskan, pada -tingkat terachir, dengan sjarat2 kehidupan ekonomi masjarakat, maka hal itu semestinja lebih berlaku lagi bagi semua zaman jang terdahulu ketika produksi kehidupan materiil manusia belum dilakukan dengan alat2 pembantu jang ber-limpah2, dan ketika, karena itu keperluan produksi sedemikian itu semestinja mendjalankan penguasaan jang lebih besar lagi atas manusia. Djika kinipun negara, dalam zaman industri besar dan zaman kereta-api, dalam keseluruhannja hanjalah suatu refleksi, dalam bentuk jang terkonsentrasi, dari kebutuhan2 ekonomi klas jang menguasai proctuksi, maka jang demikian itu adalah lebih2 lagi dalam zaman ketika tiap generasi maniusia terpaksa menggunakan bagian jang djauh lebih besar dari djumlah masa-hidupnja untuk memenuhi kebutuhan2 materiil, dan oleh karena itu djauh lebih banjak tergantung pada kebtutuhan2 itu daripada kita dihari ini. Suatu penjelidikan mengenai sedjarah periode2 terdahulu, sesudah penjelidikan itu diusahakan setjara serius dari sudut ini, dengan sangat ber-lebih2an membenarkan hal itu. Tetapi, sudan barang tentu, hal itu tidak dapat dimasuki disini.

Djika negara dan, hukum tatanegara ditentukan oleh hubungan2 ekonomi, maka djuga, sudah tentu, hukum perdata, jang memang, pada hakekatnja hanjalah menguatkan hubungan2 ekonomi jang ada diantara idividu2 jang adalah normal dalam keadaan2 tertentu itu. Akantetapi bentuk dalam mana ihal itu terdjadi bisa bankjak berbeda. Adalah mungkin, seperti terdjadi di Inggris, selaras dengan seluruh perkembangannasional, untuk pada pokoknja mempertahankan bentuk2 hukum2 feodal lama sementara memberikan isi burdjuis kepada mereka; sebenarnja, langsung membatja pada nama feodal arti burdjuis. Tetapi, djuga, seperti terdjadi dibagian barat benua Eropa, Hukum, Rumawi, hukum dunia jang pertama dari masjarakat jang menghasilkan barangdagangan, dengan penguraiannja jang takterungguli baiknja tentang semua hubungan ihukum jang hakiki -darii pemilik2 barangdagangan sederhana2 (dari para pembeli dan pendjual, jang berutang dan jang berpiutang, koritrak2, obligagi2, dsbnja) bisa diambil sebagai dasar. Dalam hal mana, untuk manfaat masjarakat jang masih burdjuis-ketjil dan setengah-feodal, ia dapat atau diturunkan ketingkat masjarakat sedemikian itu melalui praktek hukum belaka (hukum umum) atau, dengan bantuan ahlihiukum2 jang katanja berfikiran madju, jang suka menggunakan moral, ia dapat diolah mendjadi kitab undang-undang chusus untuk disesuaikan dengan taraf sosial sedemikian itu – kitab undang2 jan dalam keadaan seperti ini akan mendjadi kitab undang2 jang buruk dilihat djuga dari pendirian hukum (misalnja, Landrecht Prusia). Akan tetapi, dalam hal itu, sesudah revolusi burdjuis besar, adalah mungkin pula bagi kitab undang2 klasik dari masjarakat burdjuis seperti Code Sivil Perantjis diolah atas dasar Hukum Rumawi jang sama itu. Oleh karena itu, djika, ketentuan2 hukum burdjuis hanja menjatakan sjarat2 kehidupan ekonomi masjarakat dalam bentuk hukum, maka ketentuan2 itu dapat melakukan itu dengan baik atau djelek menurut keadaan.

Negara memperlihatkan diri kepada kita sebagai kekuasaan ideologi jang pertama atas umatmanusia. Masjarakat mentjiptakan untuk dirinja sendiri suatu alat untuk megindungi kepentingan2 umumnja terhadap serangan2 dari dalam dan dari luar. Alat itu jalah kekuasaan negara. Baru sadja lahir, ia lalu membikin dirinja lepas dan berhadap-hadapan dengan masjarakat; dan, memang, semakin ia mendjadi alat sedemikian itu, maka semakin ia mendjadi alat dari suatu klas chusus, semakin langsung ia memaksakan kekuasaan klas itu. Perdjuangan klas tertindas melawan kilas jang berkuasa menurut keharusan mendjadi perdjuangan politik, suatu perdjuangan jang pertama2 melawan kekuasaan politik klas itu. Kesedaran akan saling-hubungan antara perdjuangan politik ini dengan basis ekonominia mendjadi pudar dan bisa mendjadi lenjap samasekali. Sementua jang demikian itu tidak terdjadi seluruhnja pada para peserta, tapi ia ohampir selalu terdjadi pada para ahlisedjarah, Mengenai sumber2 kuno tentang perdjuangan2 didalam Republik Rumawi hanjalah Appian sadja jang mentjeritakan kepada kita dengan djelas dan tegas apa jang telah mendjadi pokok perselisihan pada tingkat terachir – jailtu, milik tanah.

Tetapi sekali negara itu telah mendjadi suatu kekuasaan jang lepas dari dan berhadap-hadapan dengan masjarakat, ia seketika djuga menghasilkan satu ideoloi lagi. Memang dikalanga- para beroepspolitisi, para ahliteori hukum tatanegara dan para ahlihum hukum perdatalah bahwa hubungan dengan , fakta-fakta ekonomi mendjadi hilang begitu sadja. Karena pade setiap hal chusus fakta-fakta ekonomi mesti mengambil bentuk motif-motif hukum untuk memperoleh sanksi hukum; dan, karena, dengan berbuat demikian, perkembangan sudah barang tentu harus dibierakan kepada seluruh tatahukum jang sudah berlaku, sebagai akibatnja, bentuk juridis adalah segala-galanja dan, isi ekonominja bukan apa-apa. Hukum tatanegara dan hukum perdata diperlakukan sebagai lapangan jang berdiri sendiri2, masing2 mempunjai perkembangan, sedjarahnja sendiri jarrg bebas, masing2 sanggup mengadjukan dan memerlukan suatu penjadjian jang sistimatis dengan meniadakan semua kontradiksi intern setjara konsekwen.

Ideologi2 jang lebih tinggi lagi, jaitu, ideologi2 jang lebih djauh lagi djaraknja dari basis materiil, basis ekonomi mengambil bentuk filsafat dan religi. Disini salinghubungan antara konsepsi2 dengan sjarat2 materiil eksistensi mereka mendjadi semakin rumit, semakin dikaburkan oleh matarantai perantara. Tetapi saging-hubungan itu ada. Seperti hainja seluruh periode Renaissanse, mulai dari pertengahan abad ke-15, adajah hasil hakiki dari kota2 dan, oleh karenanja, dari wargakota2, maka begitulah pula filsafat jang baru bangkit kemudiannja. Isinja pada hakekatnja hanjalah pengtungkapan filasafat dari fikiran2 jang sesuai dengan perkembangan wargakota2 ketjil dan sedang mendjadi burdjuasi besar. Dikalangan orang2 Inggris dan Perantjis abad jang lalu jang diantara mereka banjak ahliekonomi2 politik dan sekaligus aihlifilsafat2, hal itu njata dengan se-njata2nja; dan mengenai mazhab Hegelian hal itu telah dibuktikan diatas.

Disamping itu sekarang kita akan membitjarakan soal agama hana setjara, singkat sadja, karena agama, berada paling djauh dari kehidupan materiil dan tampaknja paling asing bagi kehidupan materiill itu. Pada zaman jang primitif sekali agama lahir dari konsepsi2 manusia jang keliru, jang primitif, tentang diri mereka sendiri dan alam liuar jang mengelilingi mereka. Akan tetapi setiap ideologic sekali ia muntjul, berkembang dalam hubungan dengan bahan-konsepsi, tertentu, dan mengembangkan bahan itu lebih landjut; kalau tidak ia bukan ideologi, jaitu, tatasibuk dengan fikiran2 seperti dengan hal2 jang berdiri sendiri, jang berkembang setjara bebas dan tunduk hanja kepada hukum2nja sendiri. Bahwasanja sjarat2 kehidupan materiil dari orang2 jang didalam kepalanja berlangsung proses berfikir sedemikian itu pada tingkat terachir menentukan djalannja proses itu mentirut keharusan tetap tak diketahui oleh orang2 itu, karena kalatu tidak demikian akan berachirlah semua ideologi. Makaitu ide2 keagamaan jang asal, jang pada pokoknja adalah umum bagi tiap kelompok orang2 jang sekeluarga, berkembang ,sesudah kelompok itu berpisah, menurut tjara jang chas bagi bangsa masing2, menurut siarat kehidupan jang sudah mendjadi nasib mereka. Bagi sedjumlah kelompok orang2, dan terutama bagi orang2 Aria (apa jang dinamakan orang2 Indo-Eropa) proses itu telah diperlihatkan setjara detail oleh mitologi banding. Dewa2 jang terbentuk sedemikian itu dikalangan bangsa masing2 adalah dewa2 nasional, jang wilajahnja membentang tidak lebih djauh dari wilajah nasional jang harus mereka lindungi; diseberang sana dari perbatasannja berkuasalah dengan tak terbantah dewa2 lain. Mereka bisa terus ada, dalam chajal, hanja selama nasion itu ada: mereka djatuh dengan djatuhnja nasion itu. Keradjaan dunia Rumawi, jang disini tak perlu kami tindjau sjarat2 ekonomi jang mendjadi sumbernja, membawa keruntuhan nasionalitet2 lama. Dewa2 ,nasional lama melaptik, begitu pula dewa 2 orang Roma, jang djuga dibentuk disesuaikan dengan batas2 sempit kota Roma sadja. Kebutuhan untuk melengkapi keradjaan dunia lewat suatu agama dunia dengan djelas telah disingkapkan dalam usaha2 jang dilakukan di Roma untuk memberikan, disamping dewa2 pribumi, pengakuan serta altar2 bagi semua dewa luarnegeri jang patut dihormati. Tetapi suatu agama dunia baru tidak akan tebentuk menurut mode itu, dengan dekrit keradjaan. Agama dunia baru agama Kristen, dengan diam2 sudah lahir, lahir dari tjampuran teologi Timur, terutama teologi Jahudi, jang digeneralisasi, dengan filsafat Junani, terutama filstafat Stoic, jang divulgerisasi. Bagaimana rupanja semula harus diketemukan lebih dulu dengan mengeluarkan banjak tenaga, karena bentuk resminja, sebagaimana jang telah disampaikan kepada kita, hanjalah bentuk dengan mana ia mendjadi agama negara dan untuk tudjuan itu ia disesuaikan oleh Dewan Nicaea. Kenjataan bahwa sesudah 250 tahun ia mendjadi agama negara tjukuplah menundjukkan bahwa ia adalah agama jang sesuai dengan sjarat2 zaman itu. Dalam Zaman Tengah, sedjalan dengan perkembangan feodalisme, agama Kristen berkembang mendjadi pasangan agamanja, dengan hierarchi feodal jang bersesuaian. Dan ketika wargakota2 mulai tumbuh subur, maka berkembanglah, bertentangan dengan Katolisisme feodal, bidaah Protestan, jang mula2 muntjul di Perantjis Selatan, dikalangan kaum Albigense [4-3], ketika disitu kota-kota mentjapai titik masa-berkembangnja jang tertinggi. Zaman Tengah telah membubuhkan pada teologi semua bentuk ideologi lainnja – filsafat, politik, ilmu hukum – dan membikinnja mendjadi subbagian2 teologi. Dengan demikian ia memaksa setiap gerakan sosial dan politik mengambil bentuk teologi, Sentimen2 massa didjedjali dengan agama dengan menjingkirkan semua lainnja; makaitu adalah perlu mengadjukan kepentingan2 mereka sendiri dengan berkedokkan agama guna menghasilkan suatu gerakan jang sengit. Dan seperti wargakota2 dari sedjak semula melahirkan embel2 jang terdiri dari kaum plebejer kota jang tak bermilik, kaum buruh harian dan budak2 dari segala matjam, jang tak termasuk dalam pangkat sosial jang diakui, pelopor2 proletariat dikemudian hari maka begitulah pula bidaah segera terbagi mendjadi bidaah wargakota-lunak dan bidaah plebejer-revolusioner, jang tersebut belakangan mendjadi kebentjian kaum bidaah wargakota itu:sendiri.

Tak terbasminja bidaah Protestan adalah sesuai dengan tak terkalahkannja kaum wargakota jang sedang menaik. Ketika kaum wargakota ini telah mendjadi tjukup kuat, perdjuangan mereka melawan kaum ningrat feodal, jang hingga -saat itu berkuasa setjara lokal, mulai mengambil ukuran2 nasional. Aksi besar jang pertama terdjadi di Djerman – apa jang dinamakan Reformasi. Kaum wargakota belum tjukup kuat dan djuga belum tjukup berkembang untuk dapat mempersatukan dibawah pandji2 mereka pangkat2 jang memberontak lainnja – kaum plebeier di-kota2, kaum ningrat rendahan dan kaum tani jang mengerdjakan tanah. Mula2 kaum bangsawan kalah; kaum tani bangkit melakukan pemberontakan jang merupakan puntjak seluruh perdjuangan revolusioner; kota meninggalkan mereka dalam kesukaran, dan dengan begitu revolusi menjerah kepada tentara2 pangeran2 duniawi jang memetik seluruh keuntungan. Sedjak itu Djerman selama tiga abad menghilang dari barisan2 negeri2 jang memainkan peranan aktif jang bebas dalam sedjarah. Tetapi disamping Luther Djerman muntjul pula Calvin Peranitjis. Dengan ketadjaman Perantjis jang sedjati dia menempatkan watak burdjuis dari Reformasi itu didepan, merepublikkan dan mendemokrasikan Geredja. Sementara Reformasi Lutheris di Djerman memerosotkan dan mendjadikan negeri itu rusak-binasa, Reformasi Calvinis berlaku sebagai pandji2 bagi kaum republiken di Djenewa, di Nederland dan Skotlandia, membebaskan Nederland dari Spanjol dan Keradjaan Djerman dan memberikan pakaian ideologic bagi babak kedua revolusi burdjuis jang sedang berlangsung di Inggris. Disini Calvinisme membuktikan diri sebagai kedok agama jang sedjati dari kepentingan2 burdjuasi zaman itu dan karena itu tidak mendapat pengakuan penuh ketika revolusi berachir dalam 1689 dengan suatu kompromi antara sebagian kaum ningrat dengan burdjuasi. Geredja negara Inggris ditegakkan kembali; bukan dalam bentuknja seperti jang terdhulu berupa Katolisisme jang mempunjai radja sebagai pausnja, tetapi, sebaliknja, sangat di Calvinisasi. Geredja negara lama merajakan Minggu Katolik jang gembira dan telah menentang Minggu Calvinis jang suram. Geredja baru jang diburdjuiskan melazimkan jang tersebut belakatigan, jang menghiasi Inggris hingga kini.

Di Perantjis, minoritet Calvinis ditindas dalam 1685 dan atau di Katolikkan atau diusir keluar dari negen itu. Tetapi apa gunanja ? Sudah sedjak itu vrijdenker Pierre Bayle berada pada puntjak aktivitetnja, dan dalam 1694 Voltaire lahir. Tindakan-tindakan kekirasan Louis XIV hanjalah memudahkan burdluasi Perantjis untuk meneruskan revolusinia dalam bentuk bukankeagamaan, dalam bentuk politik se-mata2, bentuk satusatunja jang tjotjok dengan burdjuasi jang berkembang. Sebagai ganti kaum Protestan, kaum vrijdenker menempati kedudukan mereka dalam madjelis2 nasional. Dengan demikian agama Kristen in masuki tingkatanja jang terachir. Dimasadepan ia mendjadi tak sanggup mengabdi klas progresif apapun sebagai pakaian ideologi tjita2nja. Ia makin lama makin mendjadi milik jang eksklusif dari klas2 berkuasa dan klas2 itu memakainja sebagai alat pemerintah belaka, untuk menahan klas2 bawahan tetap berada didalam batas2. Lagipula, masing2 berbagai-bagai klas2 itu menggunakan agamanja sendiri, jang tjotjok,: kaum ningrat jang bertanah – Jesuitisme Katolik atau ortodoksi Protestan; burdjuasi liberal dan radikal – rasionalisme; dan bedanja sedikit sadja apakah tuan2 ini sendiri pertjaja kepada agama2 mereka masing2 atau tidak.

Karena itu, kita lihatlah : agama, sekali terbentuk, selalu mengandung bahan tradisionil, persis seperti dalam semua bidang ideologi tradisi merupakan suatu kekuatan konservatif jang besar. Tetapi perubahan2 jang di agami oleh bahan itu timbul dari hubungan2 klas, artinja, dari hubungan ekonomi dari orang2 jang melakukan perubahan2 ini. Dan.mengenai itu tjukuplah sekian.

Dalam bagian tersebut diatas hanja bisa diberikan suatu sketsa umum dari konsepsi Marxis tentang sedjarah, paling banter dengan beberapa ilustrasi. Buktinja harus diperoleh dari sedjarah itu sendiri; dan dalam hal ini mungkin saja diptrkenankan unbuk mengatakan bahwa bukti itu sudah tjukup diberikan didalam tulisan2 lain. Akan tetapi, konsepsi itu mengachiri filsafat dilapangan sedjarah, seperti djuga konsepsi -dialektik tentang alam membikin semua filasafat alam mendjadi tak perlu dan djuga tak mungkin. Soalnja bukanlah lagi soal diseguatu tempat me-reka2 saling-hubungan2 dari luar otak kita, melainkan soal menemukan mereka didalam fakta2. Bagi filsafat, jang telah diusir dari alam dan sedjarah, hanja tinggallah bidang pemikiran se-mata, sebegitu djauh jang masih tinggal jalah: teori tentang hukum2 proses pemikiran itu sendiri, logika dan dialektika.


Dengan Revolusi 1848, Djerman jang “terpeladjar” mengutjapkan selamat-tinggal kepada teori dan berphidah kelapangan praktek. Produksa ketjil2an dan manufaktur, jang berdasarkan kerdjatangan, diganti oleh industri jang betul2 besar. Djerman muntjul lagi dagam pasar dunia. Keradjaan Djerman [4-4] baru jang ketjil menghapuskan se-kurang2nja kesewenang-wenangan jang paling menjolok jang menghalang-halangi perkembangan itu, jaitu si,stim negara2 ketjil, sisa2 feodalisme, dan pengurusan birokratis. Tetapi selaras dengan spekulasi meninggalkan kamar-beladjar ahlifilsafat untuk mendirikan kuilnja dalam dalam Bursa Efek, maka Djerman jang terpeladjar kehilangan bakat besar dibidang teori jang telah merupakan kemegahan Djerman dalam hari2 kehinaan politik jang se-dalam2nja – bakat akan penelitian ilmiah se-mata2, lepas daripada apakah hasil jang diperolehnja itu dapat dipergunakan dalam praktek atau tidak, apakah mungkin menjinggung pembesar2 polisi atau tidak. Memang benar, ilmu2 alam Djerman jang resmi mempertahankan posisinja dibarisan depan, terutama dilapangan penelitian jang chusus. Tetapi madjalah Amerika Ilmupun dengan tepatnja menjatakan bahwa kemadjuan2 jang menentukan dibidang rangkaian jang luas dari fakta2 chusus dan penggeneralisasiannja mendjadi hukum sekarang lebih banjak ditjapad di Inggris dan bukannia, seperti dulu, di Djerman. Dan dilapangan ilmu2 sedjarah, termasuk filsaf semangat lama jang tak kenal takut akan teori sekarang telah lenjap, samasekali, ber-sama2 dengan filsafat klasik. Eklektigisme kosong dan minat jang gelisah akan kedudukan dan penghasilan, jang merosot, sampai pada pemburtuan pekerdjaan jang paling vulger, menduduki tempatnja. Wakil2 resmi dari ilmu2 itu tanpa tedengaling2 telah mendiadi ahli2 ideologd dari burdjuasi dan negara jang ada – letapi ketika kedua-duanja berada dalam antagonisme jang terbuka dengan klas buruh.

Hanjalah dikalangan klas buruh bahwa bakat Djerman akan teori tetap utuh. Dikalangan mereka ia tak dapat .dibinasakan. Dikalangan mereka tak ada minat akan kedudukan2, untuk mentjari keuntungan, atau akan perlindungan jang penuh kasih-sajang dari atas. Sebaliknja, semakin ilmu itu madju dengan tak kenal bdaskasihan dan tak mementingkandiri maka ia semakin menemukan dirinja berada selaras dengan kepentingan2 serta aspirasi2 kaum buruh. Ketjenderungan baru, jang mengakui bahwa kuntji untuk memahami seluruh sedjarah masjarakat terletak dalam sedjarah perkembangan kerdja, sedjak awadnja lebih suka berpaling kepada klas buruh dan dikalangan mereka mendapatkan sambutan jang tidak ia tjari maupun ia harapkan dari ilmu jang diakui setjara resmi. Gerakan klas buruh Djerman adalah ahliwaris filsafat klasik Djerman.


Ditulis oleh Engels dalam 1886 Dimuat dakan madjalah Neue Zeit 1886, dan sebagai penerbitan tersendiri di Stuttgart dalam 1888.

Diterbitkan menurut naskah edis! 1888.


Catatan

[4-1] Disini mungkiry- saja diperkenankan untuk memberikan pendielasan pribadi. Belakangan ini berulangkali ada di-sebut2 andil saja dalam teori ini, makaitu sulit bagi saja untuk menghindari menguijapkan beberapa patah kata disini untuk menjelesaikannja. Saja tak daripat menjangkal bahwa baik sebelum maupun seldma empatpuluh tahun bekerdjasama dengan Marx saja mempunjai andil saja @endiri jang tertentu dalam meletakkan dasar2 teori itu, dan terutama dalam pengolahannia. Tetapi bagian jang lebih besar dari prinsip2 pokoknja jang terpenting, terutama dilapangan ilmu ekono-ni dan sedjarah, dan, diatas segala-galanja, formulasinja jang terachir jang tadjam, adalah andil Marx. Apa jang saja sumbangkan – setidak-tidaknia ketjuali karja saja dibeberapa lapc[ngan chusus - Marx dapat mengerdjakannja dengan baik sekali tanpa saja. Apa jang dihasilkan oleh Marx, saja tak dapat mentjapainja. Marx berdiri lebih tinggi, melihat lebih djauh, dail memandang lebih ,uas serta lebih tjepat daripada semua kita lainnja. Marx adalah seorarig zeni; kita lainnja paling banter orang2 jang berbakcat. Tanpa dia teori itu akan diauh daripada apa adanja kini. Kerrena itu surjah setepatnja memakal namanja. (Tiatatan Engels).

[4-2] Lihat Dos Wesen der menschlichen Kopfarbeit, dargestellt von einem Hanidarbeiter (Watak Pekerdjaan Otak Manusia Diuralkan oleh Seorang Pekerdja Tangan). Hamburg, Meissner. (Tjatatan -. Engels).

[4-3] Kaum Albigense: Suatu sekte agama jang selama abad ke-12 dan ke-13 memimpin gerakan menentang Geredja Rum Katolik. Nama ini berasal dari nama kota Albi, di Perantjis Selatan. – Red.

[4-4] Istilah W dipakai untuk Keradjaan Djerman (tanpa Austra) jang terbentuk dalan 1871 dibawah hegemoni Prussia. – Red.


Pengantar | Karya-karya Marx + Engels

Ludwig Feuerbach dan Akhir Filsafat Klasik Jerman

G W F HegelI – Hegel

Buku [1-1] yang terletak di hadapan kita membawa kita kembali ke zaman yang, meskipun menurut waktu tidak lebih daripada satu keturunan berada di belakang kita, telah menjadi asing bagi keturunan yang sekarang ini di Jerman seolah-olah ia telah berlalu seratus tahun lamanya. Meskipun demikian zaman itu adalah zaman persiapan Jerman untuk Revolusi 1848; dan segala-sesuatu yang terjadi di negeri kita sejak itu hanyalah kelanjutan tahun 1848, hanyalah pelaksanaan wasiat dan pernyataan terakhir revolusi itu.

Seperti halnya di Perancis dalam abad kedelapanbelas, demikian julalah di Jerman dalam abad kesembilanbelas, revolusi filsafat mengantarkan keruntuhan politik. Tetapi alangkah berbedanya keduanya itu kelihatannya! Orang-orang Perancis mengadakan pertempuran terbuka melawan semua ilmu resmi, melawan gereja dan sering-sering juga melawan negara; tulisan-tulisan mereka dicetak di luar perbatasan, di Inggris atau di Belanda, sedangkan mereka sendiri selalu berada dalam bahaya dipenjarakan di dalam Bastille. Di pihak lain, orang-orang Jerman adalah profesor-profesor, para pengajar pemuda yang diangkat oleh negara: tulisan-tulisan mereka diakui sebagai buku pelajaran, dan sistem yang terbatas dari seluruh perkembangan – sistem Hegelian – bahkan ditingkatkan, sampai batas tertentu, ke dalam barisan filsafat negara kerajaan Prusia! Apakah mungkin di belakang para profesor itu, di belakang kata-kata mereka yang samar-samar, sok pengetahuan, di belakang kalimat-kalimat mereka yang bijak, yang menjemukan, bersembunyi revolusi?

Apakah orang-orang yang pada waktu itu dianggap sebagai wakil-wakil revolusi bukan justru kaum liberal, musuh yang paling sengit dari filsafat yang mengacaukan otak itu? Tetapi apa yang tidak bisa dilihat baik oleh pemerintah maupun oleh kaum liberal sejak 1833, telaih dilihat sekurang-kurangnya oleh satu orang, dan orang itu tidak lain adalah Heinrich Heine. [1-2]

Mari kita ambil sebuah contoh. Tidak ada dalil filsafat yang telah menimbulkan rasa terimakasih yang lebih besar dari pemerintah2 yang berpikiran picik dan amarah dari kaum liberal yang sama picik pikirannya daripada pernyataan Hegel yang terkenal: Segala sesuatu yang riil adalaih rasional; dan segala sesuatu yang rasional adalah riil. Pernyataan itu merupakan pembenaran yang nyata terhadap segala sesuatu yang ada, doa-restu filsafat yang dilimpahkan kepada despotisme, pemerintahan polisi, sidang-sidang Star Chamber dan sensor. Begitulah Friedrich Wilhelm III dan begitulah Rakyatnya memahami pernyataan itu. Tetapi, menurut Hegel pastilah bukan segala sesuatu yang ada adalah juga riil, tanpa kualifikasi lebih jauh. Bagi Hegel sifat realitas terdapat hanya pada apa yang sekaligus adalah keharusan: “dalam proses perkembangannya realitas terbukti adalah keharusan.” Maka itu, tindakan pemerintah tertentu – Hegel sendiri mengutip sebagai contoh “peraturan pajak tertentu” – baginya sama sekali bukanlah hal yang riil tanpa kualifikasi. Tetapi, keharusan, akhirnya membuktikan bahwa ia adalah juga rasional; dan, jika diterapkan pada negara Prusia pada waktu itu. maka, dalil Hegel hanyalah berarti negara ini adalah rasional, sesuai dengan akal, sejauh ia adalah keharusan; dan, jika, meskipun demikian, ia kelihatan kepada kita sebagai sesuatu yang jahat, tetapi tetap, meskipun wataknya jahat, ada terus, maka watak jahat pemerintah itu dibenarkan dan dijelaskan oleh watak jahat yang sama yang terdapat pada warga negaranya. Orang-orang Prusia zaman itu mempunyai pemerintahan yang patut bagi mereka.

Jadi, menurut Hegel, realitas sekali-kali bukanlah sifat yang dapat diramalkan di dalam keadaan tertentu yang mana saja, sosial atau politik, dalam semua keadaan dan pada setiap masa. Sebaliknyalah yang benar. Republik Romawi adalah riil, tetapi demikian juga halnya dengan kerajaan Romawi, yang mendahuluinya. Dalam tahun 1789 monarki Perancis telah menjadi begitu tidak riil, yaitu, telah begitu dilucuti dari segala keharusan, begitu tidak rasional, sehingga ia harus dihancurkan oleh Revolusi Besar. Tentang revolusi itu Hegel selalu berbicara dengan kegairahan yang amat tinggi, Maka itu, dalam hal ini, monarki adalah yang tidak riil dan revolusi adalah yang riil. Jadi, dalam proses perkembangan, semua yang di masa lampau adalah riil menjadi tidak riil: kehilangan keharusannya, hak eksistensinya, rasionalitasnya. Dan pada tempat realitas yang sekarat lahir realitas baru, yang dapat hidup – secara damai jika yang lama cukup cerdik untuk menemui ajalnya tanpa perjuangan; dengan kekerasan jika ia melawan keharusan itu. Jadi dalil Hegel berbalik menjadi hal yang berlawanan dengannya lewat dialektika Hegel itu sendiri. Segala sesuatu yang riil di bidang sejarah manusia menjadi tidak rasional dalam proses waktu, maka itu tidak rasional dari segi tujuannya itu sendiri, sebelumnya telah dinodai oleh irrasionalitas; dan segala sesuatu yang rasional di dalam pikiran manusia ditakdirkan untuk menjadi riil, betapapun banyaknya ia bertentangan dengan realitas yang betul-betul ada. Sesuai dengan semua ketentuan metode berpikir Hegelian, dalil tentang rasionalitas segala sesuatu yang riil mengubah dirinya menjadi dalil yang lain – Segala sesuatu yang ada patut mengalami kehancurannya.

Tetapi justru disitulah letak arti sesungguhnya dan watak revolusioner dari filsafat Hegel (pada filsafat mana, sebagai penutup seluruh gerakan sejak Kant, kita harus membatasi diri disini), bahwa ia untuk selama-lamanya memberikan pukulan yang menghancurkan kepada keabadian semua hasil pemikiran dan perbuatan manusia. Kebenaran, yang pengenalannya. menjadi urusan filsafat, di dalam tangan Hegel tidak lagi merupakan jumlah pernyataan-pernyataan dogmatis yang selesai, yang, sekali ditemukan, banialah harus dipelajari di luar kepala. Sekarang kebenaran terletak di dalam proses pengenalan itu sendiri, di dalam perkembangan historis yang lama dari ilmu, yang menaik dari tingkat pengetahuan yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi tanpa bisa mencapai, dengan menemukan apa yang disebut kebenaran absolut, suatu titik dimana ia tidak dapat maju lebih jauh lagi, dimana ia tidak akan mempunyai pekerjaan lagi selain daripada berpeluk tangan dan menatap dengan rasa keheran-heranan pada kebenaran absolut yang telah dicapai. Dan apa yang benar bagi dunia pengetahuan filsafat benar pula bagi setiap macam pengetahuan lainnya dan juga bagi persoalan persoalan praktis. Seperti halnya pengetahuan ‘tidak mungkin dapat mencapai kesimpulan yang lengkap dalam syara-syarat kernanusiaan yang sempurna, yang ideal, maka sejarahpun tidak mungkin dapat berbuat demikian; masyarakat yang sempurna, “negara” yang sempurna, adalah hal-hal yang mungkin ada di dalam kahyal saja. Sebaliknya, semua sistim sejarah yang silih berganti hanyalah tingkat-tingkat peralihan di dalam proses perkembangan masyarakat manusia yang tiada akhirnya dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Setiap tingkat adalah tingkat keharusan, dan maka itu dapat dibenarkan untuk masa dan syarat-syarat yang menjadi sumbernya. Tetapi dalam berhadapan dengan syarat-syarat baru, syarat-syarat yang lebih tinggi yang secara berangsur-angsur berkembang di dalam kandungannya sendiri, ia kehilangan keabsahannya dan pembenarannya, ia harus menyerah kepada tingkat yang lebih tinggi yang pada gilirannya juga akan melapuk dan hancur. Seperti halnya borjuasi lewat industri besar, persaingan dan pasar dunia dalam praktek membubarkan semua lembaga yang stabil, yang tua dan dihormati, maka filsafat dialektik ini pun membubarkan semua konsepsi tentang kebenaran terakhir, absolut dan tentang keadaan manusia yang absolut yang sesuai dengan itu. Baginya (filsafat dialektik) tidak ada sesuatupun yang terakhir, yang absolut, yang keramat. Ia menyingkapkan watak peralihan dari segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu, tidak ada sesuatupun yang dapat bertahan berhadapan dengan watak itu kecuali proses menjadi dan melenyap yang berlangsung dengan tiada putus-putusnya, proses menaik dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi dengan tiada putus-putusnya. Dan filsafat dialektik itu sendiri tidaklah lebih daripada pencerminan semata dari proses itu di dalam otak yang berpikir. Sudah tentu, ia mempunyai juga segi konservatifnya: ia mengakui bahwa tingkat-tingkat terte’tu pengetahuan dan masyarakat dapat dibenarkan untuk masanya dan keadaannya; tetapi hanya sejauh itu saja. Konservatisme cara memandang yang semacam itu adalah relatif, yang absolut adalah watak revolusionernya – satu-satunya yang absolut yang diakui oleh filsafat dialektik.

Disini, tidaklah dirasa perlu memasuki persoalan apakah cara memandang yang seperti itu sepenuhnya sesuai dengan keadaan ilmu-ilmu alam sekarang ini, yang meramalkan berakhirnya bumi ini sebagai hal yang mungkin dan dapat didiaminya bumi ini sebagai hal yang amat pasti; yang, oleh karena itu mengakui bahwa bagi sejarah umat manusia, juga, terdapat bukan hanya cabang yang menaik tetapi juga yang menurun. Meskipun demikian kita masih berada pada jarak yang amat jauh dari titik balik dimana jalan sejarah masyarakat menjadi jalan menurun, dan kita tidak dapat mengharapkan filsafat Hegel menaruh perhatian pada soal yang ilmu-ilmu alam, pada zamannya, masih belum lagi menjadikan persoalan yang diperbincangkan.

Tetapi, sesungguhnya, apa yang harus dinyatakan disini ialah: bahwa pada Hegel pendirian-pendirian yang dikembangkan di atas tidak sebegitu tajam digariskan. Pendirian-pendirian itu adalah kesimpulan keharusan dari metodenya, tetapi dia sendiri tidak pernah menariknya sejelas itu. Dan memang, ini adalah karena alasan yang sederhana bahwa -dia terpaksa menyusun suatu sistim dan, sesuai dengan keperluan-keperluan tradisionil, suatu sistim filsafat harus berkesimpulan dengan semacam kebenaran absolut. Maka itu, betapapun banyaknya Hegel, terutama di dalam tulisannya Logika, menekankan bahwa kebenaran abadi itu tidaklah lain daripada proses yang logis, atau proses sejarah itu sendiri, namun dia terpaksa memberikan suatu akhir pada proses itu, justru karena dia harus mengakhiri sistimnya pada suatu titik. Di dalam Logikanya dia dapat menjadikan akhir itu awal kembali, karena disini hal yang disimpulkan, ide absolut – yang hanya absolut sejauh mengenai hal itu dia secara absolut tidak mempunyai sesuatu lagi untuk disampaikan – “menjelmakan”, yaitu, mengubah, dirinya menjadi alam dan kemudian menjadi dirinya kembali di dalam otak, yaitu di dalam pikiran dan di dalam sejarah. Tetapi pada akhir seluruh filsafat itu pengulangan kembali yang serupa ke awalnya hanyalah mungkin lewat satu jalan. yaitu, dengan memikirkan tentang akhir sejarah sebagai berikut ini: umat manusia sampai pada pengenalan ide absolut yang itu juga, dan menyatakan bahwa pengenalan ide absolut itu dicapai di dalam filsafat Hegel. Tetapi, dengan cara yang seperti itu, seluruh isi dogmatis dari sistim Hegel dinyatakan sebagai kebenaran absolut bertertangan dengan metode dialektiknya, yang mencairkan segala dogmatisme. Jadi segi revolusioner tercekik di bawah pertumbuhan segi konservatif yang berlebih-lebiban. Dan apa yang berlaku bagi pengenalan filsafat berlaku juga bagi praktek sejarah. Umat manusia, yang, di dalam diri Hegel, telah mencapai titik merumuskan ide absolut dalam praktek harus telah sampai pula sejauh dapat mewujudkan ide absolut itu dalam kenyataan. Maka itu tuntutan politik praktis dari ide absolut terhadap orang-orang sezamannya tidak boleh – direntang terlalu jauih. Dan dengan demikian kita temukan pada kesimpulan Filsafat Hukum bahwa ide absolut akan direalisasikan di dalam monarki yang berdasarkan pangkat-pangkat sosial yang oleh Friedrich Wilhelm III dijanjikan dengan begitu gigihnya tetapi sia-sianya kepada warga negaranya, yaitu, di dalam kekuasaan terbatas, lunak, tidak langsung dari klas-klas yang bermilik yang sesuai dengan syarat-syarat Jerman borjuis kecil di zaman itu; dan, tambahan pula, keharusan adanya kaum bangsawan ditunjukkan kepada kita dengan cara yang spekulatif.

Maka itu, keharusan intern sistim itu dengan sendirinya cukup untuk menjelaskan mengapa metode berfikir yang sama sekali revolusioner menghasilkan kesimpulan politik yang keterlaluan jinaknya. Sesungguhnya bentuk khusus kesimpulan itu lahir dari kenyataan bahwa Hegel adalah seorang Jerman, dan seperti halnya dengan orang sezamannya, Goethe, mempunyai sedikit kucir filistin terjuntai di belakangnya. Mereka masing-masing adalah seorang Zeus Olympia di bidangnya, meskipun demikian tidak seorangpun di antara mereka itu yang betul-beutk pernah membebaskan dirinya dari filistinisme Jerman.

Tetapi kesemuanya itu tidak merintangi sistim Hegel mencakup bidang yang tak terbandingkan lebih besarnya daripada sistim yang manapun sebelumnya, maupun mengembangkan di dalam bidang itu kekayaan fikiran yang sampai hari ini pun mengagumkan. Fenomenologi jiwa, (yang dapat disebut suatu paralel dari embriologi dan paleontologi jiwa, perkembangan kesadaran perseorangan lewat tingkat-tingkatnya yang berbeda-beda, yang terwujud sebagai bentuk reproduksi yang disingkat dari tingkat-tingkat yang telah ditempuh oleh kesadaran manusia selama perjalanan sejarah), logika, filsafat alam. filsafat jiwa, dan yang terakhir dirumuskan di dalam, sub-bagian-bagiannya yang historis secara sendiri-sendiri: filsfat sejarah, filsafat hukum, filsafat agama, sejarah filsafat, estetika, dsbnya – di semua bidang sejarah yang berbeda-beda ini Hegel bekerja keras untuk menemukan dan menunjukkan benang perkembangan yang menjulur. Dan karena dia bukan hanya seorang seni yang kreatif tetapi juga seorang yang berpengetahuan ensiklopedi, dia melakukan peranan yang membuat zaman di setiap bidang. Adalah jelas dengan sendirinya bahwa karena kebutuhan “sistim” dia sering harus menggunakan konstruksi-konstruksi yang dipaksakan dan tentang itu lawan-lawannya yang kerdil membikin kehebohan yang begitu hebat bahkan sampai hari ini. Tetapi konstruksi-konstruksi itu hanyalah kerangka dan perancah karyanya. Jika di tempat itu orang tidak membuang-buang waktu tanpa ada keperluannya, tetapi maju terus ke dalam bangunan yang maha besar itu, maka orang akan menemukan kekayaan yang tiada terhitung banyaknya yang hingga hari ini masih memiliki nilai yang tiada berkurang. Pada semua ahli filsafat justru “sistim” itulah yang dapat hancur; dan karena alasan yang sederhana bahwa dia lahir dari keinginan yang kekal dari jiwa manusia – yaitu keinginan untuk mengatasi semua kontradiksi. Tetapi, jika semua kontradiksi untuk selama-lamanya sudah ditiadakan., maka kita akan mencapai apa yang dinamakan kebenaran absolut – sejarah dunia akan berakhir. Akan tetapi sejarah itu harus berjalan terus, meskipun tidak ada lagi yang harus dikerjakannya – jadi, kontradiksi baru, kontradiksi yang tak terpecahkan. Segera kita menyadari – dan akhirnya tidak ada orang yang membantu kita menyadari hal itu lebih daripada Hegel sendiri – bahwa tugas filsafat yang dinyatakan sedemikian itu tidak berarti lain daripada bahwa tugas yang harus dipenuhi oleh seorang ahli filsafat ialah yang hanya dapat dipenuhi oleh seluruh umat manusia dalam proses perkembangannya yang progresif – segera kita menyadari hal itu, maka berakhirlah filsafat dalam arti kata yang hingga saat itu diterima. Orang membiarkan saja “kebenaran absolut”, yang tak tercapai disepanjang jalan itu atau oleh perseorangan yang manapun; sebaliknya, orang mengejar kebenaran-kebenaran relatif yang dapat dicapai sepanjang jalan yang ditempuh oleh ilmu-ilmu positif dan menyimpulkan hasil-hasilnya lewat pemikiran dialektik. Bagaimanapun juga, dengan Hegel filsafat menemui akhirnya: disatu pihak, karena didalam sistimnya dia menyimpulkan seluruh perkembangan filsafat menurut cara yang amat mengagumkan; dan dipihak lain, karena meskipun secara tidak sadar, dia menunjukkan kepada kita jalan keluar dari tempat menyesatkan berupa sistim-sistim kepengetahuan positif yang sesungguhnya tentang dunia.

Orang dapat membayangkan betapa besarnya pengaruh sistim Hegel itu terhadap iklim Jerman yang bercorak filsafat itu. la merupakan pawai kemenangan yang berlangsung berabad-abad lamanya dan yang sama sekali tidak berhenti dengan wafatnya Hegel. Sebaliknya, justru dari tahun 1830 sampai dengan 1840-lah bahwa “Hegelianisme” berkuasa secara amat eksklusif, dan sampai batas yang kurang-lebih besar menulari bahkan lawan-lawannya. Justru di dalam periode itulah pendirian-pendirian Hegelian, secara sadar maupun tidak sadar, dengan amat luasnya menyusup ke dalam ilmu-ilmu yang amat beranekaragam dan menyuburkan bahkan literatur populer dan harian-harian, dari mana “kesadaran terpelajar” rata-rata mendapatkan makanan mentalnya. Tetapi kemenangan di seluruh front itu hanyalah merupakan pendahuluan bagi suatu perjuangan intern.

Seperti sudah kita lihat, ajaran Hegel, dalam keseluruhanya, menyisakan cukup ruang untuk memberikan perlindungan kepada pendirian praktis partai yang amat banyak anekaragamnya. Dan di Jerman teoritis waktu itu, di atas segala-galanya dua hal adalah praktis: agama dan politik. Siapa yang memberikan tekanan utama pada sistim Hegel dapat menjadi agak konservatif di kedua bidang; siapa yang menganggap metode dialektiknya sebagai hal yang utama dapat tergolong ke dalam oposisi yang amat ekstrim, baik di lapangan politik maupun di lapangan agama. Hegel sendiri, meskipun terdapat cetusan-cetusan amarah revolusioner yang agak sering di dalam karya-karyanya, dalam keseluruhannya kelihatan seolah-olah cenderung pada segi konservatifnya. Memang, jika dibandingkan dengan metodenya sistimnya telah dibayarnya dengan penyumbatan mental yang ketat yang lebih banyak. Kearah akhir tahun-tahun tigapuluhan, keretakan di dalam aliran ini menjadi semakin nyata. Sayap kiri, apa yang disebut kaum Hegelian Kiri, dalam perjuangan mereka melawan kaum ortodoks pietis [1-3] serta kaum reaksioner feodal, sedikit demi sedikit meninggalkan sikap membatasi diri yang secara filsafat berbudi mengenai masalah terhangat pada waktu itu, masalah yang hingga saat itu ditenggang oleh negara dan bahkan ajaran-ajaran mereka mendapat perlindungan. Dan ketika, dalam tahun 1840, pietisme ortodoks dan reaksi feodal absolut naik takhta bersama-sama dengan Friedrikh Wilhelm IV, pemihakan terbuka tak dapat dihindari. Perjuangan itu berlangsung terus dengan menggunakan senjata filsafat, tetapi bukan lagi untuk tujuan-tujuan filsafat yang abstrak, perjuangan itu langsung diarahkan untuk menghancurkan agama tradisionil dan eksistensi negara. Dan semeiitara di dalam Deutskhe Jahrbiikher [1-4] tujuan praktis masih secara menonjol diajukan dengan memakai kedok filsafat, di dalam Rheiniskhe Zeitung tahun 1842 mazhab Hegelian Kiri langsung menampakkan dirinya sebagai filsafat burjuasi radikal yang sedang penuh dengan cita-cita dan menggunakan jubah filsafat yang sayup hanya untuk menipu sensur.

Tetapi, pada waktu itu, politik merupakan lapangan yang penuh dengan duri., dan maka itu perjuangan utama ditujukan terhadap agama; perjuangan itu, terutama sejak tahun 1840, secara tidak langsung adalah juga poilitis. Tulisan Strauss Kehidupan Jesus yang diterbitkan dalam tabun 1835, telah memberikan dorongan pertama. Teori yang dikembangkan di dalamnya tentang terjadinya mitos di dalam kitab-kitab injil kemdian diserang oleh Bruno Bauer dengan pembuktian bahwa seluruh seri ceritera-ceritera penjyebaran agama Nasrani itu telah direka-reka oleh penulis-penulisnya sendiri. Pertentangan antara keduanya berlangsung dengan berkedokkan filsafat, berupa perjuangan antara “kesadaran diri” dan “zat”. Masalah apakah cerita-cerita mujizat di dalam kitab injil terjadi lewat penciptaan mitos yang tradisionil di dalam lapisan tak sadar ditengah-tengah masyarakat atau apakah ia direka-reka oleh penginjil-penginjil itu sendiri dibesarkan menjadi masalah apakah, di dalam sejarah dunia, “zat” atau “kesadaran-diri” merupakan kekuatan operatif yang menentukan. Akhirnya datanglah Stirner, nabi anarkisme zaman itu – Bakunin telah mengambil banyak betul dari dia – dan menutupi “kesadaran-diri” yang sovereign itu dengan “ego”nya [1-5] yang sovereign.

Kita tidak akan memasuki lebih lanjut segi proses kehancuran aliran Hegelian ini. Yang lebih penting bagi kita ialah hal yang berikut init: bagian terbesar dari kaum Hegelian Muda yang amat teguh, oleh kebutuhan praktis perjuangannya melawan agama positif, didorong kembali ke materialisme Inggris-Perancis. Hal itu membikin mereka berkonflik dengan sistim aliran mereka sendiri. Sedangkan materialisme berpendapat bahwa alam adalah satu-satunya realitet, menurut sistim Hegel alam hanyalah “penjelmaan” ide absolut, dalam kata lain degradasi dari ide. Bagaimanapun, pemikiran dan hasil-pemikiran itu, ide, disini adalah primer, alam derivatifnya, yang hanya ada akibat rahmat ide. Dan dikontradiksi itu mereka menggerapai-gerapai sebaik dan sejelek yang dapat mereka lakukan.

Kemudian muncul Hakekat Agama Kristen [1-6] tulisan Feuerbach. Dengan satu pukulan buku itu meniadakan kontradiksi tsb., yaitu tanpa berbelit-belit dia menempatkan materialisme kembali di atas takhta. Alam ada lepas dari semua filsafat. Alam adalah dasar yang diatasnya kita umat manusia – kita sendiri adalah hasil alam telah tumbuh. Tidak ada yang ada diluar alam dan makhluk halus yang diciptakan oleh fantasi agama kita hanyalah pencerminan – fantastik dari hakekat kita sendiri. Kesaktiannya lenyap; “sistim” itu meledak dan dilemparkan ke samping, dan kontradiksi itu, yang ditunjukkan ada hanya di dalam khayal kita, telah diselesaikan. Untuk mempunyai gambaran tentang buku itu orang harus mengalami sendiri pengaruhnya yang membebaskan. Kegairahan adalah umum; kita semua segera menjadi Fuerbachian. Betapa bergairahnya Marx menyambut konsepsi baru itu dan seberapa banyaknya – meskipun terdapat pembatasan-pembatasan yang bersifat kritik – dia dipengaruhi oleh buku itu, dapat dibaca di dalam bukunya Keluarga Suci. [1-7]

Kelemahan-kelemahan yang terdapat pada buku itu pun memberikan sumbangan terhadap pengaruhnya yang segera. Gayanja-yang literer, kadang-kadang bahkan melonjak tinggi, mendapatkan pembaca yang banyak dan bagaimanapun merupakan seguatu yang menyegarkan setelah bertahun-tahun lamanya berfilsafat Hegelian yang abstrak dan sulit. Hal yang sama berlaku bagi pendewaannya yang boros terhadap cinta, yang, tampil sesudah kekuasaan berdaulat yang tak dapat dibiarkan sekarang ini dari “akal murni”, mempunyai permaafannya, jika bukan pembenarannya. Tetapi harus tidak kita lupakan ialah bahwa justru dua kelemahan Feuerbach itu, yaitu bahwa “Sosialisme sejati”, yang sejak tahun 1844 telah meluas bagaikan penyakit pes di Jerman “terpelajar”, mengambil sebagai titik-tolaknya, penggantian pengetahuan ilmiah dengan kalimat-kalimat literer, pembebasan umat manusia lewat “cinta” sebagai ganti pembebasan proletariat lewat perubahan ekonomi dari produksi – singkatnya, menenggelamkan dirinya di dalam tulisan baik yang memualkan dan di dalam keasyikan cinta-cinta yang khas Herr Karl Grun.

Hal lain yang semestinya tidak kita lupakan ialah aliran Hegelian berantakan, tetapi filsafat Hegelian tidak teratasi lewat kritik; Strauss dan Bauer masing-masing mengambil satu seginya dan secara polemik mempertentangkan segi itu terhadap segi yang lain. Feuerbach mendobrak sistim itu dan dengan begitu saja melemparkannya. Tetapi sesuatu filsafat tidak dikesampingkan dengan hanya mengatakan bahwa ia palsu. Dan karya yang begitu perkasa seperti filsafat Hegel, yang telah mempunyai pengaruh yang begitu besar terhadap perkembangan intelektuil bangsa, tidak bisa dilemparkan ke samping dengan hanya mengabaikannya. Ia harus “disangkal” menurut artinya sendiri, yaitu dalam arti bahwa disamping bentuknya harus ditiadakan lewat kritik, isi baru yang telah dicapai lewat filsafat itu harus diselamatkan. Bagaimana hal itu terwujud akan kita lihat dibawah ini.

Tetapi, sementara itu, Revolusi 1848 tanpa upacara mengesampingkan seluruh filsafat itu persis seperti juga Feuerbach tanpa upacara telah mengesampingkan Hegel.. Dan dalam prosesnya Feuerbach sendiri didesak juga ke belakang.


Catatan

[1-1] Ludwig Feuerbach, oleh K.N. Starcke, Ph.D, Stuttgart. Ferd. Enke, 1885. (catatan Engels).

[1-2] Dalam fikiran Engels terlintas catatan Heine tentang revolusi filsafat Jerman yang terdapat di dalam sketsa Heine Zur Geskhikhie der Religion und Philosophie in Deutskhland (Tentang Sejarah Agama dan Filsafat di Jerman), ditulis dalam tahun 1833. – red.

[1-3] pietis = orang yang amat saleh.

[1-4] Deutskhe Jahrbiikher fur Wissenskhaft und Kunst (Majalah Tahunan Jerman untuk ilmu dan seni), organ kaum Hegelian Muda yang redaksinya dipimpin oleh A. Ruge dan T. Ekhtermeyer, dan diterbitkan di Leipzig dari tahun 1841 sampai 1843. – red.

[1-5] Yang dimaksud Engels ialah tulisan Max Stirner (nama samaran Kaspar Skhmidt) Der Einzige und Sein Eigentum yang terbit dalam tahun 1845. – red.

[1-6] Tulisan Feuerbach Das Wesen des Christentums (Hakekat Agama Kristen) terbit di Leipzig dalam tahun 1841. – red.

[1-7] Judul lengkap buku Marx dan Engels ini ialah Die Heilige Familie oder Kritik der kritiskhen Kritik. Gegen Bruno Bauer und Konsorten (Keluarga Suci, atau Kritik terhadap Kritik yang kritis. Menentang Bruno Bauer dkk). Mulanya diterbitkan di Frankfurt Main dalam tahun 1845. – red.


Pengantar | 2. Materialisme dan Idealisme

Ludwig Feuerbach dan Akhir Filsafat Klasik Jerman

EngelsII – Materialisme dan Idealisme

Masalah fundamental yang besar dari semua filsafat, teristimewa dari filsafat yang akhir-akhir ini, ialah masalah mengenai hubungan antara pikiran dengan keadaan. Sejak zaman purbakala, ketika manusia, yang masih sama sekali tidak tahu tentang susunan tubuh mereka sendiri, di bawah rangsang khayal-khayal impian [2-1] mulai percaya bahwa pikiran dan perasaan mereka bukanlah aktivitas-aktivitas tubuh mereka, tetapi, aktivitas-aktivitas suatu nyawa yang tersendiri yang mendiami tubuhnya dan meninggalkan tubuh itu ketika mati – sejak waktu itu manusia didorong untuk memikirkan tentang hubungan antara nyawa dengan dunia luar. Jika pada waktu seseorang meninggal dunia nyawa itu meninggalkan tubuh dan hidup terus, maka tidak ada alasan untuk mereka-reka kematian lain yang tersendiri baginya. Maka itu timbul ide tentang kekekal-abadian, yang pada tingkat. perkembangan waktu itu sama sekali tidak nampak sebagai penghibur tetapi sebagai takdir yang terhadapnya tiada berguna mengadakan perlawanan, dan sering sekali, seperti dikalangan orang-orang Yunani, sebagai malapetaka yang sesungguhnya. Bukannya hasrat keagamaan akan suatu penghibur, tetapi kebingungan yang timbul dari ketidaktahuan umum yang lazim tentang apa yang harus diperbuat dengan nyawa itu, sekali adanya nyawa itu diakui, sesudah tubuh mati, menuju secara umum kepada paham tentang kekekal-abadian perorangan. Dengan cara yang persis sama, lahirlah dewa-dewa pertama, lewat personifikasi kekuatan-kekuatan alam. Dan dalam perkembangan agama-agama selanjutnya dewa-dewa itu makin lama makin mengambil bentuk-bentuk diluar-keduniawian, sehingga akhirnya lewat proses abstraksi saja hampir bisa mengatakan proses penyulingan, yang terjadi secara wajar dalam proses perkembangan intelek manusia, dari dewa-dewa yang banyak jumlahnya itu, yang banyak sedikitnya terbatas dan saling-membatasi, muncul di dalam pikiran-pikiran manusia ide tentang satu tuhan yang eksklusif dari agama-agama monoteis.

Jadi masalah hubungan antara pikiran dengan keadaan, hubungan antara jiwa dengan alam – masalah yang terpenting dari seluruh filsafat – mempunyai, tidak kurang daripada semua agama, akar-akarnya di dalam paham-paham kebiadaban yang berpikiran-sempit dan tiada berpengetahuan. Tetapi masalah itu untuk pertama kalinya dapat diajukan dengan seluruh ketajamannya, dapat mencapai arti pentingnya yang sepenuhnya, hanya setelah umat manusia di Eropa bangun dari kenyenyakan tidur yang lama dalam Zaman Tengah Nasrani. Masalah kedudukan pikiran dalam hubungan dengan keadaan, suatu masalah yang, sepintas lalu, telah memainkan peranan besar juga dalam skolastisisme Zaman Tengah, masalah: yang mana yang primer, jiwa atau alam – masalah itu, dalam hubungan dengan gereja, dipertajam menjadi : Apakah Tuhan menciptakan dunia ataukah dunia sudah ada sejak dulu dan akan tetap ada di kemudian hari?

Jawaban-jawaban yang diberikan oleh para ahli filsafat ke masalah ini membagi mereka ke dalam dua kubu besar. Mereka yang menegaskan bahwa jiwa ada yang primer jika dibandingkan dengan alam, dan karenanya, akhirnya, menganggap adanya penciptaan dunia dalam satu atau lain bentuk – dan di kalangan para ahli filsafat, Hegel, misalnya, penciptaan ini sering menjadi lebih rumit dan mustahil daripada dalam agama Nasrani – merupakan kubu idealisme. Yang lain, yang menganggap alam sebagai yang primer, tergolong ke dalam berbagai mazhab materialisme.

Dua pernyataan ini, idealisme,dan materialisme, mula-mula tidak mempunyai arti lain daripada itu; dan disinipun kedua pernyataan itu tidak digunakan dalam arti lain apapun. Kekacauan apa yang timbul bila sesuatu arti lain diberikan kepada kedua pernyataan itu akan kita lihat di bawah ini.

Tetapi masalah hubungan antara pikiran dengan keadaan mempunyai segi lain lagi – bagaimana hubungan pikiran kita tentang dunia di sekitar kita dengan dunia itu sendiri ? Dapatkah pikiran kita mengenal dunia yang sebenarnya? Dapatkah kita menghasilkan pencerminan tepat dari realitas di dalam ide-ide dan pengertian-pengertian kita tentang dunia yang sebenarnya itu? Dalam bahasa filsafat masalah ini dinamakan masalah identitas pikiran dengan keadaan, dan jumlah yang sangat besar dari para ahli filsafat memberikan jawaban yang mengiyakan atas pertanyaan ini. Hegel, misalnya, pengiyaanya sudah jelas dengan sendirinya; sebab apa yang kita kenal di dalam dunia nyata adalah justru isi-pikirannya – yang menjadikan dunia berangsur-angsur suatu realisasi dari ide absolut yang sudah ada di sesuatu tempat sejak dahulukala, lepas dari dunia dan sebelum dunia. Tetapi adalah jelas, tanpa bukti lebih lanjut, bahwa pikiran dapat mengetahui isi yang sejak semula adalah isi-pikiran. Adalah sama jelasnya bahwa apa yang harus dibuktikan disini sudah dengan sendirinya terkandung di dalam premis-premisnya. Tetapi hal itu sekali-kali tidak merintangi Hegel menarik kesimpulan lebih lanjut dari pembuktiannya tentang identitas pikiran dengan keadaan yaitu bahwa filsafatnya, karena tepat bagi pemikirannya, adalah satu-satunya yang tepat, dan bahwa identitas pikiran dengan keadaan mesti membuktikan keabsahannya dengan jalan umat manusia segera menerjemahkan filsafatnya dari teori ke dalam praktek dan mengubah seleruh dunia sesuai dengan prinsip-prinsip Hegel. Ini adalah suatu khayalan yang sama-sama terdapat pada Hegel dan pada hampir semua ahli filsafat.

Di samping itu masih ada segolongan ahli filsafat lainnya – mereka yang meragukan kemungkinan pengenalan apapun, atau sekurang-kurangnya pengenalan yang selengkap-lengkapnya, tentang dunia. Di dalam golongan ini, diantara para ahli filsafat yang lebih modern, termasuk Hume dan Kant, dan mereka telah memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan filsafat. Apa yang menentukan dalam menyangkal pandangan ini sudah dikatakan oleh Hegel, sejauh ini mungkin dari pendirian idealis. Tambahan-tambahan materialis yang diajukan oleh Feuerbach, adalah lebih bersifat cerdik daripada mendalam. Penyangkalan yang paling kena terhadap pikiran aneh ini seperti terhadap semua pikiran filsafat yang aneh lainnya ialah praktek, yaitu eksperimen dan industri. Jika kita dapat membuktikan ketepatan konsepsi kita tentang suatu proses alam dengan membikinnya sendiri, dengan menciptakannya dari syarat-syaratnya dan malahan membuatnya berguna untuk maksud-maksud kita sendiri, maka berakhirlah sudah “konsepsi” Kant yang tak terpahami itu tentang “benda-dalam-dirinya” Zat-zat kimia yang dihasilkan di dalam tumbuh-tumbuhan dan di dalam tubuh binatang tetap merupakan “benda-dalam-dirinya” itu sampai ilmu kimia organik mulai menghasilkan zat-zat itu satu per satu; sesudah itu “benda-dalam-dirinya” menjadi benda untuk kita, seperti, misalnya, alizarin, zat warna dari tumbuh-tumbuhan Rubiantinetorum, yang kita tidak susah-susah lagi menghasilkannya di dalam akar-akar tumbuh-tumbuhan itu di ladang, tetapi membuatnya jauh lebih murah dan sederhana dari tir batubara. Selama 300 tahun sistim tata surya Copernikus merupakan hipotesa dengan kemungkinan benarnya seratus, seribu atau sepuluh ribu lawan satu, meskipun masih tetap suatu hipotesa. Tetapi ketika Leverrier, dengan bahan-bahan yang diberikan oleh sistim itu, bukan hanya menarik kesimpulan tentang keharusan adanya suatu planet yang tidak diketahui, tetapi juga menghitung kedudukan yang mesti ditempati oleh planet itu di langit, dean ketika Gallilei benar-benar menemukan planet itu, [2-2] maka terbuktilah kebenaran sistim Copernikus itu. Jika, sekalipuni demikian, kaum Kantian Baru sedang mencoba menghidupkan kembali paham Kant di Jerman dan kaum agnostik menghidupkan kembali paham Hume di Inggris (dimana paham itu sesungguhnya belum pernah lenyap), maka, mengingat bahwa secara teori dan praktek bantahan terhadap paham-paham itu sudah lama dicapai, hal ini secara ilmiah merupakan kemunduran dan secara praktis hanya merupakan cara kemalu-maluan dalam menerima materialisme dengan diam-dima, sambil mengingkarinya di depan dunia.

Tetapi selama periode yang Panjang ini, yaitu sejak Descartes sampai Hegel dan sejak Hobbes sampai Feuerbach, para ahli filsafat sekali-kali tidak didorong, seperti yang mereka pikirkan, oleh kekuatan akal murni semata. Sebaliknya, yang betul-betul sangat mendorong mereka maju ialah kemajuan yang perkasa dan semakin cepat dari ilmu-ilmu alam dan industri. Di kalangan kaum materialis hal ini terang-benderang terlihat dipermukaan, tetapi sistim-sistim idealis juga semakin banyak mengisi diri dengan isi materialis dan mencoba secara panteis mendamaikan pertentangan antara pikiran dengan materi. Jadi, akhirnya, mengenai metode dan isi sistim Hegelian hanyalah mewakili materialisme yang dijungkirbalikkan secara idealis.

Oleh sebab itu dapat dipahami bahwa Starcke dalam karakterisasinya tentang Feuerbach pertama-tama menyelidiki pendirian Feuerbach dalam hubungan dengan masalah fundamental ini, yaitu hubungan pikiran dengan keadaan. Sesudah mengajukan suatu pengantar singkat, dalam mana pendirian-pendirian ahli filsafat yang terdahulu, terutama sejak Kant, dilukiskan dalam bahasa filsafat yang secara tidak semestinya berat, dan dalam mana Hegel, oleh karena terlalu formalistis berpegang teguh pada bagian-bagian tertentu dari karya-karyanya, pendapat jauh lebih sedikit daripada yang patut baginya, menyusul suatu penguraian mendetail tentang jalan perkembangan “metafisika” Feuerbach itu sendiri, sebagaimana jalan ini berturut-turut dicerminkan di dalam tulisan-tulisan filsuf itu yang ada sangkut pautnya disini. Penguraian itu disusun dengan rajin dan terang; hanya, seperti halnya seluruh buku itu, penguraian itu diisi dengan beban fraseologi filsafat yang disana-sini bukannya sama sekali tidak dapat dihindari dan yang pengaruhnya lebih mengganggu semakin kurang pengarangnya berpegang pada cara pengungkapan mazhab yang itu-itu juga, atau bahkan cara pengungkapan Feuerbach sendiri, dan sernakin banyak dia menyisipkan ungkapan-ungkapan aliran-aliran yang sangat berbeda-beda, terutama aliran-aliran yang kini merajalela dan, menamakan dirinya aliran filsafat.

Jalan evolusi Feuerbach ialah jalan evolusi seorang Hegelian – memang, tidak pernah seorang ortodoks Hegelian yang sempurna – menjadi seorang materialis; suatu evolusi yang pada tingkat tertentu mengharuskan adanya pemutusan hubungan seluruhnya dengan sistim idealis dari pendahulunya. Dengan kekuatan yang tak tertahan, Feuerbach akhirnya didorong menginsafi, bahwa adanya “ide absolut” pra-dunia dari Hegel, “adanya terlebih dulu kategori2 logis” sebelum dunia ada, adalah tidak lain daripada sisa2 khayalan dari kepercayaan tentang adanya pencipta diluar-dunia; bahwa dunia materiil yang dapat dirasa dengan panca indera, yang kita sendiri termasuk di dalamnya, adalah satu2nya realitas; dan bahwa kesadaran serta pemikiran kita, betapa diatas-panca-inderapun nampaknya, adalah hasil organ tubuh yang materiil, yaitu otak. Materi bukanlah hasil jiwa, tetapi jiwa itu sendiri hanyalah hasil tertinggi dari materi. Ini sudah tentu adalah materialisme semurni-murninya. Tetapi setelah sampai sedemikian jauh, Feuerbach tiba2 berhenti. Dia tidak dapat mengatasi purbasangka filsafat yang lazim, purbasangka bukan terhadap barangnya tetapi terhadap nama materialisme. Dia berkata: “Bagi saya materialisme adalah dasar dari bangunan hakekat dan pengetahuan manusia; tetapi bagi saya materialisme bukanlah seperti bagi ahli fisiologi, seperti bagi sarjana ilmu2 alam dalam arti yang lebih sempit, misalnya, bagi Moleskhott, dan memang suatu keharusan menurut pendirian dan pekerjaan mereka, yaitu bangunan itu sendiri. Ke belakang saya setuju sepenuhnya dengan kaum materialis; tetapi ke depan tidak.”

Disini Feuerbach mencampurbaurkan materialisme yang merupakan pandangan-dunia umum yang bersandar pada pengertian tertentu tentang hubungan antara materi dengan pikiran. dengan bentuk khusus dalam mana pandangan-dunia ini dinyatakan pada tingkat sejarah tertentu, yaitu dalam abad ke-18. Lebih daripada itu, dia mencampurbaurkannya dengan bentuk yang dangkal, yang divulgarkan, dalam mana materialisme abad ke-18 hidup terus hingga hari ini di dalam kepala2 para ahli ilmu2 alam dan fisika, bentuk yang dikhotbahkan oleh Bükhner, Vogt dan Moleskhott pada tahun limapuluhan dalam perjalanan keliling mereka. Tetapi. sebagaimana idealisme mengalami sederet tingkat2 perkembangan, begitu juga materialisme. Dengan setiap penemuan yang membuat zaman, sekalipun di bidang ilmu2 alam, materialisme harus mengubah bentuknya, dan setelah sejarah juga dikenakan perlakuan materialis, maka disinipun terbuka jalan raya perkembangan yang baru.

Materialisme abad yang lampau adalah terutama mekanis, sebab pada waktu itu, di antara semua ilmu2 alam hanya ilmu mekanika, dan memang hanya ilmu mekanika benda2 padat – langit dan bumi – pendek kata, ilmu mekanika gravitasi telah mencapai titik akhir tertentu. Ilmu kimia pada waktu itu baru berada dalam masa kanak2nya, dalam bentuk phlogistis. [2-3] Biologi masih berlampin; organisme2 tumbuh2an dan hewan baru saja diperiksa secara kasar dan dijelaskan sebagai akibat sebab2 mekanik semata. Seperti hewan bagi Descartes, begitu juga manusia bagi kaum materialis abad ke-18 adalah suatu mesin. Penerapan secara eksklusif norma2 mekanika ini pada proses2 yang bersifat kimiawi dan organik – yang di dalamnya hukum2 mekanika memang berlaku tetapi didesak kebelakang oleh hukum2 lain yang lebih tinggi – merupakan keterbatasan khusus yang pertama tapi yang pada waktu itu tak terhindarkan dari materialisme klasik Perancis.

Keterbatasan khusus yang kedua dari materialisme ini terletak dalam ketidakmampuannya memahami alam semesta sebagai suatu proses, sebagai materi yang mengalami perkembangan sejarah yang tak putus2nya. Ini sesuai dengan tingkat ilmu2 alam pada waktu itu, dan dengan cara berfilsafat secara metafisik, yaitu antidialektik, yang bertalian dengan tingkat ilmu2 itu. Alam, sejauh yang sudah diketahui, berada dalam gerak yang kekal-abadi. Tetapi menurut ide2 pada waktu itu, gerak itu berlangsung, juga dengan kekal-abadi, dalam lingkaran dan karenanya tidak pernah berpindah dari tempatnya: gerak itu berulang-ulang menghasilkan hasil yang itu2 juga. Pandangan itu pada waktu itu tidak dapat dielakkan. Teori Kant tentang asal-usul tata surya [2-4] baru saja dikemukakan dan masih dianggap sebagai suatu barang ajaib belaka. Sejarah perkembangan bumi, geologi, masih sama sekali belum diketahui, dan konsepsi bahwa makhluk2 alam yang bernyawa di hari ini adalah hasil guatu rentetan perkembangan yang panjang dari yang sederhana ke yang rumit, pada waktu itu sama sekali tidak dapat dikemukakan secara ilmiah. Oleh sebab itu pendirian yang tidak historis terhadap alam tidak dapat dielakkan. Semakin kuranglah alasan kita untuk mencela para ahli filsafat abad ke-18 tentang hal itu, karena hal yang sama terdapat pada Hegel. Menurut Hegel, alam, sebagai “penjelmaan” semata diri ide, tidak mampu berkembang dalam waktu hanya mampu memperbesar kelipatgandaannya dalam ruang, sehingga alam bersamaan dan berdampingan satusamalain memperlihatkan semua tingkat perkembangan yang terkandung di dalamnya, dan ditakdirkan mengalami pengulangan yang kekal-abadi dari proses-proses yang itu2 juga. Hal yang tak masuk akal ini, yaitu perkembangan dalam ruang, tetapi yang lepas dari waktu – syarat fundamental bagi semua perkembangan – dipaksakan oleh Hegel pada alam justru ketika geologi, embriologi, fisiologi tumbuh2an dan hewan, serta ilmu kimia organik sedang dibangun, dan ketika dimana-mana berdasarkan ilmu2 baru ini sedang tampil ramalan2 gemilang dari teori evolusi yang datang kemudian (misalnya; Goethe dan Lamarck). Tetapi sistim menuntutnya; maka itu metode, demi kepentingan sistim, harus menjadi tidak jujur terhadap dirinya sendiri.

Konsepsi tidak-historis yang sama berkuasa juga di bidang sejarah. Di bidang itu perjuangan melawan sisa2 Zaman Tengah memburemkan pandangan. Zaman Tengah dianggap sebagai interupsi sejarah belaka selama seribu tahun kebiadaban umum. Kemajuan besar yang dibuat dalam Zaman Tengah – peluasan wilayah kebudayaan Eropa, bangsa-bangsa besar yang berdayahidup sedang terbentuk di wilayah itu damping-mendampingi, dan akhirnya kemajuan teknik yang luar biasa pada abad ke-14 dan ke-15 – semua ini tidak dilihat. Jadi tidak dimungkinkan adanya pengertian rasionil tentang saling-hubungan kesejarahan yang besar, dan sejarah paling banyak menjadi suatu kumpulan contoh-contoh dan ilustrasi2 untuk digunakan oleh para ahli filsafat.

Penjaja2 yang melakukan pemvulgaran, yang di Jerman pada tahun limapuluhan berkecimpung dalam materialisme, sama sekali tidak mengatasi keterbatasan guru2 mereka itu. Seluruh kemajuan ilmu2 alam yang sementara itu telah dicapai bagi mereka hanyalah bukti2 baru saja yang dapat digunakan untuk menentang adanya pencipta dunia; dan, memang, mereka sama sekali tidak menjadikan pengembangan teori itu lebih jauh sebagai usaha mereka. Walaupun idealisme sudah tidak bisa berkembang lagi dan mendapat pukulan yang mematikan dari Revolusi 1848, ia mempunyai kepuasan melihat bahwa materialisme untuk waklu itu sudah tenggelam lebih dalam lagi. Tidak dapat disangkal bahwa Feuerbach adalah benar ketika dia menolak memikul tanggungjawab atas materialisme itu; hanya dia semestinya tidak mencampurbaurkan ajaran2 pengkhotbah2 berkelilling itu dengan materialisme pada umumnya.

Tetapi, disini, ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, semasa hidup Feuerbachpun, ilmu2 alam masih berada dalam proses pergolakan yang hebat, pergolakan yang baru selama limabelas tahun yang akhir2 ini mencapai kesimpulan relatif yang membawa kejelasan. Bahan2 ilmiah baru telah diperoleh dalam ukuran yang belum pernah terdengar hingga kini, tetapi penetapan saling-hubungan, dan dengan demikian soal membawa ketertiban ke dalam kekacauan penemuan2 yang dengan cepatnya susul-menyusul, baru akhir2 ini menjadi mungkin. Memang benar bahwa Feuerbach semasa hidupnya masih sempat menyaksikan ketiga penemuan yang menentukan – penemuan sel, transformasi energi dan teori evolusi, yang diberi nama menurut Darwin. Tetapi bagaimana seorang ahli filsafat yang kesepian, yang hidup dalam kesunyian desa, dapat secara memuaskan mengikuti perkembangan2 ilmiah guna menghargai menurut sepenuh nilainya penemuan2 yang sarjana2 ilmu2 alam sendiri pada waktu itu masih membantahnya atau tidak tahu bagaimana menggunakannya sebaik-baiknya? Kesalahan tentang ini semata-mata terletak pada syarat2 yang menyedihkan yang terdapat di Jerman, yang mengakibatkan tukang2 tindas-kutu eklektis yang melamun telah menempati mimbar2 filsafat, sedangkan Feuerbach yang menjulang tinggi diatas mereka semua, harus tinggal diudik dan membusuk disuatu desa kecil. Maka itu bukanlah salah Feuerbach bahwa konsepsi historis tentang alam, yang kini sudah mungkin dan yang menyingkirkan segala keberatsebelahan materialisme Perancis, tetap tak tercapai olehnya.

Kedua, Feuerbach memang tepat dalam menyatakan bahwa materialisme alam-ilmiah yang eksklusif adalah sesungguhnya dasar dari bangunan pengetahuan manusia, tetapi bukan bangunan itu sendiri. Karena kita tidak hanya hidup di dalam alam, tetapi juga di dalam masyarakat manusia, dan inipun, tidak kurang daripada alam, mempunyai sejarah perkembangannya dan ilmunya. Oleh sebab itu soalnya ialah membikin ilmu tentang masyarakat, yaitu jumlah keseluruhan dari apa yang dinamakan ilmu-ilmu sejarah dan filsafat, selaras dengan dasar materialis, dan membangunnya kembali di atas dasar itu. Tetapi tidak ditakdirkan bahwa Feuerbachlah yang melakukan hal yang demikian itu. Meskipun ada “dasar”nya, dia disini tetap terikat oleh belenggul2 idealis yang tradisionil, suatu kenyataan yang dia akui dengan kata2 berikut ini : “Kebelakang saya setuju dengan kaum materialis, tetapi kedepan tidak!” Tetapi disini Feuerbach sendirilah yang tidak maju “kedepan”, ke lapangan sosial, yang tidak dapat melampaui pendiriannya tahun 1840 atau 1844. Dan lagi ini terutama disebabkan oleh pengasingan diri yang memaksa dia, yang, diantara semua filsuf, adalah yang paling cenderung kepada pergaulan, kemasyarakatan, untuk menghasilkan pikiran2 dari kepalanya yang kesepian itu dan bukan sebaliknya, yaitu dari pertemuan2 yang bersahabat dan bermusuhan dengan orang2 lain yang sekaliber dengan dia. Kelak akan kita lihat secara mendetail seberapa banyak dia tetap seorang idealis di dalam bidang itu.

Hanya perlu ditambahkan lagi disini bahwa Starcke mencari idealisme Feuerbach di tempat yang salah. “Feuerbach adalah seorang idealis; dia percaya akan kemajuan umat manusia.” (hlm. 19). “Dasar, bangunan bawah dari keseluruhannya, bagaimanapun tetap idealisme. Realisme bagi kami tidaklah lain daripada suatu perlindungan terhadap penyelewengan2, sementara kami mengikuiti kecenderungan2 ideal kami. Bukankah kasih, cinta dan kegairahan akan kebenaran dan keadilan merupakan kekuatan2 ideal?” (hlm. VIII).

Pertama, idealisme disini tidak mengandung arti lain daripada pengejaran tujuan2 ideal. Tetapi, ini seharusnya paling2 menyangkut idealisme Kant dan “imperatif kategoris”nya, sebaliknya, Kant sendiri menyebut filsafatnya “idealisme transcendental”; dan sekali-kali bukan karena dia di dalamnya juga mempersoalkan cita2 etika, tetapi karena alasan2 yang lain samasekali, sebagaimana Starcke akan ingat. Takhayul bahwa idealisme filsafat bersendikan kepercayaan akan cita2 etika, yaitu cita2 sosial, timbul diluar filsafat, dikalangan kaum filistin Jerman, yang mengapalkan diluar kepala beberapa bagian kebudayaan filsafat yang mereka perlukan dari syair2 Skhiller. Tidak seorangpun yang lebih keras mengecam “imperatif kategoris” Kant yang impoten, impoten karena dia menuntut hal yang tidak mungkin, dan karenanya tidak pernah menjadi kenyataan – tidak seorangpun yang lebih kejam mencemoohkan kegairahan filistin yang sentimental akan cita2 yang tak dapat direalisasi yang diajukan oleh Skhiller daripada justru Hegel, orang idealis yang sempurna itu. (Lihat misalnya, bukunya Fenomenologi).

Kedua, kita sekali-kali tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa segala sesuatu yang membikin manusia bertindak harus melalui otak mereka – bahkan makan dan minum, yang mulai sebagai akibat dari rasa lapar atau rasa haus hanya disampaikan melalui otak dan berakhir sebagai hasil rasa puas yang juga disampaikan melalui otak. Pengaruh2 dunia luar terhadap manusia menyatakan dirinya di dalam otaknya, dicerminkan di dalamnya sebagai perasaan, pikiran, rangsang, kemauan – pendek kata, sebagai “kecenderungan2 ideal”, dan dalam bentuk ini menjadi “kekuatan2 ideal”. Maka itu, jika seseorang harus dianggap idealis karena dia mengikuti “kecenderungan2 ideal” dan mengakui bahwa “kekuatan2 ideal” mempunyai pengaruh terhadap dia, maka sietiap orang yang agak normal perkembangannya adalah seoreang idealis sejak lahirmya dan jika demikian apakah masih bisa ada seorang materialis?

Ketiga, keyakinan bahwa kemanusiaan, sekurang-kurangnya pada saat sekarang ini, dalam keseluruhannya bergerak menurut arah yang maju tidak mempuniai sangkut paut apapun dengan antagonisme antara materialisme dan idealisme. Kaum materialis Perancis, tidak kurang daripada orang2 deis seperti Voltaire dan Rousseau menganut keyakinan itu dalam derajat yang hampir fanatik, dan kerapkali telah membuat pengorbanan perorangan yang paling besar untuk keyakinan itu. Jika pernah ada orang yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada “kegairahan akan kebenaran dan keadilan” – menggunakan kata2 itu dalam arti yang baik – maka orang itu adalah Diderot, misalnya. Oleh sebab itu, jika Starcke menyatakan bahwa semua itu adalah idealisme, maka ini hanya membuktikan bahwa bagi dia kata materialisme, dan seluruh antagonisme antara kedua aliran itu telah hilang segala artinya.

Kenyataannya ialah bahwa Starcke, walaupun barangkali secara tidak sadar, dalam hal ini memberi konsesi yang tidak dapat diampuni kepada prasangka filistin yang tradisionil mengenai perkataan materialisme, yang diakibatkan oleh pemfitnahan kata itu dalam waktu lama oleh pendeta2. Perkataan materialisme oleh si filistin diartikan kerakusan, kemabukan, mata-keranjang, nafsu berahi, kesombongan, kelobaan, kekikiran, ketamakan, pengejaran laba dan penipuan bursa – pendeknya, segala kejahatan busuk yang dia sendiri lakukan secara sembunyi2. Perkataan idealisme diartikannya kepercayaan akan kebajikan, filantropi universal dan secara umum suatu “dunia yang lebih baik,” yang dia sendiri banggakan dimuka orang lain, tetapi yang dia sendiri hanya percaya selama dia berada dalam kesusahan atau sedang mengalami kebangkrutan sebagai akibat dari ekses2 “materialis”nya yang biasa. Waktu itulah dia menjanjikan lagu kesayangannya: Manusia itu apa ? – Setengah binatang, setengah malaikat.

Adapun tentang hal2 lainnya, Starcke dengan bersusahpayah membela Feuerbach terhadap serangan2 dan ajaran2 para asisten profesor yang berteriak2, yang kini di Jerman memakai nama ahli filsafat. Bagi orang2 yang berminat akan tembuni dari filsafat klasik Jerman, ini sudah tentu merupakan soal yang penting; bagi Starcke sendiri mungkin nampaknya peritu. Tetapi, kami tak akan menyusahkan pembaca dengan itu.


Catatan

[2-1] Di kalangan orang liar dan orang2 biadab yang tingkat perkembangannya lebih rendah masih umum terdapat ide bahwa bentuk manusia yang tampil di dalam mimpi adalah nyawa yang untuk sementara waktu meninggalkgn tubuh2 manusia itu; oleh sebab itu, orang yang sesungguhnya yang bertanggungjawab atas tindakan yang dilakukan oleh wujudnya di dalam mimpi terhadap orang yang mimpi. Imthurn menemukan kepercayaan yang seperti itu misalnya dikalangan orang Indian di Guicma dalam tahun 1884. (Keterangan Engels).

[2-2] Planet yang dimaksud ialah Neptunus, ditemukan pada tahun 1846 oleh Johann Gaililei, seorang ahli astronomi di Observatorium Berlin. – red.

[2-3] Teori phlogistis: teori yang berlaku di bidang ilmu kimia dalam abad2 ke-17 dan ke-18 dan yang menyatakan bahwa pembakaran terjadi karena di dalam badan tertentu terdapat zat khusus yang bernama phlogiston. - red.

[2-4] Teori yang menyatakan bahwa matahari dari planet2 berasal dari gumpalan kabut pijar yang berputar. – red.


Pengantar | 3. Feuerbach

Ludwig Feuerbach dan Achir Filsafat Klasik Jerman

III – Feuerbach

Idealisme Feuerbach jang sesungg hnja mendjadi djelas segera kita sampai pada filsafatnja tentang agama dan etika. Dia samasekall tidak berkehendak menghapuskan agama; dia ingin menjempurnakannja. Filsafat itu sendiri harus dilebur kedalam agama. “Periode2 kemanusiaan dibeda-bedakan hanja dengan, perubahan2 agama. Suatu gerakan sedjarah adalah fundamental hanja apabila ia berakar didalam hati manusia. Hati bukanlah suatu bentuk agama, sehingga jang tersebut belakangan sehavusnja ada djuga didalam hati; hati adalah hakekat agama.” (Dikutip oleh Starcke, halaman. 168) Menurut Feuerbach, agama adau hubungan jang berdasarkan kasih-sajang diantara machluk, hubungan jang berdasarkan hati, hubungan mana sampai kini telah mentjari kebenarannja pada bajangandalam-tjermin jang fantasy tentang kenjataan – dengan perantaraan satu atau banjak Tuhan, bajangandalam-tjermin ads fantasy tentang sifat2 manusia tetapi jang sekarang menemiukannja langsung dan tanpa sesuatu perantaraan apapun dalam tjinta antara “Aku” dan “Engkau”. Demikianlah, achirnja, bagi Feuerbach tjinta kelamin mendjadi salahsatu bentuk tertinggi, djika bukan bentuk jang tertinggi, dari praktek agamanja jang baru.

Kini hubungan2 antara manusia dengan manusia, jang didasarkan pada kasihsajang, dan tertutama antara dua djenis kelamin, telah ada selama umatmanusia ada. Chususnja tjinta kelamin telah mengalami perkembangan dan selania delapan ratus tahun jang terachir ini merebut suatu tempat jang membuatnja sebagai suatu titikpusat wadjib dari semua puisi selama periode itu. Agama2 positif jang ada membatasi diri pada memberi pengkudusan jang lebih tinggi pada tjinta kelamin jang diatur oleh negara, jaitu, pada undang2 perkawinan, dan esokharinja semuanja dapat lenjap tanpa mengubah sedikitpun praktek tjinta dan persahabatan. Demikianlah, agama Kristen di Perantjis, sebenarnja, lenjap samasekali dalam tahun2 1793-1798 sehingga Napoleonpun tidak dapat memberlakukannja kembali tanpa menghadapi oposisi dan kesukaran; dan tanpa dirasakan kebutuhan akan suatu pengganti, menutut pengertian Feuerbach, dalam d arak waktu itu.

Idealisme Feuerbach disini menganduna hal2 berikut ini: dia tidak begitu sadja menerima salinghubungan2 jang -didasarkan atas ketjendemngan timbal-balik diantara umatmanusia, seperti tjinta kelamin, persabatan, belaskasihan, pengorbanan-diri sendiri, dsbnja, persis menurut apa adanja – tanpa menghubungkannja dengan agama tertentu jang baginia, pada masalampau; tetapi sebaliknja bahwa hal2 itu akan memperoleh nilainja jang penuh hanja apabila dikuduskan atasnama agama. Hal jang utama baginja bukanlah bahwa hubungan2 jang semata-mata bersifat kemariusiaan ini ada, tetapi bahwa hubungan-hubungan tersebut harus difahami sebagai agama baru, agama sedjati. Hubungan2 tersebut akan meinpunjai nilai-jang penuh hanja setelah diberi tjap agama. Agama (religi) berasad dari kata religare dan menurut asal katanja berarti ikatan. Karena itu, setiap ikatan antara dua orang adadah suatu agama. Muslihat2 etimologis sedemikian itu adalah tempat berlindung filgafat idealis jang terachir. jang penting bukanlah apa arti kata itu menurut perkembangikn seajarah penggunaannja jang sesungguhnja, melainkan apa seharusnja artinja menurut asalkatanja. Dan dengan demikian tjinta kelamin, dan hubungan diantara djenis2, kelamin dipudja-p,udja mendjadi agama, semata-mata agar supaja kata agama, jang bagi kenang-kenangan idealis begitu tertjinta, djangan sampai lenjap dari bahasa. Kaum reformis Paris dari aliran Louis Blanc biasa berbitjara dengan tiara jang persis sama pada tahun2 empatpuluhan. . Mereka djuga dapat menggambarkan seseorang tanpa agama hanja sebagai machluk buas dan biasa berkata: “Donc, l’atheisme c’est votre religion![3-1].

Djika Feuerbach ingin mendirikan agama sedjati atas dasar suatu konsepsi tentang alam jang pada hakekatnja materialis, maka itu adalah sama dengad mengang, gap ilmttkimia modern sebagai alkimi sedjati. Dj.ika agama bisa ada tanpa Tuhannja, maka alkimi bdsa adi tanpa batu’filosufnja. Sambillalu, ada hubungan jang sangat erat antara alkimi dan agama. Batu-filosuf menipuniai baniak sifat ketuhanan dan ahli-alkim6 Mesirjunani’pada dua abad pertama zaman kita ambilbagian dalam perkembangan doktrin2 Kristen, seperti telah dibuktikan olth bahan2 jang diberikan oleb Kopp dan Berthelot.

Pirnjataan Feuerbach bahwa “periode2 kemagusiaan dibeda-bedakan ihanja dengan perubahan2 agama” pasti salah. Titikbalik2 sedjarah jang besar telah diiringi oleh pergantian2 agama hanja sedjauh mengenai tiga agama dutiia jang ada sampai ki:ni – Budisme, a ama Kristen dan Islam Agama2 Sukubangsa dan nasional lama, jang timbul setjara spontan, tidak memasukkan. orang baru kedalam agamanja dan kehilangan seluruh daja-perlawanannji segera setelah kemerdekaan sukubaingsa atau nasion itu hilang. Bagi orang2 Djerman tjukuplah mempunjai hubungan sederhana dengan keradjaan dunia Ruipawi jang sedang meruntuh dan dengan agama dunia Kristennja jang baru dipeluknja jang tjotjok dengan sjarat2 ekonomi, politik dan ideologinjat Hanja ngan agama2 chunia itu, jang timbul sedikit-banjak setjara di-bikin2 terutama agama Kristen dan Islam, kita dapati bahwagerakan2 sedjarah ja;ng lebih umum memperoleh tjap keagimaan. Bahkan mengenai agama Kristen tjap keagamaan dalam revolusi2 jang mempunjai arti benar2 universil, terbatas pada tingkat2 pertama perdjuangan burdjuasi untuk emansipasi – dari abad ke-13 sampal abad ke-17 – dan harus diterangkan, bukan seperti jang difikirkan Feuerbach, jaitu lewat hati manusia dan kebutuhan2 agamania, tetapi lewat seluruh sedjarah jang terdahulu dari Abad Tengah, jang ti-dak mengenal bexituk ideologi lain daripada djustru agama dan teologi. Tetapi ketika burdjuasi abad ke-18 telah tjukup diperkuat, djuga memiliki ideologinja sendiri jang sesuai,dengan pendirian klasn)a sen,diri, mereka melakukan revolusinia jang besar dan menentukan, revolusi Perantjis, memohon kepada ide2 hukum dan politik semaita aan menqhilraukan agama .hanja sedjauh agama itu merintangi mereka. Tetapi tidak pernah terlintas dalam fik.iran mereka’untuk menggantikan agama jang lama dengan jang baru, Setiap orang tahu bagaimana Robespierre gagal dalam usahanja [3-2].

Kemungkinan tentang adanja sentimen2 jang sematamata bersifat kemanusiaandalam hubtungan kita dengan manusia2 lain dewasa ini sudah tjukup dibatasil oleh masjarakat dimana kita harus hidup, masjarakat jang didasarkan atas antagonisms klas dan kekuasaan klas. Kita tidak mempunjai – alasan untuk lebih membatasinja lagi dengan mendewa-dewakan sentimen2 itu sampai mendjadi agama. Dan begitupun pemahaman terbehap perdtuangan2 klas jang besar didalam sedjarah telah tjukup diburengkan oleh historiografi masakini, terutama di Djerman, sehingga tidak pula ada keperluannja bagi kita untuk membikin pemahaman sedemikian itu samasekali tidak mungkin dengan mengubah sedjarah perdjuangan itu mendjadi embel2 belaka dari sedjarah kegeredjaan. Sedjak itu sudah mendjadi dielas seberapa djauh kita kini telah bergerak melampaui Feuerbach. “Bagian2 tulisannja jang paling baik” jang memuliakan agama barunja – tjinta – kini samasekali takterbatja.

Satu2nja agama jang dengan serius diselidiki oleh Feuerbach jalah agama Kristen, agama dunia Barat, jang berdasarkan monoteisme. Dibuktikannja bahwa Tuhan agama Kristen hanjalah suatu pentjerminan fantastis, suatu bajangan-dalam-tjerman, dari manusia. Akan tetapi, sekarang Tuhan itu sendiri adalah hasil proses abstraksi jang mendjemukan, intisari jang terkonsentrasi dari banjak Tuhan sukubangsa dan nasional jang terdahulu. Dan manusia, jang bajangannja adalah Tuhan itu, adalah karenanja pula bukan manusia njata, tetapi begitupun djuga adalah intisari banjak manusia njata, manusia dalam abstraksi, makaitu dia sendiri adanjata, manusia dalam abstraksi, makaitu dia sendiri adalah bajangan rochaniah djuga. Feuerbach, jang pada setiap halaman mengchotbahkan rasa pantjaindera, keasjikan pada jang kongkrit, pada kenjataan, mendjadi smasekali abstrak segera dia mulai berbitjara tentang sesuatu jang lain daripada hubungan2 kelamn semata diantara sesama manusia.

Diantara hubungan2 itu hanja satu aspek jang menarik perhatiannja: moral. Dan disini, djiki dibandingkan dengan Hegel, kita teipesona lagi -oleh kekerdilan Feuerbach jang mentakdjubkan! Etika Hegel, atau adjaran terftang tindak-tanduk moral, adalah filsafat hukum dan meliputi: 1) hukum abstrak; 2) moral; 3) etika sosial (Sittlichkeit) jang djuga mentjakup: keluarga, masjarakat sivil dan negara. Disini isi adalah serealistis seperti bentuk adalah idealistis. Disamping moral, seluruh lapangan hukum, ekonmi, politik termasuk disini. Dengan Feuerbach soalnja djustru adalah kebalikannja. Dalam bentuk dia realistis karena dia mengambil titiktogaknja dari manusia ; tetapi samasekali tidak ada d-isebut-sebut tentang dunia tempat manusia ini hidup; makaitu, manusia ini tetap selimanja manusia abstrak jang itu djuga, jang menempati lapangan dalam filsafat agama. Karena maniusia ini tidak dilahirkan oleh wanita; dia keluar, seperti dari sebuah kepomong, -dari,TuJian agama2 monoteis. Karena itu dia tidak hidup dalam dunia njata jang , terwudjud menurut sedjarah dan ditentukan menurut sectjarah. Benar. dia mempunjai pergaulan dengan, manusia lain; akan tetapi masing2 mereka itu adalah sama2 siuatu abstraksi, seperti dia sendiri adalah suatu abstraksi. Dalam filsafat agamania masih ada pria dan waniia, tetapi dalam etikanjabahkan perbedaan jang terachir itupun lenjap. Feuerbach, memang benar, pada djarak@, waktu jang pandjang mengeluarkan pemjataan2 seperti: “Orang jang didalam istana berfikir lain daripada jang didalam gubuk.” “Djika karena kelaparan, karena kesengsaraan, orang tidak mempunjai isi didalam tubuhnja, maka begitupun djuga dia tidak mempunjai isi untuk moral.didalam kepalanja, di-dalam fikiran -atau hatinja.” “Politik harus mendjadi agama kita”, dsbnja. Tetapi, dengan utjapan2. itu, Feuerbach samasekali tidak mampu mentjapai sesuatu. Utjapari? itu tietap merupakan kata2 belaka dan Starckepun terpaksa mengakui biahwa bagi Feuerbach politik merlupakan tapalbatas jang takterlalui dan ,ilmiu tentang masjarakat, sosiologi, adalah terra incognita baginja.

Dia tampak sama dangkalnja,djika dibandingkan dengan Hegel, dalam memperlakukan antitese antara baik dan djahat. “Orang pertjaja bahwa dia mengatakan sesuatu jang besar”, kata Hegel, “kalau dia mengatakan, bahwa manusia.pembawaannja baik’. Tetapi orang lupa, bahwa orang mengatakan sesuatu jang djauh lebih besar, apabila dia mengatakan manusia pembawaannja djahat.” Bagi Hegel kedjajlatan adalah bentuk -dengan mana kekuatan penggerak perkembangan sedjarah menampakkan dirinja. Itu mengancbung pengertian rangkap bahwa, disatu fihak, setiap kemadjuan baru menurut keharusan nampak sebagai suatu pelanggarang terihadap hal2 jang telah disiftjikan, sebagai pemberontakan terhadap keadaan, walaupun sudah tua dan sekarat, jang akan disutjikan oleh kebiasaan; dan bahwa, difihak lain, djustru nafsu2 djahat manusialah kerakusan dan kehausaii akan kekuasaan – jang, sedjak timbulnja antagonisme2 klas, berlaku sebagai pendorong perkembangan sedjarah – suatu kenjataan jang sedjarah feodalisme dan burdjuasi, misainja, merupakan bukti tunggal jang terus-menerus. Tetapi tidak terlintas dalam fikira,n Feuerbach untuk menielidiki peranan sedjarah dari kedjahatan moral. Bagi dia sedjarah adalah suatu bidang jang, samasekali aneh -dan menakutkan dimana dia merasa gehsah. Dia bahkan mengutjapkan: “Manusia, karena mula2 berasad dari alam, ihanjalah suatu machluk alamiah belaka, bukan manusia. Manusia adalah hasil manusia, hasil kebudajaan, hasil sedjarah” – bagi dia utjapan inipun tetap sepenuhnia mandul.

Oleh karena itu, jang dapat dikatakan oleh Feuerbach kepada kita tentang moral, hanjalah kerdil sekali. Dorongan untuk mentjapai kebahagiaan adalah pembawaan manusia, dan karenanja harus merupakan dasar bagi seluruh moral. Tetapi dorongan untuk mentjapai kebahagiaan terkena koreksi rangkap. Pertama, oleh akibat2 wadjar dari tindakan2 kita : sesudah mengumbar hawanafsu menjusul kesengsaraan dan kebiasaan berbuat melampaui batas disusul oleh penjakit. Kedua, oleh akibat2 sosialnja : djika kita tidak menghormati doro,ngan jang serupa untuk mentjapai kebahagiaan bagi orang lain, maka merftka akan membela diri, dan dengan demikian merintanii dorongan kita sendiri untuk mentjapai kebahagiaan. Akibatnja, untuk memenuhi dorongan kita, kita harus setjara tepat menghargai shasil tingkah-laku kita dan bersamaa,n dengan itu memberikan -hak sama kepada orang2 lain untuk mentjari kebahagiaan. Pengekangan-sendiri setiara rasionil terhadap diri kita sendiri, dan tjinta – lagi-lagi tjinta! – didalam pergaulan kita dengan orang2 lain – inilah hukum-hukum fundamental moral Feuerbach; semua hiukum lainnja berasal dari hukum2 fundamental itu. Dan baik utjapan2 Feuerbach jang paling bersemangat maupun pudjian2 jang paling tinggi dari Starcke tidak dapat menjembunjikan kekerdilan dan kebojakan beberapa dalil itu.

Hanja dalam keadaan2 jang amat luarbiasa dan se-kali-kali tidak menguntungkan dia dan orang lain’ seseorang dapat memenuhi dorongannja untuk mentiapal kebahagiaan dengan kesibukan sendiri. Sebaliknja dia riembutuhkan kesibukan dengan dunia luar, hal har untuk memenuhi kebutuhannja, jaitu, makanan, seseorang dari kelami ‘ n laid, bitiku-bu.ku, pertiakapa;n, per-debactan, aktivitet2, benda2 untuk dipergunakan dan diolah. Moral Feuerbach mensjaratkan bahwa hal2 dan objek2 untuk memenuhi kebutuhan itu diberikan kepada setiap individu dengan begitu sadja, atau moral ittu banja memberikan nasehat baik jang tidak dapat ditrapkan da’n karenanja ti,dak berharga sepeserpun bagi orang2 jang tidak mempunjai hal2 tersebut. Dan Feuerbach sendiri menjatakan hal itu idalam kata2 jang djelas: “Orang jang didalam istana berfikir lain daripada jang didalam gubuk. Djika karena kelaparan, karena kesengsaraan, orang tidak mempunjai isi didalam tubuhnja, maka begitu djuga dia tidak inempiunjai isi untukmoral didalam kepalanja, di-dalam djiwa maupun hatinia.”

Apakah mengenai haksama orang lain dalam memenuhi dorongan untuk mentjapai kebabagioan keadaannja, adadah lebih baik ? Feuerbach mengemukakan tuntutan ini sebagai ihal jang mutlak, sebagai hal jang berlaku pada setiap waktu dan dalam setiap keadaan. Tetapi sedjak kapankah hal ini berlaku ? Pernahkah ada pada zaman purbakala antara budak dan tuanbudak, atau pada, Abad Tengah antara hamba . dan bangsawan, pembitiaraan tentang haksama untuk mengedjar kebahagiaan ? Bukankah dorongan untuk mentjapai kebahagiaan dari klas tertindas dikorbankan setjara kedjam dan “berdasarkan hukum” untuk kebahagiaan klas jang berkuasa? Ja, itu memang immorai; akan tetapi dewasa ini persaman hak diakui. Diakui dalara kata2 sedjak .dan sedlaiih burdjuasi, dalam perdjtuangannja melawan feodalisme dan dalam perkembangan produksi kapitalis, terpaksa menghapuskan semua hak istimewa pangkat, jaitu, hak2 istimewa pribadi dan terpaksa memberlakukan persamaan semua:orang dalam hukum, pertama dalam .hukum perdata kemudian berangsur-angsur djuga -hukum tatanlegara. Tetapi dorongan untuk. mentjapai kebadiagiaan berkembang hanja sampai pada batas jang amat ketjil diatas hukum idiil. Sampai pada batas jang paling besar ia tumbuh diatas -alat2 materiil; dan produksi kapitalis berusaha untuk jang besar -dari mereka jang roleh hanja apa jang mutlak sadja. Makaitu, produksi argaan sedikit lebih, djika sesuaftu kelebihan, daripada sistim perbuerhambaan terhadap thaksama untuk mehagiaan mai,6ritet. Dan dalam hal sjarat2 mentjapai kebahagiaan, sjarat2 pendidik.an, apakah kita,lebih baik? Bukankah “Gurusekolah Sadowa” [3-3] pun adalah seorang jang terdapat didalam dongeng sadja?

Lagi, Menurat teori Feuerbach tentang moral maka Bursa Efek adalah kuil tertinggi, dari tindak-tanduk moral, asalkan orang selalu berspekulasi dengan tepat. Djika dorongan saja untuk mentjapai kebahagiaan membawa saja ke Bursa Efek dan djika disana saja dengan tepat mengira-ngirakan akibat2 tindakan saja sehingga hanjalah inembawa hasil2 jang menjenangkan dan bukan kerugia , jaitu, djika saja selalu memperoleh untung maka saja memenuhi resep Feuerbach. Lagipula, dengan demikian saja tidak mentjampuri haksama orang lain untuk mengedjar kebahagiaannja; oleh karena orang lain itu pergi ke Bursa sama sukarelanja dengan saja dan dalam mengadakan transaksi spekulatif dengan saja ctia telah mengikuti do’rongannja, untuk mentjapai kebahagiaan seperti saia telah mengikuti doronga,n saja. Djika dia mengalami kerugian uang, maka tilndakannja ipso facto terbukti tidak etis, karena perhitungannja jang d,jelek dan karena saja telah memberi hukuman jang pa:tutnja kepadanja. Saja malahan dengan bangga, seperti seora;ng Rhadamanthus-. modern, dapat menepuk dada. Tjinta djuga berkuasa, atas Bursa Efek, sedjauh ia bukan sadja merupakan kiasan sentimental semata-macta, karena masing2 menemukan pada orang lain pementuhan dorongaanja sendiri untuk mentjapai kebahagiaan, jang djustru harus ditjapai -oleh tjinta dan bagaimana dia bertihdak dalam praktek. idan diika saja bertaruh atas dasar ramalan.. jalig tepat tentang akibat2 dari perbuatan2 itu dan karena itu mendapat sukses, maka saja memenuhi semua-. perintah jang paling’keras dari Feuerbach – dan sebagai imbuhan mendjadi orang kaja. Derigan kata2 lain, moral Feuerbach dipotong persis menurut pola masjarakat kapitalis modern, betapa sedikitnjapun Feuerbach sendiri mungkin menginginkan atau membajangkannja.

Tetapi tjirita ja, dengan Feuerbach tjinta berada dimana-mana dan pada setiap waktu adalah dewa jang melakukan keadjaiban2, jang akan membantu mengatasi semua kesulitan dalam kehidupan praktis. – dan itu didalam masjarakat jang :terpetjah kedalam klas2 jang kepentingan nja diametril berlawanan. Dengan demikian sisa terachir dari wiitak revolusionernia lenjap dari filsafatnja, jang tiiiggal hanjalah penggunaan kata2 sutji setjara miunafik : Tjintailah sesamanm – berpelukan satusamalain tanpa memanda’ng perbedaan kela:min atau pangkat – suatu pestapora perdamaian ja-jang universil!

Pendek kata, teori Feuerbach tentang moral berlaku seperti semua teori jang mendahuluinja. Dia dirantjan,gkan un-tuk memenuhi sem,ua periode, semua bangsa, semua keadaan, dan djustru karena itu dia tid-ak pernah dan tidak dapat ditrapkan dimanapun. Dia tetap, merigenai dunia njata, sama tidak berdajanja seperti imperatif kategoris Kant. Sesungguhnja setiap klas, bahkan setia-P -pekerdjaan, mempunjai morainja sendiri, dan moral inipun dilanggarnia apabila dia dapat berbuat demikian tanpa mendapat hukuman. Dan tjinta, jang harlis mempersattikan semuanja, memperlihatkan diri didalam peperangan2, pertengkaran, proses pengadilan, tjektjok rumahtangga, pertieraian dan setiap penghi.sapaii jang mungkin oleh jang satu atas jang lain.

Sekarang bagaimana mika mtingkin bahwa dorongan jang kuat jang diberikan oloh Feuerbach ternjata begitu tidak membawa hasil bagi dia sendiri? Karena -alasan jang sederhana jaitu, bahwa Feuerbach sendiri tidak pernah berichtiar untuk melepaskan diri d-ari alam abstraksi – jang saiigat dibentjinja – pergi kealam kenjataan jang hidlup. Dia berpegang teguh2 pada alam dan mantisia, tetapi alam dan manusia tetap merupakan kata2 belaka bagi dia. Dia tidak mampu me’ngatakan kepada kita sestiatu jang pasti baik tentang alam njata maupun tentang manusia njata. Tetapi dari manusia abstrak Feuerbach orang sampai pada manusia njata jang hidup hanja apabila orang memandang mereka sebagai pesetta 2 dalam sed araih. Dan itulah jang diten.tang oleh Feuerbach, dan karena itu baginja tahun 1848, jang tidak difahaminja, hanjalah mengandung arti pemtitusan hubungan jang definitif dengan dunia njata, pengtinduran kekesunjian. Jang salah lagi dalam hal ini jalah terutama keadaan2 jang beriaku di Djerman pada waktu itu, jang menghuktim dia memlyusuk setjara menjedihkan.

Tetapi langkah jang tidak diambil oleh Feuerbach bagaimanapun hartis diambil. Pemudjaan terhadap manusia abstrak, jang merupakan inti agama baru Feuerbach, harus diganti oleh ilmu tentang manusia2 njata dan tentang perkembangan sedjarahnja. Perkembangan lebih landjut dari pendirian Feuerbach ini, jang melampaui pendirian Feuerbach, diresmikan oleh Marx dalam tahun 1845 didalam Keluarga Sutji.


Catatan

[3-1] “Baiklah, djadi ateisme adalah agamamu!” – red.

[3-2] Yang dimaksud jalah usaha Robespierre untuk mendirikan agama “machluk tertinggi”. – red.

[3-3] Gurusekolah Sadowa : Suatu ungkapan jang umum diperguna-kan oleh publisis2 burdiuis Dierman sesudah kemencmgan orang2 Prusia di, Sadowa (didalam Perang Austria-Prusia, 1866). jang maksudnja jalah bahwa kemenangan Prusia itu adalah karena keunggulan sistim pendidikan, umum Prusia. – red..


Diterbitkan di:  on Februari 2, 2009 at 9:34 am Tinggalkan sebuah Komentar

anarcho capitlism

 

 

 

 

 

Anarcho-capitalism and Moral Philosophy:

Deontological versus Consequentialist Ethics

 

Sébastien Caré

Ph.D. in Politics, Assistant Professor at the University of Rennes 1 (France)

sebacare@gmail.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Introduction

Anarcho-capitalism is the doctrine that every service, including law enforcements, should be supplied through the market, and that all of the government’s coercive activities should be replaced by free market activities. Conceptualized in clandestineness by economists such as Murray Rothbard and David Friedman in the early 1970, it is nowadays discussed in top economics journals and defended by well-recognized scholars such as the economics Nobel Prize laureate Vernon Smith and the professor of philosophy emeritus Jan Narveson. Reconciling the individualist anarchism of Lysander Spooner and Benjamin Tucker with the classical liberalism of John Locke and Adam Smith, anarcho-capitalism claims to differ from other kinds of anarchism by paying more attention to human nature as it is, instead of how it should be. Indeed, it seems that left anarchism involves a spiritual conversion that would make the government and its functions useless.

This point is stated by Murray Rothbard: “In contrast to such utopians as Marxists or left-wing anarchists (anarchocommunists or anarcho-syndicalists), libertarians do not assume that the ushering in of the purely free society of their dreams will also bring with it a new, magically transformed Libertarian Man.” The originality of anarcho-capitalist thinkers is that they take people as they are, and consider that what the State does is necessary because of human nature. But as the state is for them neither legitimate nor efficient, anarcho-capitalists propose to entrust its functions to private institutions. For instance, while left anarchism believes that institutions of law enforcement would become useless if human changed their nature, anarcho-capitalism considers that such institutions are necessary since it does not bet on changes in human nature. Somehow, anarcho-capitalism seems more realistic than left anarchism. But does it mean at the same time that it is more desirable? More than its possibility, anarcho-capitalism’s attractiveness should be brought into question.

A way to do so consists in confronting the two versions of anarcho-capitalism and in seeing if they can withstand their reciprocal assaults. The most important controversy among anarcho-capitalist theorists concerns the question of whether their doctrine should be based on deontological or consequentialist ethics. Right-based anarcho-capitalists, such as Murray Rothbard, claim that a stateless society is founded on the basis of a natural law, more precisely on a nonaggression axiom according to which the only justification for the use of force is to deal with aggressive force initiated by someone else. However, consequentialists such as David Friedman argue that rights are merely human constructs created through contracts, and that a libertarian system can only come about by contract between self-interested parties who agree to refrain from initiating coercion against each other. In that perspective, an anarcho-capitalist society is justified by its advantageous consequences for parties concerned.

The aim of this paper is to compare the two moral versions of anarcho-capitalism, notably their implications on the two different types of society they respectively lead to. Doesn’t the confrontation of these two versions of anarcho-capitalism underline their respective weaknesses, and the “precariousness” of anarcho-capitalism? After the presentation of the two versions, a tentative answer to this question will ensue from a dialogue between the two versions.

 

 

I. Two versions of anarcho-capitalism: rights against consequences

A. The deontological version of Murray Rothbard

From an objectivist natural-law ethics…

Rothbard’s ethical task starts from a condemnation of Humean ethics. Indeed, reason is not bound “to be a mere slave to the passions, confined to cranking out the discovery of the means to arbitrarily chosen ends. For the ends themselves are selected by the use of reason; and right reason dictates to man his proper ends as well as the means for their attainment.” Rothbard endorses the Thomistic or natural-law tradition according to which all finite things are compelled to move toward their ends by the development of their potentialities. The ethical standard is thus natural. Man’s nature is open to examination, and reason must be used to objectively discover how the individual ought to be treated in accordance with his or her nature. “The natural-law ethic states that goodness or badness can be determined by what fulfils or thwarts what is best for man’s nature”. Thereby, Rothbard predicates bridging the gap between “Is” and “Ought”.

From that naturalistic perspective, Rothbard first deduces a robust right of self-ownership. “The individual man, in introspecting the fact of his own consciousness, also discovers the primordial natural fact of his freedom: his freedom to choose, his freedom to use or not use his reason about any given subject.” Rothbard adds that he then discovers “the natural fact of his mind’s command over his body and its actions: that is, of his natural ownership
over his self.” Every individual by his or her nature, must then be considered as a full self-owner, having absolute jurisdiction over his or her own body, in just the same way that she or he can fully own objects. In other words, ownership over oneself involves ownership over external ressources. Following a Lockean standpoint, Rothbard holds then that whoever first discovers, first mixes his labor with, or first claims a natural resource owns that resource. It is his private property that may only exchange hands by trade or gift.

Rothbard derives from self-ownership a non-aggression principle according to which the initiation of physical force upon persons is inherently illegitimate. The use of aggressive violence may be against a man’s property in his person (e.g. bodily assault) or in tangible goods (e.g. robbery). In either case, the agression must be regarded as a crime if it is not a defensive answer to a prior aggression from the victim. “In short, no violence may be employed against a nonaggressor.” The only justification for the use of force is to deal with aggressive force initiated by someone else. The first aggressor is considered as a parasite who “instead of living in accordance with the nature of man, […] feeds unilaterally by exploiting the labor and energy of other men.”

 

…to a deontological defence of anarcho-capitalism

Rothbard draws two main conclusions from this natural-law ethics. He first finds in the non-aggression axiom a way to justify the illegitimacy of the state. Indeed, Rothbard considers taxation as an aggression, for it takes someone else’s property without his or her consent. Every state is thus illegitimate since it cannot exist without taxation, that is without violating people’s property. “Taxation is theft, purely and simply even though it is theft on a grand and colossal scale which no acknowledged criminals could hope to match. It is a compulsory seizure of the property of the State’s inhabitants, or subjects.” A society without state is the only possible translation of the natural law, and must be considered as a universal model. “Only a rulerless, purely libertarian world can fulfill the qualifications of natural rights and natural law, or, more important, can fulfill the conditions of a universal ethic for all mankind.”

The second implication of such an objectivist ethics is that an anarcho-capitalist society would be laid on a universal system of rights recognized by everybody, and protected by private law enforcement agencies. Rothbard holds that this legal code would be based on a widespread acceptance of libertarian principles such as the sovereignty of the individual and the non-aggression axiom. Without such a legal code, private courts would be allowed to apply unlibertarian rules: “It then becomes necessary to have a legal code which would be generally accepted, and which the courts would pledge themselves to follow.” This set of rights would spontaneously emerge from the different decisions of private courts. Particular courts would not compete on the best legal code, but on the most efficient procedures within a framework of a libertarian code. A natural law ethics, mixed with a rationalistic epistemology, delivers an objective legal code that enables Rothbard to claim that, from an anarcho-capitalist framework would actually emerge a libertarian society.

 

From an objectivist natural-law ethics, Rothbard concludes that every government is necessarily illegitimate but that a universal set of natural rights would still be enforced even without any centralized authority. From a completely different ethical standpoint, David Friedman will go further by dismissing not only any government, but also any universal set of rights.

 

B. The consequentialist version of David Friedman

From a subjectivist ethics…

David Friedman, faithfully following the perspective of his father, Milton Friedman, seeks to appraise social rules against the yardstick of their consequences. He thereby rejects any reference to an objective ethical standard such as the natural law, and rather takes a subjectivist standpoint. David Friedman endorses a Humean standpoint that considers justice a spontaneously evolved convenience. He does not pretend to deliver an objective ethics, but indicates the way that would maximize individual’s unbound preferences. Friedman holds that he can determinate by a cost-benefit calculus the rules that would maximize utilities. In that perspective, “if the value of a law to its supporters is less than its cost to its victims”, that law must be abandoned. Friedman does not recognize any natural rights, but argues that rights are merely human constructs created through contracts. This consequentialist approach hence claims that there is no such thing as a universal set of rights that would transcend individual preferences. No objective ethical standard could be derived from the multiplicity of subjective penchants.

 

… to a consequentialist defence of anarcho-capitalism

Although Friedman adopts a radically different ethical starting point, he reaches an anarchist destination close to that of Rothbard. Indeed, the state is for Friedman as useless as it was illegitimate for Rothbard. In The Machinery of Freedom, Friedman states the “law” that anything done by government costs at least twice as much as a privately provided equivalent. An anarcho-capitalist society is justified by its beneficial consequences to the vast majority of parties concerned, including the poor.

However similar the two moral versions of anarcho-capitalism seem to be, they have different implications on the two types of society they respectively lead to. According to Friedman, a libertarian system cannot be deduced from a rational determination of natural rights, but can only come about by contract between self-interested parties who agree to refrain from initiating coercion against each other. The content of law cannot be determined by an objective observation of human nature, but by an individualistic competition. Therefore, Friedman suggests that private courts not only defend our legal rights, but also supply the actual content of them on the free market. In other words, private protection agencies will not enforce any objective rights, but laws supplied by private companies. While Rothbard thinks that private defence agencies may offer the same code of law and punishment standards, and compete across means of protection, Friedman proposes that private agencies may offer competing law codes. Indeed Friedman imagines a free law market where customers would buy a particular law code under which to live. It means that “the systems of law will be produced for profit on the open market, just as books and bras are produced today”. Just as markets provide food, so too should markets provide law. In other words, people would have the law system they pay for, and laws would differ from place to place depending on the tastes of the people who would buy them. Where Rothbard wanted one objective natural law enforced by a multiplicity of private agencies in competition, Friedman demands a multiplicity of laws provided and enforced by a multiplicity of agencies.

Since people would be free to choose any rules they whish, the resulting outcome would be determined by net willingness to pay. Friedman has then to aknowledge that unlibertarian laws may result from an anarcho-capitalist system, such as laws against drugs or homosexuality. But he thinks this would be rare, given that there would be little market demand for unlibertarian laws. Indeed such laws would impose to their victims a cost that would be much superior to the value they represent for their supporters. “People who want to control other people’s lives are rarely eager to pay for the privilege”, and their victims “get a lot more pain out of the oppression than their oppressors get pleasure”. If some people are willing to pay a much higher price to be left alone than anyone is willing to pay to control other’s life, Friedman concludes that there won’t be so many unlibertarian laws in an anarcho-capitalist society.

 

It is interesting to note that the applications of the two main ethical positions on the virgin land of anarchy lead to two different kinds of society. It is then important to confront the two versions if we want to evaluate their respective merits and weaknesses.

 

 

II. D. Friedman vs M. Rothbard : Reciprocal assaults on anarcho-capitalism

 

  1. Friedman’s criticism of Rothbard’s version

Friedman’s version of anarcho-capitalism raises two challenges to the Rothbardian defence of a universal natural-rights ethics. First, it underlines the counterintuitive implications of the Rothbardian ethics. Friedman starts with noticing that simple statements of libertarian rights taken literally lead to insolvable problems. For instance, does one’s ownership right over a piece of land entail the right to shine a very bright light from it in the middle of the night? Do I need to get the permission of all my neighbours to breath, if carbon dioxide is considered a pollutant, and pollution a violation of property rights? Even if such difficult questions could receive an answer, the adoption of natural rights ethics may still be used to prove conclusions that nobody is willing to accept. The non-aggression principle seems absurd since it opposes the initiation of force even when the results of such initiation would be better than the results of any other course of action. To take an example given by Hume, it seems that the rothbardian principle would prevent us from scratching the finger of another even if, by doing it, we would avoid the destruction of the whole world. Friedman considers the following example. “A madman is about to open fire on a crowd; if he does so numerous innocent people will die. The only way to prevent him is to shoot him with a rifle that is within reach of several members of the crowd. The rifle is on the private property of its legitimate owner. He is a well known misanthrope who has publicly stated on numerous occasions that he is opposed to letting anyone use his rifle without his permission, even if it would save hundreds of lives”. In that situation, Friedman thinks that the application of the Rothbardian principle would lead to carnage. He then concludes that “under some circumstances rights violations must be evaluated on their merits, rather than rejected a priori on conventional libertarian natural rights grounds.”

Adherents to a natural law paradigm reply to this criticism in two ways. They first argue that libertarian principles only apply to a civilized context, and not to “life-boat situations”. Secondly, they avoid the objection by opposing legal rights to general morality. To take Friedman’s example, it would be in consonance with general morality that a member of the crowd takes the rifle and uses it to shoot the madman even if he would not have any legal right to do it. Virtue does not entail any rights. To parody Lysander Spooner’s famous sentence that “vices are not crimes”, it could be said that, for Rothbard, virtues are not necessarily legal.

The second weakness underlined by Friedman is perhaps more redoubtable. Indeed, sample statements of Rothbardian principles may appear not that compelling. Many people may be in favour of initiating coercion, or at least are currently doing things that rights-based libertarians regard as illegitimate. However, as Friedman says, “despite occasional claims to the contrary, libertarians have not yet produced any proof that our moral position is correct.” This criticism somehow concurs with Thomas Nagel’s statement towards Nozick’s attempt to justify a libertarian society from a natural rights ethics. Nozick starts from the unargued premise that individuals have certain inviolable rights which may not be intentionally transgressed by other individuals or the state for any purpose. […] He concludes that the only morally permissible state would be the nightwatchman state. […] The argument is not one which derives a surprising conclusion from a plausible premise. No one (except perhaps an anarchist) who did not already accept the conclusion would accept the premise, and the implausibility of each can only serve to reinforce a conviction of the implausibility of the other”. In other words, natural rights libertarian’s modus ponens may be another’s modus tollens. If natural rights of self ownership necessarily lead to anarcho-capitalism, why not reject these absolute rights rather than embrace anarcho-capitalism?

The problem with Rothbard’s anarchism is that the worst would be justified if it does not contradict his ethics of capitalism. Norman Barry underlines this point by saying that “what is interesting are the radical conclusions that Rothbard draws from the ethics of capitalism rather than his derivation of the ethics themselves”. Such a drift is evident in the work of Rothbard’s epigone Walter Block. In his book Defending the Undefendable, Block depicts the pimp, the prostitute, the scab, the slumlord, the libeler, the moneylender, the blackmailer etc., as heroes just because “they do not initiate violence against nonaggressors”. To become really attractive, Rothbard’s utopia would need something that would reconcile justice and morality, and that would make the possible acceptable.

 

B. Rothbard’s criticism of Friedman’s version

The Rothbardian version shows that the Friedmanian defence of anarchocapitalism seems unlikely to lead to a libertarian society. Friedman begins his book by faithfully portraying what a libertarian society would look like. His description seems similar to that of Rothbard. “The central idea of libertarianism is that people should be permitted to run their own lives as they wish. We totally reject the idea that people must be forcibly protected from themselves. A libertarian society would have no laws against drugs, gambling, pornography – and no compulsory seat belts in cars”. However, in the course of the reading, we surprisingly find out that such a society has not been designed to be universal, but was just Friedman’s subjective preference. Indeed, as we have already claimed, if enough non-libertarians bought enough non-libertarian laws and began using them to imprison drug dealers, prostitutes and pagans under their jurisdiction, Friedman could make no moral complaint. If his theory does not defend such laws, it does not condemn them either. People have the law they pay for, and those who don’t like them have to bear their cost or to move out. That is why David Friedman asks: “Is Anarcho-capitalism libertarian?”, and earnestly concedes a possible negative answer.

Does that mean that the desirability of the Friedmanian society depends on the dominant values of its habitants? Friedman’s answer would be no, arguing that “market demands are in dollars, not votes”, and that the legality of something would not be determined by how many are for or against, but by how high cost each side is willing to bear so as to get its way. We have also seen that Friedman speculates that unlibertarian laws would be discouraged, since the cost they impose to their victims would be much higher than the benefit they offer to their supporters. The obstacle drawn by Friedman is rather soft. James Buchanan has indeed shown that « if there is even one person who thinks it appropriate to constrain others’ freedom to their own life-styles, no anarchistic order can survive in the strict sense of the term ». Buchanan takes a trivial example confronting one busybody person who is disturbed by long-hairs with others who choose to allow their hair to grow. In an anarchist society, this situation would be remedied thanks to free exchange among persons. Money facilitates a comparison of values, and allows people with long hair to buy off their tranquillity by preventing the busybody from interfering through appropriately settled compensations. For Friedman, the possibility of these payments introduces a new set of issues. “There is potential money in it, individuals will find it to their advantage to be recalcitrant, not because this expresses their internal private preference but because it promises to yield valued returns. If the man who genuinely dislikes long-hairs so much that he is prompted to interfere in the absence of payment is “bought off” by monetary reward, others who care not one whit for hair styles may also commence interfering, motivated by the promise of monetary reward.” In other words, in an anarcho-capitalist society, the violation of liberty may become profitable even to those who don’t find any personal satisfaction in doing so.

We can stress other problems raised by Friedman’s utopia. The only safeguard provided by Friedman against the tyranny of the majority is that every one is free to move out if she or he does not like the laws they get. Allegiance to laws is somehow given by residence. The problem is that nothing, in Friedman’s theory, can make sure that people would actually be free to leave their communities. Nothing, except haphazard cost-benefit calculi, can prevent a law to precisely prohibit such mobility. Moreover, this mobility which guarantees that no one would have to bear the cost of a law he has not chosen, seems to imply sufficient information. And such information can only be provided by education. In other words, it appears that, to become libertarian, the Friedmanian anarcho-capitalist society needs to deny itself by using political means that would give everybody a right to move and a decent education.

Even if those conditions (freedom to leave and sufficient information) were spontaneously satisfied, the society described by Friedman would still not appear compelling. Indeed, it would probably lead to a network of closed societies. Tyler Cowen shows how, in Friedman’s utopia, “each geographical area would possess a dominant protection agency”. It’s the only way for Friedman’s utopia to be stable. If not, there would be more cases where the plaintiff and the defendant would not belong to the same agency and do not subscribe to conflicting law codes. For instance, difficulties arise when the plaintiff agency promises capital punishment for a murder while the defendant’s agency promises protection against capital punishment. As Tyler Cowen says, “private protection agencies may find interagency warfare unprofitable and dangerous, and subscribe to a common arbitration mechanism for settling disputes”. Economic forces would then encourage the formation of a dominant agency on a territorial area. The application of Friedman’s anarchy would differ from the extra-territorial panarchy described by the Belgium botanist Paul Emile de Puydt. In 1860, this firm supporter of laissez-faire economics defended the right to choose the political surroundings in which to live without being forced to move from one’s current locale. In Friedman’s utopia, every one would join the community whose laws are to his or her convenience, and thus live with people with whom he would share the same preferences. This libertarian communitarism contradicts the classical liberal standpoint that considers pluralism as an important factor of wealth. The subjective theory of value says that a thing may be more useful in satisfying the wants of one person than another, or of no use to one person and of use to another. In exchange, people will give up what they value less in return for what they value more. It follows that both sides can gain from an exchange if they don’t share the same personal preferences. Pluralism facilitates exchange and creates value. While classical liberal authors like Friedrich Hayek or Stuart Mill defended an inclusive pluralism by promoting the meeting and mixing of different values, Friedman’s version of anarcho-capitalism would lead to an exclusive pluralism by encouraging the multiplication of separate groupings. The eviction of the political and the refusal to recognize a set of rights that would transcend individual preferences lead to a society where private existences remain parallel.

 

Conclusion

The confrontation of these two versions of anarcho-capitalism underlines their respective weaknesses. Rothbard fails to make a persuasive case for the attractiveness of an anarcho-capitalist society based on a universal set of natural rights. By drawing an imposing barrier between morality and justice, he opens the possibility of legalizing the most unacceptable behaviours, also preventing citizens from publicly formulating their own vision of the good. Friedman fails to make a persuasive case for the libertarian nature of an anarcho-capitalist society based on efficiency. By letting people free to choose unlibertarian laws, he does not provide a sure safeguard against the tyranny of the rich and paves the way to a world juxtaposing, without any connection, a myriad of closed societies.

Beyond their differences, both versions share a common weakness by draining the society of its political substance. By doing so, they literally demonstrate the “precariousness” of anarcho-capitalism. Nothing except the “prayer” of its theorists, can ensure that an anarcho-capitalist society would actually be libertarian and effectively maximize individual liberty. Both open an outsized realm of possibilities that also contains the possibility of their negation. In such societies, everything is possible, even the worst. Both contain the germs of their own destruction. That is why we can conclude that, however realist they should appear, anarcho-capitalist utopias are not appealing. Surprisingly, the only thing that would make them attractive would be a conversion of human nature. In Friedman’s utopia, such a conversion would prevent laws to be unlibertarian. In Rothbard’s utopia, it would accomplish what the law is not allowed to deal with, namely to make moral behaviours more recurrent. In other words, to be attractive, anarcho-capitalist utopias need to be unrealistic, just as other strands of anarchism. Without the “magically transformed Libertarian Man” whose existence was denied by Rothbard, the outcome of such a society is less than attractive, inferior to what is produced by to an actual democracy. It appears that a philosophy that dismisses politics is then doomed to be either unrealistic or unappealing. A sense of politics merges in the background. By giving people a hold over their collective destiny, politics may consist in making the possible attractive, or in reducing what is realistic to what is acceptable.

 

References

  • Norman P. Barry, On Classical liberalism and libertarianism (London: Macmillan Press, 1986)
  • Randy E. Barnett, The Structure of Liberty : Justice and the rule of law (Oxford: Clarendon Press, 1998)
  • Walter Block, Defending the Undefendable (Auburn: Mises Institute, 2008 [1976])
  • Roy Childs, “The Invisible Hand Strikes Back,Journal of Libertarian Studies,
    Volume
    1, 1977, p. 23-33
  • James M. Buchanan, The Limits of Liberty: Between Anarchy and Leviathan, (Chicago: University of Chicago Press, 1977)
  • Kevin Dowd, “Anarchy, Warfare, and Social Order: Comment on Hirshleifer”, in Journal of Political Economy, Number 105, 1997, p. 648-51
  • Richard A. Epstein, Takings: Private Property and the Power of Eminent Domain (Cambridge: Harvard University Press, 1985)
  • David Friedman, The Machinery of Freedom: Guide to Radical Capitalism (2nd ed. La Salle: Open Court, 1989)
  • Jack Hirshleifer, “Anarchy and its Breakdown”, Journal of Political Economy, 1995, Number 103, p. 26-52
  • Hans-Herman Hoppe, Democracy: The God that failed (New Brunswick: Transaction Publishers, 2001)
  • Thomas Nagel, « Libertarianism without Foundations », in The Yale Law Journal, Volume 85, Number 1, November 1975
  • Jan Narveson, The Libertarian Idea (Peterborough: Broadview Press, 2001, [1988])

     

  • Robert Nozick, Anarchy, State, and Utopia (New York: Basic Books, 1974)
  • Murray Rothbard, The myth of National Defence: Essays on the Theory and History of Security, Auburn, Ludwig von Mises Institute, 2003
  • Murray Rothbard, The Ethics of Liberty (New York: New York University Press, 1998, 1982)
  • Murray Rothbard, For a new liberty : The Libertarian manifesto (Online edition, 2002, [http://www.mises.org/rothbard/foranewlb.pdf], 1973)
  • Murray Rothbard, The myth of National Defence: Essays on the Theory and History of Security (Auburn: Ludwig von Mises Institute, 2003)
  • Edward P. Stringham (ed.), Anarchy and the Law: The Political Economy of Choice (New Brunswick: The Independent Institute, 2007)
  • Morris and Linda Tannehill, Market for Liberty (Lansing: Morris and Linda Tannehill, 1970)
  • Gordon Tullock (ed.), Explorations in the Theory of Anarchy (Blackburg: Center for the Study of Public Choice, 1972)

    Gordon Tullock (ed.), Further Explorations in the Theory of Anarchy (Blacksburg: Center for the Study of Public Choice, 1974)

Diterbitkan di:  on November 25, 2008 at 8:34 am Tinggalkan sebuah Komentar

Mereka ada

Mereka Ada…

“Jauh Tertinggal di Tapal Masa Lalu”

Aku tatap sebuah keagungan di sana, sebuah tempat menapak nasib. Di sebuah ruang sempit yang telah puluhan tahun lebih bersanding dengan alam. Berdinding dedaunan yang terus menerus ditambal, walau masih terlihat lubang kecil kala matahari menerpa. Sebuah pohon kering berdiri gontai mengarah patah sebab tak terurus. Mungkin sudah lama pohon itu disana bersama seorang laki-laki tua kurus, renta berbalut kulit legam bersiluet rusuk. Ada sebidang ilalang mengeliling ruang reot itu. Dari kejauhan aku dengar suara kampak mengalun kokoh. Mengalihkan perhatianku padanya yang berambut putih tepat dibawah pohon itu.

Kala itu bunyi rerumputan begitu sedih menimang mataku yang hampir menangis menyaksikan sisi lain dunia ini dan dunianya termasuk duniaku. Aku menemuinya bukan tanpa alasan, sebab sebelumnya aku sudah mencari berita tentangnya. Awalnya aku ingin membuktikan sebuah realita yang tak kupercaya sungguh memalukan, tentang seorang yang disebut pahlawan.

Aku ingin tahu saja seperti apa bangsa ini menurut pahlawan itu. Aku begitu segan menyapanya kala itu. Aku takut akan mengganggu kerjanya yang terlihat sudah berpeluh keringat. Hari tu memang semakin siang dan begitu sepi di sekelilingnya. Tak kusadari ketika dia sudah menatapku dan aku berubah heran sekaligus takjub. Betapa tidak, di usia yang menurut kedewasaanku sudah renta ternyata memberiku sorot mata yang begitu hening dan sangat tulus. Di kejauhan ia menyapaku, “Ada apa nak, sedari tadi bapak perhatikan hanya berdiri melamun?”, tanyanya. Aku belum bergeming sampai akhirnya aku melemparkan senyum padanya. “Maaf kek, aku mengganggu”, jawabku.

Ketika kuhampiri, tiba-tiba ia mengulurkan tangannya yang kuperhatikan begitu kekar dengan urat-urat yang hampir keluar. Kulayangkan tanganku berjabat dan terasa begitu kasar namun hangat. Kujelaskan perihal kedatanganku untuk berbagi cerita tentang kisahnya dulu sebagai pejuang kemerdekaan sampai pada keadaannya sekarang.

Kumulai pertanyaanku pada kisahnya dulu. Aku kaget dengan pernyataan yang keluar dari mulutnya, “Nama Kakek Soedirja Tibelani, panggil saja Pak Dirja”, tandasnya. Sekejap saja aku malu, dan merasa tak punya sopan santun. “Maaf Kek, Aku Justian Cokro”, balasku cepat. Tanpa canggung, awal cerita kami mulai dengan tawa. Sebab kakek itu menceritakan salah satu perjuangannya yang konyol. Ia bercerita kala itu KNIL (Tentara Hindia Belanda) sedang mengadakan pemeriksaan terhadap semua warga pribumi. Waktu itu tempatnya di Wonosobo, saat itu semua warga begitu panik terburu-buru mendengar tembakan dari luar rumah. Sontak saja semua berhamburan dan segera berbaris di lapangan tak terkecuali sang kakek. Ternyata saat itu sang kakek hanya menggunakan sarung yang robek di bagian belakangnya. Lubangnya cukup besar, sebesar kepala. Tidak tahu kenapa komandan KNIL menyuruhnya maju dan diperintah untuk menyiapkan barisan. Namun keseriusan sang Komandan Tentara KNIL berubah jadi tawa yang keras. Tentu saja penyebabnya adalah sarung bolong milik sang kakek yang tepat mengahadap sang komandan.

Melanjutkan cerita, kumulai lagi dengan bertanya tentang seberapa penting bangsa ini bagi pejuang sepertinya. Dengan agak malas ia menuturkan, sebuah negara yang sudah memiliki cukup umur dan dewasa seharusnya dapat menjadi tempat mengadu rakyatnya. “Negara itu seperti bapak dan kita anak-anaknya. Ketika Ibu Pertiwi kita disakiti kepada ayah seharusnya kita mengadu. Ketika aduan kita ditanggapi dengan tak berperasan oleh ayah kita, kekecewaan yang akan kita terima”, katanya. “Aku tak mengerti Kek…..”, tanyaku.

*****

“Begini, jauh sebelum kita beroleh nama Indonesia, wilayah negara ini sudah jadi rebutan, itu sejak jaman kerajaan dulu, karena alamnya. Semakin maju seharusnya sebuah bangsa semakin bijak dan besar. Namun setelah merdeka dengan nama Republik Indonesia, mengapa justru jauh dari kemajuan dan kebesaran sebuah bangsa? Berbagai pergolakan yang timbul justru lebih banyak hadir dari dalam bangsa sendiri yang akhirnya diperalat oleh bangsa lain yang cerdas melihat keadaan. Luasnya hutan hijau kita kini tertebas uang pemodal asing dan menelantarkan masyarakat di dalamnya. Birunya lautan dengan ratusan jenis binatang langka di dalamnya telah menjadi komoditi perdagangan bangsa lain yang dihasilkan dengan membodohi kita. Tanah yang kita pijak yang diberikan pendahulu kita dulu kini harus kita bayar dengan aturan yang sangat keras, budaya semakin terdesak hingga akhirnya punah akibat kecanggihan teknologi luar negeri yang terus kita konsumsi, dan terang saja kita sampai detik ini tak punya kebudayaan nasional yang ada hanya kebudayaan daerah masing-masing yang lebih senang beradu domba ketimbang menciptakan perpaduan dua kebudayaan”, jelasnya.

Sampai disitu kakek melanjutkan ceritanya tentang bangsa ini, menurutnya bangsa ini adalah bangsa yang besar bahkan sangat besar di dunia. Sebuah kodrat yang seharusnya membahagiakan dengan alam yang melimpah. Hanya saja kemiskinan yang diciptakan mereka yang berkuasa kini, sungguh tak terlawan. Sesekali aku ke kota dan menyaksikan akibatnya, betapa sisi lain masyarakat kita kini terkikis semangat kemanusiaannya yang saling pengertian dan membutuhkan.

Mendengarnya, terbersit dalam pikiranku bahwa di sini (di negeri ini) hadir kehidupan yang seperti tak berjalan dan membuat kita hanya menatap pada kelelahan batin sambil berpikir payah sebuah kebanggaan terhadap negeri yang miskin sekaligus rakus.

Ketika kutanyakan apa itu pahlawan, dia berubah serius dan tegang. Dengan suara keras agak serak ia mengatakan, “Untuk melambangkan apa pahlawan itu dalam cerita-cerita sejarah? Siapa yang punya pandangan tentang hal ini? Sekarang jika kamu sebut saya pahlawan, apa artinya buatku? Sampai detik ini saya hanya bisa memandang keseluruhan dari cerita dongeng ini. Semua pejuang yang disebut pahlawan itu hanya memberi kita wawasan menuju pencarian sejarah. Intinya Pahlawan bagi kami yang tak pernah muncul untuk diakui, hanya sebagai simbol kelengkapan negara ini. Bahwa negara ini pernah berjuang untuk kemerdekaannya”.

Kembali wajah sang kakek dengan senyum berbingkai kerut wajahnya membuatku tenang, menghiasi suaranya yang sudah parau. Dia bilang sewaktu kecil, kita pun sering mendengar tentang sejarah hidup seorang pahlawan yang diceritakan sampai pada akhir perjuangannya. Tapi tak pernah ada yang bertanya, kini mereka kemana dan dimana serta bagaimana hidupnya dipenghujung hayatnya.

Kami terdiam seperti masuk ke dalam dunia yang sama tapi kosong. Sejenak kualihkan pandanganku melongok ke dalam gubuknya, tak kulihat sesuatu yang berharga. “Aku tak pernah berharap untuk dikenal, juga untuk dikasihani, tapi lihatlah mereka kini yang melenggak angkuh berpakaian rapih dan jumawa, sejenak saja melihat kami disini, memberi salam dan memberi kami pengakuan. Aku tak berpikir lagi akan hari esok dan bangsa ini, sebab aku hanya butuh makan disini untuk hari ini”, ucapnya memecah lamunanku.

Setelahnya dia menjelaskan yang sedang kupikirkan tentang generasiku kini, yang tak perlu angkat senjata dan berteriak-teriak anti penjajah dan anti kolonial. Semua telah aman dari penjajahan antar bangsa. Dengan semangat yang tiba-tiba dia bertutur tentang generasi. Dia menuturkan generasi tak hanya simbol atau sekedar sebutan dan status, ia adalah roda yang bersistem jika dijalankan dengan baik dan konsisten pada arah dan cita-cita kehormatan bangsa. Generasi bukan untuk dijual dan dibungkam, bukan juga untuk di paksa jadi pengkhianat. Ia juga bukan lingkar ekslusif yang dapat dimanipulasi untuk kepentingan jangka panjang penguasa yang minim pengetahuan dan wawasan tentang bangsanya. Ia adalah jangkar dan tonggak perubahan yang diarahkan pada berubahnya sebuah tatanan dunia baru bagi bangsa dan rakyatnya. Lahir menjadi pahlawan-pahlawan baru sesuai jamannya dengan lebih lantang dan berani. “Sungguh cerdas kakek ini”, gumamku dalam hati.

Dengan lemas dan berat hati kusimpulkan kisahnya adalah tembang saksi hidup dari kebisuan masa lalu. Pengakuan sang kakek menyadarkan aku akan pemberian yang menurutku adalah gerbang pembebasan bagi kita -pada zamannya sampai pada zaman kita sekarang-.

Satu lagi, ungkapan Democritos (470 – 370 SM) yang pernah kubaca mungkin cocok dengan bangsa ini, “Halus dan kasar, dingin dan panas, warna-warna, semua itu hanya ada dalam persepsi manusia dan bukan dalam realitas. Yang nyata ada adalah partikel-partikel yang tak berubah, atom-atom dan gerakan-gerakannya dalam ruang hampa”. Kita yang mungkin sudah berjuta-juta kali menyebut kata “pahlawan” seringkali lupa makna dan salah kaprah. Sebab yang mungkin nyata adalah kita lebih mengenal pahlawan dalam cerita-cerita atau film-film impor ketimbang pejuang kita yang serba sederhana dan tradisional. Selain itu kita lebih senang dan bangga menggunakan wajah-wajah pahlawan bangsa lain ketimbang pendiri-pendiri bangsa kita.

Sebuah kesesatan yang dibelenggu oleh zaman dan terus diperalat dunia global terhadap satu bangsa, namanya Indonesia yang tak kunjung mengerti dan menghargai nasib dan keberadaan PAHLAWANNYA.

    *****

Diterbitkan di:  on at 8:22 am Tinggalkan sebuah Komentar

Komunis

Kau sebut komunis

Itu sebutan

Geraknya komunitas

Tak pernah sadar ini alternatif?

Bung, manusia kotor

Penjilat, penindas, budak

Benar, kita pelakunya

Penuh pengecut

Persetan dengan yang kalian perjuangkan

Diterbitkan di:  on Oktober 18, 2008 at 10:20 am Tinggalkan sebuah Komentar

Dialektika Hegel (Thesis, AntiThesis, Sintesis)

Dialektika Hegel (Thesis, AntiThesis, Sintesis): Ritme Tiga Hentakan Proses Sosial Yang Cukup Melenakan

Diterbitkan Juni 9th, 2007 artikel , diri , dunia , filsafat , hidup , lamunan , manusia , masyarakat , orang , pemikiran , politik , sosial

Dialektika Hegel saya rasa cukup dikenal di kalangan para pecinta Ilmu ilmu sosial. Sebagai sebuah doktrin yang cukup mampu bertahan dan diikuti oleh banyak orang dialektika Hegel ibarat sebuah teori Newton yang diamini dan dianggukki oleh sosiolog maupun pemerhati sosial yang lainnya. Ketika menjelaskan atau berusaha menerangkan tentang proses-proses sosial, dialektika hegel ini selalu saja banyak dicopot dan dijadikan sebuah penjelasan. Proses sosial memang sepertinya bekerja seperti dialektika Hegel ini, namun bagi saya Dialektika Hegel cukup melenakan dan menjauhkan atas kekomplekan apa yang terjadi sebenarnya. Doktrin ini melemahkan, menyempitkan dan menyederhanakan realita Proses Sosial yang ada. Doktrin Hegel ini memang cukup menarik dan cukup memberikan suatu penjelasan yang keliatannya rasional.

Dikembangkan dari filsafatnya Kant yang tertulis di Critique of Pure Reason, Dialektika Hegel kemudian mereduksi dan mengembangkan cirinya sendiri. Sebagai sebuah penjelasan atas proses-proses tertentu, dialektika itu sendiri sudah jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Kant. Dialektik terdiri dari Ritme Tiga Hentakan: Thesis, AntiThesis dan Sintesis. Thesis dan Anti Thesis dikembangkan oleh hegel dari Antinomi-antinominya Kant yang notabene membahas mengenai batas-batas dari rasionalitas kita atau merupakan kritik atas rasionalitas kita (Critique of Pure Reason) yang mengatakan bahwa kita tidak akan mampu memahami sesuatu yang sifatnya seperti ketakberhinggaan dan bersifat dua kutub, bipolar. Kita akan selalu menemui jalan buntu (antinomi) yang berlawanan satu sama lain ketika berusaha memahami semisal waktu atau ruang. Silahkan search tulisan saya yang lain mengenai Antinomi Kant soal waktu dan ruang ini. Akan tetapi Hegel mengambil jalan lain. Sembari mengatakan bahwa Kant memang benar bahwa dalam banyak hal di kehidupan kita adalah merukpakan antinomi-antinomi akan tetapi diantara dua buah kutub tersebut bisa muncul gabungan dari dua kutub tersebut.

Dalam hal ini sebenarnya Hegel membuat antinomi Kant menjadi melebar dan menyentuh apa yang sebenarnya tidak ingin dikatakan oleh Kant. Hegel kemudian mengadopsi antinomi Kant ini dalam sebuah doktrin Dialektika Sosialnya. Thesis, merupakan sesuatu yang pada dasarnya berkebalikan dengan AntiThesis. Dalam sebuah ide AntiThesis merupakan lawan atau kutub yang berkebalikan dengan Thesis. Pro dan Kontra istilahnya. Namun ketika Thesis dan AntiThesis ini bergejolak dan bertemu di dunia nyata maka suatu saat akan timbul hal baru yang merupakan akomodasi atau hasil-hasil dari benturan keduanya (entah itu kompromi, win-win solution, perjanjian, atau ide2 baru, dan semua proses sosial atau budaya baru) yang ia sebut sebagai Sintesis. Sintesis kemudian bisa menjadi Thesis dan kemudian menemukan AntiThesisnya dan melahirkan Sintesis baru. Demikian seterusnya.

Setidaknya menurut Hegel Dialektika ini merupakan sebuah proses yang mati. Istilah kerennya Dialektika ini adalah Hukum Sosial yang berlaku untuk semua waktu dan semua tempat. Kalau dalam Fisika atau ilmu dikenal dengan Hukum Newton maka Dialektikanya ini merupakan Hukum Sosialnya. Seluruh Proses Sosial kemasyarakatan merupakan proses yang pada dasarnya berdialektika seperti ini, demikian kata Hegel. Tentunya ini merupakan dukungan dari Ide Sosial yang ia sebut sebagai Roh Masyarakat (Zeitgeis kalau tidak salah, tolong dikoreksi ya). Akan tetapi sebagai sebuah doktrin yang sudah mengurat akar di kalangan sosial (saya kok yakin setiap ilmuan sosial mengenal bahkan sering meyakini Doktrin ini), jika dianggap sebagai sebuah keimanan, hal ini akan membahayakan dan merupakan kekeliruan atau penyederhanaan yang berlebihan. Kecenderugan Historisis dalam Dialektika ini sangatlah tinggi. Seperti Kehendak Hukum Tuhan mungkin.

Ah, saya juga tidak begitu mengerti. Tolong dikoreksi dan dibantah jika saya keliru dalam memahaminya.

Salam Penuh Tanya

Haqiqie Suluh

Diterbitkan di:  on September 4, 2008 at 5:35 am Tinggalkan sebuah Komentar

Albert Einstein

Albert Einstein

Mengapa Sosialisme?


Versi Online: Situs Indo-Marxist—Situs Kaum Marxist Indonesia, Februari 2002
Kontributor: Soeripto
Versi Inggris: Why Socialism?–by Albert Einstein


Apakah pantas bagi seseorang yang bukan merupakan pakar di bidang persoalan sosial dan ekonomi mengemukakan pandangannya berkaitan dengan sosialisme? Karena berbagai alasan, saya yakin hal itu pantas saja dilakukan.

Pertama-tama marilah kita menganalisa pertanyaannya dari sudut pandang ilmu pengetahuan ilmiah. Terlihat memang tidak ada perbedaan metodologi yang esensial antara astronomi dan ekonomi: ilmuwan dari kedua disiplin ilmu itu mencoba untuk menemukan hukum-hukum umum yang dapat diterima sebagai sekelompok alasan yang dapat menjelaskan suatu fenomena dalam rangka untuk menghubungkan fenomena-fenomena tersebut dengan sejelas-jelasnya. Tapi pada kenyataannya beberapa perbedaan metodologi memang ada. Penemuan hukum-hukum umum dalam bidang ekonomi disulitkan oleh keadaan dimana pengamatan gejala-gejala ekonomi sering dipengaruhi oleh banyak faktor yang juga sangat sukar untuk dievaluasi secara terpisah. Selain itu, pengalaman yang telah terakumulasi sejak awal masa yang dikenal dengan periode ‘peradaban dari sejarah umat manusia’ telah banyak dipengaruhi dan dibatasi oleh sebab-sebab yang tidak bertujuan ekonomi semata. Contohnya, sebagian negara-negara besar dalam sejarah menunjukkan eksistensinya dengan menjajah. Para penjajah tersebut mengokohkan dirinya, baik secara hukum dan ekonomi, sebagai kelas yang istimewa pada negara yang dijajahnya. Mereka menetapkan secara sepihak monopoli kepemilikan tanah dan menunjuk seorang pemuka agama dari golongan mereka sendiri. Dalam mengatur pendidikan, pemuka agama telah membuat pembagian kelas dalam masyarakat menjadi institusi permanen, dan menciptakan sebuah sistem nilai yang mana masyarakat mulai –secara tidak sadar dalam banyak hal– diatur tingkah laku sosialnya.

Tetapi apakah dalam sejarah kita benar-benar telah dapat mengatasi apa yang Thorstein Veblen katakan sebagai “fase pemangsa” dalam perkembangan manusia. Fakta ekonomi yang dapat diamati dan juga merupakan bagian dari fase tersebut, bahkan hukum-hukum yang diperoleh dari fase itu tidak dapat diterapkan untuk fase-fase lain. Karena tujuan utama dari sosialisme tepatnya adalah untuk mengatasi dan jauh melampaui “fase pemangsa” dalam perkembangan manusia, ilmu ekonomi dalam perkembangannya kini dapat memberikan sedikit penerangan bagi masyarakat sosialis di masa mendatang.

Kedua, sosialisme diarahkan untuk mencapai etika-sosial (social-ethical) sebagai tujuan akhir. Walau bagaimanapun ilmu pengetahuan tidak dapat membuat tujuan akhir, dan bahkan, hanya dapat digunakan manusia secara bertahap: ilmu pengetahuan, utamanya, dapat memberikan cara bagaimana mencapai tujuan akhir tertentu. Tetapi tujuan akhir itu sendiri berada dalam pikiran seseorang yang memiliki etika idealis tinggi dan –jika tujuan akhir ini belum dikembangkan lebih jauh, akan tetapi penting dan kuat– diadopsi dan dikembangkan oleh banyak manusia yang, setengah sadar, menentukan evolusi masyarakat secara lambat.

Dengan alasan tersebut, kita harus tetap waspada untuk tidak terlalu berharap lebih pada ilmu pengetahuan dan metode ilmiah manakala pertanyaan tersebut berkaitan dengan persoalan manusia: dan kitapun seharusnya tidak menganggap para pakar sebagai satu-satunya yang berhak untuk mengemukakan tentang pertanyaan seputar organisasi sosial dalam masyarakat.

Banyak suara yang menyatakan beberapa saat ini bahwa masyarakat sedang melalui krisis, dimana stabilitasnya secara serius telah terganggu. Ini merupakan karakteristik dari suatu situasi dimana seseorang merasa tidak peduli atau bahkan menjadi tidak ramah apabila berada di dalam grup, besar atau kecil, dimana mereka bergabung. Dalam rangka untuk menggambarkan maksud saya, maka saya berikan pengalam pribadi saya. Baru-baru ini saya berdiskusi dengan seorang pria yang sangat pandai dan ramah, tentang ancaman adanya perang, yang menurut saya akan sangat membahayakan keberadaan umat manusia, juga saya tegaskan bahwa hanya sebuah organisasi supra-nasional yang dapat memberikan perlindungan dari bahaya tersebut. Kemudian rekan saya itu menjawab dengan santai dan tenang, bahwa: “mengapa kamu begitu menentang pemusnahan umat manusia?” Saya yakin bahwa berabad-abad yang lampau tidak ada seorangpun yang akan membuat pernyataan semacam ini. Ini merupakan pernyataan dari seseorang yang telah berjuang keras namun sia-sia untuk memperoleh keseimbangan dalam dirinya sendiri dan kurang lebih menjadi putus asa. Ini mrupakan ekspresi dari kesendirian yang menyedihkan dan terasing dari masyarakat banyak yang saat ini sedang menderita. Apa sebabnya? Adakah jalan keluarnya?

Memang mudah untuk memunculkan pertanyaan semacam itu, tetapi sulit untuk menjawabnya dengan jaminan apapun. Saya harus mencoba, biar bagaimanapun, semampu saya, walaupun saya sadar akan fakta bahwa perasaan dan kemampuan kita kadangkala bertentang dan tidak mudah dipahami, hal tersebut tidak dapat diungkapkan dengan cara yang singkat dan mudah.

Manusia, pada satu keadaan dan waktu yang sama, adalah seorang mahluk penyendiri dan mahluk sosial. Sebagai mahluk penyendiri ia berusaha untuk melindungi keberadaannya dan yang terpenting untuknya adalah memuaskan keinginan pribadinya, dan untuk mengembangkan bakatnya. Sebagai mahluk sosial, ia berusaha untuk memperoleh pengakuan dan dicintai oleh sesama manusia, untuk membagi kebahagiaan, untuk membuat nyaman mereka di kala sedih, dan untuk meningkatkan taraf hidup. Hanya saja eksistensi dari hal-hal tersebut sangat bergantung, kadang bertentangan, bergantung pada karakter pribadi manusia tersebut dan kombinasi khusus tersebut menentukan sampai sejauh mana seseorang dapat mencapai keseimbangan pribadi dan dapat memberikan sumbangan bagi kehidupan masyarakat. Sangat dimungkinkan bahwa kedua kekuatan ini, terutama digabungkan karena memang melekat padanya. Akan tetapi kepribadian yang pada akhirnya muncul sebagian besar terbentuk: oleh pengaruh lingkungan dimana manusia tersebut mengalaminya sendiri selama proses perkembangannya, oleh struktur masyarakat dimana ia dibesarkan, oleh budaya dari masyarakat, dan oleh penghargaan yang diperolehnya atas tingkah laku tertentunya. Konsepsi abstrak “masyarakat” bagi manusia perseorangan adalah keseluruhan hubungan langsung maupun tidak langsung atas masyarakat yang hidup pada masa yang sama atau pada masa sebelumnya. Individu tertentu dapat berpikir, merasakan, berjuang dan bekerja bagi dirinya sendiri, akan tetapi ia sebenarnya bergantung pula pada masyarakat –baik secara fisik, intelektual, dan emosional– sehingga sangat mustahil memikirkannya atau memahaminya di luar kerangka masyarakat. Adalah masyarakat yang menyediakan manusia dengan makanan, pakaian, rumah, perkakas, bahasa, pola pikir dan hampir sebagian isi dari pemikirannya: hidupnya menjadi nyata setelah bekerja dan berhasil sukses sejak jutaan tahun lampau dan hingga kini dimana semua hal tersebut tersembunyi di balik sebuah kata “masyarakat”.

Itu adalah bukti, karenanya, ketergantungan seseorang terhadap masyarakat adalah fakta alamiah yang tidak dapat dihilangkan–sama seperti kasus semut dan kumbang. Walau demikian, ketika seluruh proses kehidupan semut dan kumbang telah ditetapkan hingga sampai detil terkecil secara kaku, pola masyarakat dan hubungan satu sama lain dari umat manusia sangat beragam dan sangat mungkin berubah. Ingatan, kapasitas untuk membuat kombinasi baru, suatu anugrah berupa kemampuan komunikasi oral telah memungkinkan suatu perkembangan umat manusia dimana hal ini tidak ditentukan oleh kebutuhan biologis. Beberapa perkembangan ditunjukkan dalam tradisi, institusi dan organisasi, dalam literatur, keberhasilan penelitian dan rekayasa, dalam hasil-hasil kesenian. Ini menunjukkan bagaimana hal tersebut dapat terjadi bahwa, dalam keadaan tertentu, manusia dapat dipengaruhi hidupnya oleh tingkah lakunya sendiri, dan dimana dalam proses ini kesadaran berpikir dan keinginannya dapat pula ikut berperan.

Manusia sejak lahir memiliki, melalui keturunan, suatu struktur biologis yang mana harus kita pandang sebagai hak yang melekat dan tidak dapat dicabut, termasuk kebutuhan alamiah sebagaimana layaknya manusia pada umumnya. Selain itu, selama hidupnya, ia memiliki suatu struktur kebudayaan yang ia peroleh dari masyarakat melalui komunikasi dan melalui pengaruh-pengaruh dalam bentuk-bentuk lain. Struktur kebudayaan ini, seiring dengan perjalanan waktu, dapat berubah dan sangat ditentukan oleh hubungan antara seseorang dengan masyarakatnya. Antropologi modern, mengajarkan kita, melalui penelitian perbandingan atas kebudayaan primitif, bahwa tingkah laku sosial manusia dapat dibedakan, tergantung pada pola-pola budaya yang berlaku pada umumnya dan bentuk-bentuk organisasi yang mendominasi di masyarakat. Berdasarkan hal ini maka mereka berupaya untuk membantu bahwa banyak manusia yang mendasarkan harapannya: bahwa karena struktur biologisnya, manusia tidaklah bersalah, untuk membinasakan sesamanya atau berada di bawah kekejaman kekuasaan, adalah merupakan keyakinan pribadinya.

Bila kita bertanya pada diri kita sendiri bagaimana struktur masyarakat dan tingkah laku budaya manusia seharusnya diubah untuk membuat kehidupan manusia lebih memuaskan, kita harus selalu sadar bahwa terdapat kondisi-kondisi tertentu yang tidak dapat kita ubah. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, sifat alamiah manusia adalah, untuk kepentingan praktis, tidak dapat dirubah. Selain itu, teknologi dan perkembangan demografi pada beberapa abad terakhir telah menciptakan kondisi-kondisi yang saat ini telah ada. Pada dasarnya perbandingan kepadatan populasi yang menetap dengan jumlah barang yang tidak dapat digantikan guna kelangsungan hidupnya, jumlah pembagian distribusi tenaga kerja dan tingginya jumlah aparat yang produktif adalah suatu keharusan. Saat –dimana pada masa lalu tampaknya begitu damai– telah hilang untuk selamanya ketika individu atau kelompok-kelompok kecil dapat sepenuhnya mandiri. Ini hanya sedikit membesar-besarkan bahwa umat manusia membentuk suatu komunitas kehidupan dari produksi dan konsumsi.

Saat ini saya telah mencapai suatu titik dimana dapat saya indikasikan secara jelas bagi saya apa yang menjadi esensi dari krisis saat ini. Hal itu berkaitan dengan hubungan antara indivisu dengan masyarakat. Individu menjadi lebih sadar daripada sebelumnya akan ketergantungan kepada masyarakat. Tetapi ia tidak menyadari bahwa ketergantungan ini sebagai suatu aset berharga, suatu ikatan organik, suatu tenaga pelindung, tetapi lebih cenderung sebagai ancaman terhadap hal-hal alamiahnya, atau bahkan atas kondisi ekonominya. Lebih jauh, posisinya dalam masyarakat lebih ditekankan terus-menerus dalam bentuknya dimana lebih ditentukan oleh sifat egoisnya, ketimbang ditentukan oleh alur sosialnya, yang mana secara alamiah memang lebih lemah, yang terus menerus mengalami pembusukan. Seluruh umat manusia, apapun posisinya di masyarakat, mengalami penderitaan dalam proses pembusukan. Tanpa disadari mereka terpenjara dalam egoismenya sendiri, perasaan takut, kesendirian dan secara naif takut kehilangan, sederhana dan tidak rumit menjalani hidup. Menusia dapat menemukan arti dalam kehidupan, pendek dan berisiko sebagaimana layaknya, hanya melalui pengabdian dirinya dalam masyarakat.

Anarki ekonomi dari masyarakat kapitalis sebagaimana yang terjadi saat ini, menurut pendapat saya adalah sumber utama dari kejahatan. Kita lihat sebelumnya terdapat komunitas besar dari suatu produsen suatu anggota yang terus berupaya agar dapat memperoleh buah dari hasil kerja samanya, tanpa adanya paksaan, tetapi secara keseluruhan berada dalam jaminan hukum yang berlaku. Dalam kaitan ini, penting untuk disadari bahwa tujuan produksi -sebagaimana disebut, seluruh kemampuan produktif yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang kebutuhan utama sebagaimana pentingnya pula membuat barang-barang penting lainnya- menurut pendapat saya adalah kepemilikan pribadi dari para individu.

Untuk memudahkan, dalam diskusi selanjutnya saya akan menyebut “pekerja” kepada semua yang tidak ikut memiliki apa yang menjadi tujuan-tujuan produksi walaupun hal ini tidak cukup berhubungan dengan pengertian dalam bentuk umum. Pemilik dari tujuan-tujuan produksi berada dalam posisi untuk membeli tenaga kerja dari para pekerja. Dengan menggunakan tujuan-tujuan produksi, para pekerja menciptakan barang-barang baru yang menjadi milik para kapitalis. Hal utama dari proses ini adalah hubungan antara apa yang pekerja telah hasilkan dengan apa yang telah ia peroleh (upah), dua hal ini menjadi ukuran dalam kaitannya dengan nilai sesungguhnya. Sepanjang kontrak kerja adalah ‘bebas’, apa yang diperoleh pekerja tidak ditentukan oleh nilai sesungguhnya dari barang-barang yang dihasilkannya, tetapi oleh kebutuhan minimum dan oleh kebutuhan kapitalis akan tenaga kerja dalam kaitannya dengan jumlah pekerja yang bersaing untuk bekerja. Hal ini penting untuk dipahami bahwa walaupun pada tataran teori pembayaran para pekerja tidak ditentukan oleh nilai dari hasil produksinya.

Modal swasta cenderung untuk terus terkonsentrasi pada beberapa tangan, terutama karena kompetisi di antara para kapitalis, dan terutama karena perkembangan teknologi dan pertumbuhan pembagian kerja menumbuhkan formasi unit-unit yang lebih besar dengan pengeluaran semakin kecil. Hasil dari perkembangan-perkembangan ini adalah oligarki dari modal swasta sebagai kekuatan besar yang tidak dapat diawasi secara efektif walau oleh mayarakat politik yang terorganisir secara demokratis sekalipun. Hal ini benar, sebab anggota dari badan-badan legislatif merupakan pilihan dari partai-partai politik, yang sebagian dibiayai atau paling tidak dipengaruhi oleh kapitalis swasta yang mana, untuk kepentingannya, memisahkan antara pemilih dengan yang dipilih. Konsekuensinya adalah wakil rakyat tersebut kenyataannya tidak sepenuhnya melindungi kepentingan kelompok populasi yang tidak diistimewakan. Lebih jauh, sejalan dengan kondisi saat ini, kapitalis swasta tidak dapat dihindari mulai mengontrol, baik langsung maupun tidak, sumber-sumber utama dari informasi (pers, radio, pendidikan). Hal ini tentunya menjadi sangat sulit, dan bahkan dalam banyak kasus menjadi mustahil, bagi seseorang warga negara untuk dapat memperoleh kesimpulan yang obyektif dan dapat secara cermat menggunakan hak-hak politiknya.

Situasi yang terjadi dalam dunia ekonomi yang berbasiskan kepemilikan modal swasta memiliki karakteristik yang terdiri dari dua prinsip utama: Pertama, tujuan-tujuan produksi (modal) yang dimiliki oleh swasta dan pemiliknya menempatkannya sejauh ia memandang hal itu pantas. Kedua, kontrak kerja itu bebas. Tentu saja, tidak ada sesuatu yang merupakan masyarakat kapitalis murni dalam hal ini. Dalam hal tertentu, patut pula diperhatikan bahwa pekerja, melalui perjuangan politik yang panjang dan pahit, telah sukses dalam mengamankan apa yang disebut perbaikan bentuk atas “kontrak kerja bebas” bagi kategori pekerja tertentu. Tetapi secara keseluruhan, saat ini ekonomi tidak ada bedanya dengan kapitalis “murni”.

Produksi ditujukan untuk memperoleh keuntungan, bukan untuk dipakai. Tidak ada suatu ketentuan bahwa semua yang mampu dan mau bekerja dapat selalu berada di posisi untuk memperoleh pekerjaan; sebuah ‘pasukan pengangguran’ selalu saja ada. Pekerja berada dalam keadaan cemas takut kehilangan pekerjaannya. Karena pengangguran dan upah buruh yang rendah tidak dapat menyediakan pangsa pasar yang menguntungkan, produksi barang-barang konsumsi dibatasi, dan penderitaan besar adalah konsekuensinya. Perkembangan teknologi seringkali menyebabkan lebih banyak pengangguran daripada meringankan beban pekerjaan. Motif untuk keuntungan, dalam kaitannya dengan kompetisi di antara kapitalis, bertanggung jawab atas ketidakstabilan dalam akumulasi dan penggunaan modal yang pada akhirnya meningkatkan beban depresi yang parah. Kompetisi tanpa batas menjadikan penyia-nyiaan pekerjaan dan menyebabkan kepincangan kesadaran sosial individu sebagaimana telah saya uraikan sebelumnya.

Kepincangan individu ini saya anggap sebagai kejahatan terburuk dari kapitalisme. Seluruh sistem pendidikan kita menderita karena setan ini. Suatu sikap kompetisi yang berlebihan tertanam dalam benak setiap pelajar, yang diajarkan semata-mata untuk memperoleh kesuksesan sebagai persiapan untuk masa depannya. Saya yakin hanya ada satu jalan untuk menghilangkan setan jahat ini, yaitu dengan menciptakan suatu ekonomi sosialis, disertai dengan sistem pendidikan yang dapat diorientasikan untuk mencapai tujuan sosial. Dalam bentuk ekonomi, tujuan-tujuan produksi dimiliki oleh masyarakat itu sendiri dan digunakan dengan terencana. Suatu ekonomi terencana, yang menyesuaikan produksi sesuai kebutuhan masyarakat, akan membagi pekerjaan untuk diselesaikan oleh semua yang mampu bekerja dan dapat menjamin tujuan hidup seluruh manusia, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak. Pendidikan dari setiap individu, dalam rangka menambah kemampuan lahiriahnya, akan mencoba untuk mengembangkan dalam dirinya rasa tanggung jawab atas sesama umat manusia di tempat yang lebih baik dan sukses dalam masyarakat kita saat ini.

Walau demikian, ada suatu hal penting untuk diingat bahwa ekonomi yang terencana belumlah langsung menjadi sosialisme. Suatu ekonomi terencana dapat disertai dengan perbudakan individu secara lengkap. Pencapaian sosialisme membutuhkan solusi yang sangat sulit atas beberapa problem sosial politik: Bagaimana mungkin, dalam pandangan kekuatan politik dan ekonomi terpusat yang sangat berpengaruh, untuk mencegah para birokrat menjadi terlalu berkuasa dan terlalu percaya diri? Bagaimana hak-hak individu dapat dilindungi dan dengan demikian keseimbangan demokratis dengan kekuasaan birokrasi dapat dijamin?

Kejelasan akan tujuan dan permasalahan sosialisme adalah sangat signifikan dalam masa peralihan ini. Sejak, dalam kondisi saat ini, diskusi yang bebas dan tidak terbendung mengenai masalah-masalah ini telah menjadi suatu hal yang sangat tabu, saya berpendapat landasan dari majalah ini akan sangat penting bagi kepentingan publik.


Diterbitkan di:  on at 5:31 am Tinggalkan sebuah Komentar

MARXISME DAN REVISIONISME


1. Kaum Hegelian Kiri atau Kaum Hegelian Muda – wakil sayap-sayap Kiri Mazhab Hegel – suatu aliran filsafat idealis di Jerman. Kaum Hegelian Muda tidak mengakui hukum-hukum obyektif dari perkembangan sosial, peranan produski materiil dalam perkembangan masyarakat, ketidakterelakkannya perjuangan klas  di dalamnya. Mereka mencerminkan ideologi liberalisme burjuis Jerman tahun-tahun 30-40 an abad XIX, sifat pengecut dari burjuasi Jerman, ketidakberdayaannya dalam perjuangannya melawan tonggak-tonggak-alas feodal. Seluruh kegiatnnya terbatas  pada frase-frase revolusioner, ancaman-ancaman yang ditujukan pada alamat klas-klas yang berkuasa, bujukan-bujukan terdap mereka.

2.        Proudhonisme – aliran Sosialisme burjuis kecil yang bermusuhan terhadap Marxisme, yang diberi nama menurut nama ideolognya, seorang anarkis Perancis, Proudhon. Sambil mengkritik hak milik besar Kapitalis dari sudut pendirian burjuis kecil, Proudhon mengimpi-impikan untuk mengabadikan hak milik kecil perseorangan, mengusulkan untuk mengorganisasi bank “Rakyat” dan bank “Pertukaran”, dengan perantaraan mana kaum buruh seolah-olah dapat memperoleh alat-alat produksinya sendiri, menjadi tukang-tukang kerajinan tangan dan menjamin penjualan hasil-hasil produksinya “secara adil”. Proudhon gagal memahami peranan histori dari proletariat, bersikap negatif terhadap perjuangan klas, terhadap revolusi proletar dan diktatur proletar. Ia mengingkari keharusan akan negara dari sudut pendirian anarkisa. Proudhonisme telah dikenakan kritik yang mengahncurkan dalam karya Marx Kemiskinan Filsafat.

3.        Bakuninisme – Suatu aliran yang diberi nama menurut nama ideolog anarkisme M.A. Bakunin. Kaum Bakuninis telah melancarkan perjuangan tabah melawan teori Marxis dan taktik gerakan buruh. Azas pokok Bakuninisme adalah pengingkaran terhadap sebarang negara, termasuk juga diktatur proletariat. Mereka itu gagal memahami peranan histori-dunia dari proletariat. Menurut pendapat kaum Bakuninis, suatu perkumpulan revolusioner  yang rahasia harus mengorganisasi  huruhara-huruhara Rakyat yang akan mengakibatkan pembatalan negara dengan segera.

Sesudah menyelunduk ke dalam Internasionale I, Bakunin mengajukan di hadapan dirinya suatu tujuan untuk merebut pimpinan atas organisasi itu dalam tanganya dan mulai melakukan perjuangan melawan Marx dengan tak segan-segan memakai cara-cara manapun dalam hal ini. Karena kegiatan yang  erusak organisasi itu, pada Kongres di Den Haag dalam tahun 1872 Bakunin dipecat dari Internasionale I.

4.        Positivisme, Sebagai suatu aliran filsafat, timbul di Perancis dalam tahun-tahun 30 an abad XIX. Pendirinya, Auguste Comte, mempersamakan positivisme dengan pengenalan akan dunia secara ilmiah, yang tugas pokoknya terbatas hanya pada penggambaran dari luar hasil-hasil peninjauannya dengan panca-indera. Comte mencoba membuktikan bahwa positivisme  berdiri “di atas” materialisme, maupun idealisme. Dengan memaksudkan ciri khas positivisme ini, Lenin menulis: “Maszab ini merupakan suatu bubur yang menydihkan, suatu partai tengah dalam filsafat, yang mengacaukan jurusan-jurusan materialis dan idealis pada setiap masalah tertentu”

Eugen Dühring  — filsuf dan hali ekonomi Jerman, ideolog burjuis kecil. Pandangan-pandangan filsafat Dühring merupakan suatu campuran dari positivisme, materialis metafisik dan idealisme. Pandangan-pandangan Dühring yang memperoleh sokongan di kalangan sebagian kaum Sosial-Demokrat Jerman, telah dikritik oleh Engels dalam bukunya Anti-Dühring.

5.        Yang dimaksud ialah Bernsteinisme – suatu aliran oportunis dalam Sosial-Demokrasi Internasional, yang bermusuhan terhadap Marxisme, yang timbul pada akhir abad XIX di Jerman dan yang diberi nama menurut nama seorang penyambung lidah revisionisme yang paling terang-terangan, Eduard Bernstein.

Bernstein mengingkari teori Marxis mengenai perjuangan klas dan ajaran tentang takterelakkannya keruntuhan kapitalisme, tentang revolusi Sosialis dan diktatur proletariat. Bernstein meproklamasikan perjuangan untuk reforma-reforma , yang ditujukan untuk “memperbaiki” keadaan ekonomi kaum buruh di bawah kapitalisme, sebagai satu-satunya tugas dari gerakan buruh: dia mengajukan suatu rumusan oportunis “gerakan adalah segala-galanya, tujuan terakhir adalah nihil”. Pandangan-pandangannya telah mengakibatkan pengkhianatan langsung terhadap kepentingan-kepentingan klas buruh.

6.        Yang dimaksudkan ialah kaum Eser (kaum Sosialis Revolusioner) – suatu partai burjuis kecil di Rusia yang timbul pada akhir tahun 1901 – permulaan tahun 1902 sebagai akibat penggabungan pelbagai macam grup dan lingkaran Narodnik.

Dalam program agrarianya kaum Eser menuntut diserahkannya tanah menjadi milik seluruh masyarakat, pembagian tanah secara sementara di antara kaum tani dan menamakan tindakan-tindakan ini “sosialisasi” tanah. Lenin membuktikan bahwa, pertentangan dengan pendapat kaum Eser, pelaksanaan program ini akan tidak mengakibatkan peralihan ke Sosialisme, karena penghapusan hakmilik perseorangan hanya atas tanah “tidak menghapuskan baik kekuasaan kapital, maupun kemiskinan massa Rakyat”.

Kaum Eser menolak peranan memimpin dari proletariat dalam revolusi, ide diktatur proletariat. Taktik teror perseorangan yang dilaksanakannya membawa kerugian besar pada gerakan revolusioner.

7.        Kaum neo-Kantian – wakil-wakil aliran reaksioner dalam filsafat burjuis, yang timbul pada pertengahan abad XIX di Jerman. Di bawah semboyan “kembali ke Kant”, kaum neo-Kantian mengkhotbahkan kelahiran kembali idealisme Kant, melakukan perjuangan melawan materialisme dialektika dan histori.

Kant, Immanuel – filsuf Jerman, pendiri idealisme klasik Jerman.

8.        Hegel, George Wilhelm Friedrich – filsuf Jerman terbesar, idealis obyektif. Filsafat Hegel emnjadi puncak idealis Jerman pada masa akhir abad XVIII – permulaan abad XIX. Pengolahan dialektika secara mendalam dan dari segala segi menjadi jasa bersejarah Hegel; dialektikanya menjadi salah satu sumber teoritis bagi materialisme dialektika.

K. Marx dan F. Engels, setelah mengolah kembali secara kritis dialektika idealis Hegel,    meciptakan dialektika materialis yang mencerminkan hukum-hukum yang paling umum dari perkembangan dunia obyektif dan pemikiran manusia.

9.        Lihat katasusulan pada Kapital, jilid I.

10.     Plekhanov G.M. – tokoh terkemuka dari gerakan buruh Rusia dan internasional, propagandis Marxisme yang pertama di Rusia. Dia pada tahun 1883 di Jenewa telah mendirikan organisasi marxis Rusia pertama – grup “Pembebasan Kerja”, telah tampil melawan revisionisme dalam gerakan buruh internasional.

Sejak tahun 1883 sampai tahun 1903 Plekhanov menulis serentetan kerja yang telah memainkan peranan besar dalam mempertahankan dan mempropagandakan pandangan dunia materialis.

Tetapi sudah pada masa itu pada Plekhanov terdapat kesalahan-kesalahan yang serius yang menjadi benih-benih pandangan-pandangan yang serius yang menjadi benih-benih pandangan Mensyewiknya di masa kemudian. Sesudah Kongres ke dua PBSDR (1903) Plekhanov mengambil pendirian pendamaian dengan oportunisme, dan kemudian menggabungkan diri pada kaum Mensyewik (lih. Keterangan no. 22).

11.     Bogdanov, A dan Bazarov, B.A. – orang-orang Sosial Demokrat Rusia, filsuf-filsuf, mencoba untuk merevisi Marxisme dengan bertolak dari titikpandangan idealis. Lenin menyebutnya “revisionis-revisionis yang bersifat neo-Berkeleyan dan neo-Humis, karena pandangan-pandangannya dalam filsafat pada hakekatnya menghidupkan kembali idealisme subyektif filsuf-filsuf Inggeris abad XVIII, Berkeley dan Hume.

12.     Böhn-Bawerk, Eugen – ahli ekonomi burjuis, salah seorang wakil apa yang disebut “Mazhab Austria” dalam ekonomi politik. Wakil-wakil Mazhab ini menginterpretasikan hukum-hukum ekonomi dari titik pendirian idealis.

13.     Yang dimaksud ialah Komune Paris tahun 1871 – diktatur proletariat pertama di dunia, dan pemberontakan bersenjata di Moskwa dan di kota-kota lain pada bulan Desember tahun 1905 waktu revolusi Rusia pertama (tahun-tahun 1905-1907)

14.     Kaum Kadet ( partai Konstitusionil-Demokratis) – partai utama burjuasi liberal-monarkis di Rusia, didirikan pada bulan Oktober tahun 1905; ke dalam susunannya masuk wakil-wakil burjuasi, kaum tuantanah dan kaum intelek burjuis.

15.     Millerandisme –aliran oportunis dalam Sosial-Demokrasi yang disebut begitu menurut nama seorang sosialis-reformis Perancis, Millerand, yang pada tahun 1899 masuk dalam pemerintah burjuis reksioner Perancis dan menyokong politik anti-Rakyatnya. Sambil mengkarakterisasi Millerandisme  sebagai revisionisme dan keregatan, Lenin menunjukkan, bahwa kaum sosial-reformis, dengan masuk dalam pemerintah burjuis, pasti ternyata menjadi bonek-boneka, suatu penyelimutan bagi kaum kapitalis, sebuah alat penipuan massa Rakyat oleh pemerintah itu.

16.     Yang dimaksud ialah kaum Sosial-Demokrat Jerman, yang tampil melawan revisi terhadap Marxisme.

17.     Lihat Keterangan no. 5

18.     Kaum Guesdeis – aliran revolusioner Marxis dalam gerakan Sosial Perancis pada akhir abad XIX – permulaan abd XX, yang dipimpin J Guesde dan P. Lafargue.

Dalam tahun 1901 pemihak-pemihak perjuangan klas revolusioner, yang dikepalai oleh J.Guesde, menyatukan diri dan membentuk Partai Sosialis dari Perancis (anggota-anggotanya juga mulai disebut menurut nama pimpinannya sebagai kaum Guesdeis)

Kaum Jaurèsis – pemihak-pemihak seorang Sosialis Perancis, J. Jaurès, yang pada tahun-tahun 90-an abad yang lalu bersama-sama dengan A. Millerand membentuk suatu grup “Kaum Sosialis Merdeka” dan yang memimpin saya reformis yang Kanan dari gerakan Sosialis Perancis. Pada tahun 1902 mereka itu membentuk Partai Sosialis Perancis yang berpendirian reformis.

Kaum Broussis (kaum Posibilis) (P. Brousse, B.Malone, dll) – aliran reformis burjuis kecil yang timbul dalam tahun-tahun 80-an abad XIX dalam gerakan Sosialis Perancis dan yang membelokkan proletariat dari pemakaian cara-cara revolusioner dari perjuangan. Kaum Posibilis telah membentuk “Partai buruh sosial-revolusioner”, mereka menolak program revolusioner dan taktik revolusioner proletariat, mengaburi tujuan-tujuan Sosialis dari gerakan buruh, mengajukan untuk mengatasi perjuangan kaum buruh dengan “apa yang mungkin” (possible), dari sinilah nama partai itu.

Lebih kemudian kebanyakan kaum Posibilis masuk ke dalam Oartai Sosialis Perancis yang reformis, yang didirikan di bawah pimpinan J. Jaurès pada tahun 1902.

Pada tahun 1905 Partai Sosialis dari Perancis bergabung dengan Partai Sosialis Perancis yang reformis itu.

19.     Federasi Sosial-Demokratis Inggeris. –didirikan pada tahun 1884. Bersama-sama dengan kaum reformis dan kaum anarkis, ke dalam Federasi Sosial Demokratis Inggeris termasuk juga sebuah grup kaum Sosial-Demokrat revolusioner, pemihak-pemihak Marxisme, yang menyusun sayap Kiri dalam gerakan Sosialis Inggeris. F. Engels mengkritik Federasi Sosial-Demokratis karena dogamatisme dan sekatarisme, karena ia terpisah dari gerakan buruh Inggeris yang massal dan mengabaikan kekhususan-kekhususan gerakan itu. Pada tahun 1907 Federasi Sosial-Demokratis diberi nama partai Sosial-Demokratis; partai itu pada tahun 1911, bersama-sama dengan elemen-elemen Kiri dari Partai Buruh Merdeka, membentuk Partai Sosialis Inggeris. Pada tahun 1920 partai ini, bersama-sama dengan Grup Persatuan Komunis, telah memainkan peranan utama dalam pembentukan Partai Komunis Inggeris.

Partai Buruh Merdeka Inggeris –suatu organisasi reformis yang didirkan pada tahun 1893. Ke dalam PBM termasuk anggota-anggota “trade union baru” dan serentetan serikatburuh yang lama, wakil-wakil kaum intelek dan burjuasi kecil.

PBM berpendirian burjuis reformis, sambil menaruh perhatian pokoknya pada bentuk-bentuk perjuangan parlementer dan persekongkolan-persekongkolan parlementer dengan Partai Liberal. Dengan mengkarakterisasi Partai Buruh Merdeka , Lenin menulis bahwa “dalam kenyataannya ia adalah partai oportunis yang selalu tergantung pada burjuasi”, bahwa ia “ hanya ‘tidak tergantung’ pada Sosialisme, sedangkan pada liberalisme ia sangat tergantung”.

20.     Dalam  Partai Buruh Belgia, Brouckère dan pemihak-pemihaknya terus menyatakan pendapat melawan ikut sertanya kaum Sosialis dalam pemerintah burjuis reaksioner, dan melakukan perjuangan melawan Vandervelde yang meimpin kaum revisionis.

21.     Kaum integralis – pemihak-pemihak apa yang disebut Sosialisme “integral” (utuh), yang merupakan suatu variasi Sosialisme burjuis kecil. Yang memimpin kaum Integralis ialah Enrico Ferri. Kaum Integralis yang merupakan aliran sentris dalam Partai Sosialis Italia, dalam tahun-tahun 1900-an mengenai beberapa masalah telah melakukan perjuangan melawan kaum reformis yang berpendirian oportunis ekstrim dan yang bekerja sama dengan burjuasi reaksioner.

22.     Kaum Mensyewik – kaum Sosial-Demokrat Rusia yang oportunis. Dalam Kongres ke II PBSDR pada tahun 1903 telah terjadi perpecahan Partai atas sayap revolusioner yang terdiri dari pemihak-pemihak Lenin, dan sayap oportunis. Waktu pemilihan organ-organ sentral Partai kaum Sosial-Demokrat revolusioner mendapat mayoritas suara (bolsyinstwo, dalam bahasa Rusia), sedangkan kaum oportunis – minoritas (mensyenstwo). Dari sinilah nama-nama “Bolsyewik” dan “Mensyewik”.

Kaum Mensyewik tampil melawan hegemoni klas buruh dalam revolusi dan juga melawan persekutuan klas buruh dengan kaum tani revolusioner. Sesudah kekalahan revolusi tahun-tahun 1905-1907 di Rusia kebanyakan kaum Mensyewik mulai menuntut untuk melikwidasi Partai Revolusioner illegal dari klas buruh dan membentuk sebagai gantinya suatu partai legal yang harus menolak perjuangan revolusioner dan menyesuaikan kegiatannya pada syart-syarat rezim reaksioner.

23Sindikalisme Revolusioner” – suatu aliran burjuis-kecil dan semi-anarkis yang timbul dalam gerakan buruh di serentetan negeri Eropa Barat pada akhir abad XIX.

Kaum Sindikalis mengingkari keharus perjuangan politik klas buruh dan peranan pimpinan dari partai. Mereka beranggapan bahwa serikatburuh-serikatburuh (sindikat-sindikat) dengan jalan mengorganisasi pemogokan umum kaum buruh, tanpa revolusi, dapat menggulingkan kapitalisme dan mengambil dalam tangannya pengurusan atas produksi.

23.     Labriola Artruro – tokoh politik Italia, ahli hukum, ahli ekonomi, pengarang serentetan buku mengenai teori sindikalisme, di mana ia berusaha menyesuaikan programnya, yaitu apa yang disebut “sindikalisme revolusioner”, pada Marxisme sambil “memperbaiki “ Marxisme.

24. Lagardelle, Hubert – tokoh politik burjuis kecil Perancis, seorang anarko-sindikalis. Ia adalah pengarang serentetan buku mengenai sejarah anarko-seindikalisme di Perancis.


Diterbitkan di:  on September 3, 2008 at 6:32 am Tinggalkan sebuah Komentar

Kaum Nomor “Dua”

Kaum Nomor “Dua” ???

Kaum Perempuan pernah mengambil bagian dalam revolusi
Merebut hak dalam emansipasi perempuan
Dari perjuangan R.A Kartini hingga pengorbanan Bunda Theresa
Mengejar evolusi strata seperti kaum utopis

Era lama pertanda kematian mode monoton siklus perempuan
Yang kini disinggahi budaya metropolis
Sebuah kesenjangan bagi mereka yang tidak mampu
Pilihan kebebasan ke kiri dan ke kanan bagi perempuan
Tak ada lagi kekangan dan pingitan zaman Siti Nurbaya
Menanggalkan jasad perempuan yang selalu jadi sasaran

Tapi….
Kaum perempuan jangan terhanyut pada gelora muda yang sia-sia
Perjuangan tidak menunggu kita untuk maju ke depan
Belajarlah menolak hegemoni yang selalu membelakangi dan mempermalukan perempuan
Sampai terlahir jiwa yang perkasa yang siap mencapai kesetaraan

Diterbitkan di:  on Agustus 31, 2008 at 8:41 am Tinggalkan sebuah Komentar

tirani maut temukanlah sebuah karya yang mampu menjernihkan hidup ini hidup yang penuh dengan dusta dan penghianatan yang dipercaya telah berhianat yang berjanji sering ingkar tak ada manusia yang ada dan perlu dipercaya yang lama kini kian jelas tentang apa dan siapa kini telah jelas kapitalis kini bebas merampas dan menindas segan akan pemerintah tidak… lebih baik jadi apatis kepala akan pecah dan menjadi gila kalau berpikir semua pembuat kecewa bagi jiwa dan pikiran walau perlu untuk takut akan maut janji yang terbersit dalam dada semua telah hilang oleh materi pengangkat derajat dan penyempurna kekuasaan derita yang kita terima selama hidup kesakitan dan air mata yang kita tuntut ini adalah yang dulu pernah kita berikan dengan tawa dan kegembiraan demi kesenangan sesaat semua yang kita pertahankan telah kita gadaikan senyum itu tak akan ada lagi seperti yang di ucapkan bapak Marx yang dituduh komunis tapi karyanya tetap di puji bukankah itu lebih baik kita semua telah di bohongi oleh para pendusta penghuni segala zaman untuk apa menuntut dan bertanya karena kita pun sama seperti mereka yang tetap mencari materi dengan iri hati dan kebencian tak setuju akan keberhasilan orang lain tak pernah puas akan apa yang telah dimilikinya segala yang kita tahu simpan saja sambil menunggu ajal ini karena itulah yang terbaik bagi semua hilang dan musnah biar tuhan yang menentukan siapa yang akan tetap hidup dalam dunia dan negara ini tapi jangan kita lagi…. terdapat sebuah dasar dari setiap tindakan dan perilaku kita yaitu tujuan

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –

temukanlah sebuah karya yang mampu menjernihkan hidup ini

hidup yang penuh dengan dusta dan penghianatan

yang dipercaya telah berhianat

yang berjanji sering ingkar

tak ada manusia yang ada dan perlu dipercaya

yang lama kini kian jelas

tentang apa dan siapa kini telah jelas

kapitalis kini bebas merampas dan menindas

segan akan pemerintah

tidak… lebih baik jadi apatis

kepala akan pecah dan menjadi gila

kalau berpikir

semua pembuat kecewa bagi jiwa dan pikiran

walau perlu untuk takut akan maut

janji yang terbersit dalam dada

semua telah hilang oleh materi pengangkat derajat dan penyempurna kekuasaan

derita yang kita terima selama hidup

kesakitan dan air mata yang kita tuntut ini

adalah yang dulu pernah kita berikan dengan tawa dan kegembiraan

demi kesenangan sesaat semua yang kita pertahankan telah kita gadaikan

senyum itu tak akan ada lagi seperti yang di ucapkan bapak Marx

yang dituduh komunis tapi karyanya tetap di puji

bukankah itu lebih baik

kita semua telah di bohongi oleh para pendusta penghuni segala zaman

untuk apa menuntut dan bertanya karena kita pun sama seperti mereka

yang tetap mencari materi dengan iri hati dan kebencian

tak setuju akan keberhasilan orang lain

tak pernah puas akan apa yang telah dimilikinya

segala yang kita tahu simpan saja sambil menunggu ajal ini

karena itulah yang terbaik bagi semua

hilang dan musnah

biar tuhan yang menentukan siapa yang akan tetap hidup dalam dunia dan negara ini

tapi jangan kita lagi….

ada sebuah dasar dari setiap tindakan dan perilaku kita yaitu tujuan

Diterbitkan di:  on at 8:40 am Tinggalkan sebuah Komentar

sebuah kekecewaan

kemana

KITA ADALAH ORANG DALAM SATU BARISAN

YANG PANJINYA MASIH TERGULUNG

Kita adalah orang dalam satu barisan, yang panjinya masih tergulung

pada suatu hari nanti, kan berkibar lagi, ditiup angin dari gemunung.

Panji ini, sudah ditulisi dengan darah dan nyawa putra putri Nusantara

serta nama-nama mereka, yang dianiaya dan diamankan oleh tentara.

Malam ini, Thukul ada di sini, kudengar jantungnya berdegup

di musim gugur, bulan terang, ketuntang tram sayup-sayup.

Kau dengar bukan, lonceng becak dan diannya meliuk dibelai angin

aku melihat, bunga-bunga Thukul sedang menggirik tembok beringin

Jutaan tulang-belulang, akan bangkit dari kuburan yang berserakan

berdemonstrasi menuntut, pembunuh mereka diseret ke pengadilan.

Bung, ayo Bung, siapa lagi, bagi cita-cita mereka acungkan tinju

aku telah teken janji, untuk yang hidup dan yang mati tak menentu.

Diterbitkan di:  on at 8:37 am Komentar (1)